“DIA”

========================

Hasil karya EI Pratama.

Menuliskan sebuah cerita mini untuk gambar ilustrasi yang kuberikan padanya.

Luar biasa.

========================

Entah bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Aku tersentak mendapati tiba-tiba tubuhku dengan ajaib sudah berada di sini. Kudapati darah menjamah hampir tiap inchi tuksedoku. Pandanganku samar, kakiku gontai dan kurasakan nyeri serta perih luar biasa di leherku yang masih juga meneteskan darah segar hingga kini. Aku dihadapkan pada sebuah jalan setapak lembab, sedikit tergenang sisa hujan, berpagar bangunan-bangunan menjulang dengan lolongan dan jeritan pemecah senyap, kian membumbui gigil malam.

Jam di tanganku telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku pun mulai coba mengingat rangkaian kejadian 2 jam lalu. Pada pukul 23.00, aku masih di perjamuan temanku yang sedang merayakan promosi jabatannya di sebuah hotel lumayan ternama di kotaku. Seperti acara-acara perjamuan yang jamak terjadi, tetamu datang dengan pakaian necis, mirip gerombolan apel Washington yang acap kulihat di film-film Hollywood. Pria wanita berbaur dengan gelas berisi wine beragam warna, musik mengalun indah mengajak berdansa, serta hamparan wanita wanita penggoda berpakaian serba minim.

Aku duduk di sebuah sofa merah hati. Ada beberapa lilin mungil di meja dan tatapan hangat wanita muda di seberang sana.

“Oh indahnya,” gumamku sambil memalingkan tatapan.

Dress hitam, rambut hitam panjang terurai, wajah aduhai.

“Hi, kamu sendirian?”

Sebuah suara sangat dekat dengan telingaku, intonasi dan aroma nafasnya sontak memaksaku bersegera menoleh pada sumbernya, “Oh,ternyata dia,” gumamku.

“Iya, sendiri,” jawabku sedikit terbata.

Kemudian dia duduk tepat di sebelahku. Kami pun saling lempar kosakata, berpagut dan sahut kalimat, sesekali saling merenda demi pagutan di ranah kata. Ternyata namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Hangat, sangat hangat, kami bercakap seolah teman lama yang terpisah karena sesuatu dan lain hal di luaran sana. Percakapan mengalir khidmat menyusuri sungai-sungai yang seolah kami hafal tiap lekuknya.

Lalu… Di tengah percakapan semakin akrab, dia beranjak dari kursinya. Tanpa kata, dia berjalan ringan. Setelah sekian langkah, dia memalingkan wajahnya ke arahku.

“Isyarat?” Aku pun bergegas.

Tak lama langkahnya terhenti di sebuah bangku taman kota yang cukup rindang, aku pun menghampirinya. Kutatap cakrawala malam itu lewat celah-celah dedaunan, ternyata sedang purnama. Belum sempat kulontarkan kata, tiba-tiba kulihat dua buah taring menyembul dari mulutnya. Tanganku terkunci entah oleh apa, yang kuingat hanya kedua tangannya melingkari leherku, serta taring beringas keluar dari mulutnya…

 

By. EI Pratama

——————

“Suatu Saat Nanti”

Aku mawar hitam dan kau tak akan dapat merubahnya,

ketika di sini tangan CINTA membelaiku dalam keheningan malam.

Jika dirimu adalah sebuah busur,

ijinkanlah aku menjadi anak panahmu,

agar dapat kurasa tali cintamu walau sesaat.

Dan suatu saat nanti, hanyalah suatu saat nanti,

aku ingin kau bawa aku ke dalam keheningan malam,

di antara rimbun dan pekatnya pegunungan di sudut kehidupan,

agar dapat ku sulam kembali puing hatiku yang tlah terburai,

ke dalam indahnya cinta yang kau kirim lewat angin malam.

Namun angin berhembus ke arah yang bukan padaku,

dan aku masih saja menatapmu di dalam diam,

menebar cinta bersama peluk bayanganmu.

- MH -

“Rasa Tanpa Nama”

Ketika awan kirimkan mendungnya,
aku dapat nikmati rintik yang belum menetes,
karena tetesannya hanya ada dalam bayangan bisu,
hingga senja menjemput bayangan, mendung masih tenang.

Adakah aku di sana?

Lalu panas mendera dan hausku tak tertahan,
aku sungguh menanti hujan membasahi kering dahaga,
agar sedikit memuai lelah karenanya.

Adakah kau di sini?

Dan aku berlari menanggalkan segala resah,
menyongsong hujan di ujung batas senja,
tak kusangka ternyata badai menyambut di sana,
dan aku terpaku pada derasnya air mengguyur tubuhku,
hingga langkahku limbung tak tahu ke mana hendak berteduh.

Saat kau katakan kau harus melangkah.

- MH -

“Remah”

Rasa ini menggelepar indah,

tatkala kabut menyatu dengan mimpi,

dalam keheningan diiringi kuduk menari lembut,

andai ada sedikit kehangatan untukku.

 

Aku bisa lupa siapa diriku,

tapi aku tak akan lupa siapa pemilik diriku,

di keheningan malam aku selalu bertemu denganNya,

walau tlah kau pangkas semua daya dan rasa.

 

Rinduku tak pernah berbalas,

biarlah dan malam ini Dia datang penuhi rinduku,

menyatukan rasa yang tak pernah ada dalam rasaku sejenak lalu,

berjalanlah saja tak usah kembali.

 

Cintaku terasa sia-sia olehnya di lembah itu,

dan malam ini Dia mencintaiku lebih dari aku mencintaiNya,

lalu rasa itu menutup katup hati yang lama menganga terburai luka.

- MH -

 

“Menakar Hari”

|

Menakar hari,,, untuk sebuah pagi.

Ada cakar mengintip di sela risau,

menghembus tirai hari dihanyut kelam,

mengusik goresan silam menyeret tenggelam,

dalam kubangan dosa luka dan doa-doa.

Kukaburkan dengan berhala.

|

Satu noktah tercatat.

Oleh hitamnya senjakala cinta.

Dua ruang terhenyak ingin menyapa.

Satu di antaranya terpekur pilu.

|

Apapula daya ruang-ruang.

Semua tertara pada ketetapanNya.

Suka duka tangis tawa,

Nostalgia bersisa luka.

|

Hatiku melepuh jiwanya terkelupas.

Aku rindu dia menunggu.

Sampai kapan.

Hembusan nafas menakar hari.

|

- MH + EIP -

Ilustrasi by Image Google

“Mawar Hitamku”

 

MAWAR HITAMKU

By. Azie Nasrullah
To: dear my mom Kit Rose
=====================

Kelopak, terjatuh ke bumi,
terinjak kumbang, saat ia datang.
Duri tak berani menusuk, lemah
madu dihisap begitu saja.
Putik dan benang sari hanya berbisik,
kutitipkan bunga muda di kakimu: kumbangku.
=
“Bukan, jangan puji aku,
aku bukan mawar merah,
yang merekah di bawah pelangi,
sehabis gerimis manis tadi pagi.
Aku hitam, tak pantas kau genggam.”
=
Tidak! Gertakku…
Kau mawarku, tetap milikku.
Merah itu darah
dan, aku tak suka.
Aku tak mengenalmu,
baru saja kusapa.
=
Lalu kubaca aksara yang terucap dalam tatap.
Kueja, kata demi kata, meski tak pandai, tetap kucoba.
Dapat! Aku tahu siapa kau.
Ya, dulu… pernah aku bertarung
memperebutkanmu, dengan mereka
bajingan yang tak suka kelopakmu.
=
Katanya kau tak ada, tak pantas ‘tuk dihias.
Lalu kutanya, apa salahnya?
Itu lambang kejahatan, jawabnya…
=
Aku tertawa, lalu membuang muka.
Kupetik kau di taman tanpa bebatuan,
embun menjadi saksi setelah turun tadi pagi,
bertanggakan pelangi hinggap di ilalang,
kutusukkan kau ditanganku, sebelum akhirnya
aku percaya: kau ada, dan aku
menang, mendapatkanmu,
Cinta….|


|===|