Wajah Pias

Tak kuhiraukan angin berhembus semakin kencang,
dan aku tetap berjalan.
Ingin kubuang bayangan lelaki dalam hati,
namun selalu datang dalam kegelapan malam dan mimpi,
menemani dengan irama hitamnya.

Ingin ku tak peduli wajah kekasih yang menginginkan pergi dariku,
namun perjalanan itu lebih cepat dari yang kusangka,
menghunjam lebih pedih dari yang kurasa,
dan aku masih berjalan,
menekuni langkah kaki di jalanan beku dan berdebu.
~~~~~

Sore itu aku sedikit heran melihat wajah Rimba berseri-seri, sangat jauh berbeda dengan biasanya, yang kebanyakan kulihat wajahnya yang pucat dan lesu. Terutama pada saat dia merengek dan memelas untuk kuijinkan kembali menggunakan narkoba.

Kami membuat kesepakatan, hubungan kami akan terus berlangsung jika Rimba bersedia menghentikan kebiasaan buruknya akrab dengan barang mematikan itu. Untuk menghargai kesepakatan itu kuijinkan sesekali dia menyentuhnya. Untuk cinta kami, aku bersedia menemaninya berjuang. Aku masuk ke dalam dunianya agar aku dapat juga mengerti bagaimana sulitnya berhenti dan mengerti bagaimana mencintai dia.

Perlahan Rimba mulai mengurangi dan menjauhi lingkungan yang menyeretnya ke lingkaran itu. Kuajak dia mengalihkan perhatiannya pada lomba balap motor, karena motor inilah hobby dan kesenangannya yang bisa kuselami dan kusukai. Kami mengisi waktu kosong dengan mengadakan lomba. Antara kami berdua.

Di sini kami merajut cinta dan rindu dari jalanan berdebu. Beradu kecepatan melaju di atas kendaraan beroda dua. Motor kami melaju dengan kecepatan tinggi, mencoba memahami lajunya cinta pada masing-masing hati. Di antara perjanjian dua pecinta dalam pengembaraan hati, kami membuat kesepakatan, yang sampai di ujung terlebih dahulu adalah pemilik cinta sejati.

Sampai pada sore itu, kami berangkat ke tempat biasa kami adu cepat, Rimba dengan wajah berseri dapat mengalahkan aku. Kebahagiaan jelas terurai di wajahnya yang tampan. Walau pucat, masih jelas terlihat garis tegas dan ketampanan wajah Rimba.
“Aku yang sampai duluan sayang. Dan akulah yang terbukti lebih mencintaimu. Ingat itu.”

Itulah kalimat terakhir dari Rimbaku, yang menyatukan kematian dengan cinta kami. Ketika suatu hari di arena balap milik kami berdua, aku terkalahkan, hal yang biasanya tidak pernah terjadi.

Rimba mengalahkan aku dalam pertarungan adu balap motor hari itu. Aku tertawa gembira karena baru kali ini dia mengatakan cintanya padaku. Walau tidak puitis namun aku menyukainya. Kami memang bukan pecinta yang pandai merayu satu sama lain, tapi kami mengumandangkan cinta dan rindu kami meniti hembusan angin dan daun kering di tepian jalan.
“Aku harap kamu tak pernah melupakan ini Rose.”
“Apa?”
“Aku mengalahkanmu hari ini.”
“Baru sekali. Aku telah mengalahkanmu pada tiap akhir pekan, kita hitung sekarang cinta siapa yang lebih dahsyat.”
“Aku memang tidak akan dapat menandingi cintamu yang luar biasa, tapi hari ini aku telah membuktikan padamu betapa aku juga mencintaimu.” kata Rimba seraya mendekatiku dan memegang tanganku dengan bangga, “Aku menang Rose, dan kemenangan ini telak, karena kamu tak akan dapat mengalahkan aku lagi. Ini bukti bahwa aku benar-benar mencintaimu.”
“Iya, sudah berulang kali kamu mengatakannya, tak perlu kau ulangi lagi sampai aku tak dapat mengartikan apa maksudnya ini.”
“Kamu tak perlu mengartikan apa pun Rose. Cinta ini tanda terima kasih juga dariku.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk semuanya. Kamu temani aku melawan badai. Kamu temani aku menjauh dari jarum mematikan dan obat-obat beracun itu.”
“Kamu sudah berjanji untuk berhenti.”
“Dan kamu rela menemaniku agar aku berhenti.”
“Kita akan buktikan bahwa kamu bisa.”
“Mengapa aku merasa terlambat Rose?”
“Lakukan saja Rimba. Jangan takut.”
“Bersamamu aku pasti bisa Rose.”
“Dan hari ini kamu menang.”
“Ya, aku menang. Tanpa obat-obatan terlarang itu. Walau aku ingin, aku tak akan menyentuhnya lagi.”

Aku tertawa melihat betapa gembiranya dia hari itu mengalahkanku. Motor kami rebah begitu saja di lapangan sepi. Namun tawaku segera lenyap saat kutatap wajah Rimba semakin pias. Matanya memerah dan keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya yang bergetar hebat. Bibirnya menggigil semakin pucat, sepucat wajahku sendiri. Mungkin.
“Rose, tolong aku.”
“Aku sudah membuangnya Rimba, maafkan aku.”

Rimba berusaha menarik tanganku yang juga sudah bergetar dan sakit. Aku meraba kantong celanaku dan tak kutemukan apa pun di sana. Ya. Tak ada satu pun sesuatu yang dapat menghentikan kering dan sakit yang mencekik leher dan nadi kami.
“Rose, tolong aku Rose. Aku nggak bisa.” rintih Rimba semakin mencekik leherku.

Aku ingin mengatakan padanya betapa aku mencintainya. Aku ingin mengatakan padanya betapa aku ingin menolongnya. Tapi bahkan aku tak dapat menolong diriku sendiri. Tangan dan kaki Rimba kulihat samar mulai lemas. Dan semakin samar kulihat tubuhnya menggeliat terjungkal di tanah.
“Ya Tuhan, jangan biarkan dia menyerah Tuhan. Aku mohon tolonglah dia. Aku mohon Tuhan.”

Aku ingin menjerit memanggil segala yang dapat mendengar, namun leherku tercekat, kering, dan semua menjadi gelap. Aku merayap dalam kegelapan. Mencari pijakan atau sekedar pegangan. Namun hampa, semua kosong, dan tanganku tak dapat menggapai apapun.

Dengan tubuh lemas kupaksakan diriku naik di belakang Rimba yang sudah sangat kalut. Aku tak merasakan apapun, hanya suara motor kencang menderu, lalu gelap.

~~~~~

“Rose, apa kamu bisa mendengarku Rose? Bangunlah sayang, jangan biarkan lelap menguasaimu Nak.”

Lamat-lamat aku mendengar suara seseorang memanggil. Apakah Rimba? Aku ingin segera membuka mataku untuk menolongnya, tapi mata dan mulutku tak dapat kugerakkan. Aku ingin menggeliat dan meraba mencari Rimba, tapi tangan dan bahkan kulitku pun tak dapat kugerakkan. Balutan di sekujur tubuhku terasa nyeri sekali.
“Aku ingin melihat Rimba ya Tuhan. Aku ingin memeluknya,” jeritku tanpa ada yang dapat mendengar.

Lalu tangan dingin mulai kurasakan menyentuh pipiku. Mataku perlahan dapat kubuka dan Rimba tersenyum padaku. Kulihat dokter dan keluargaku saling berjabat tangan dan menangis. Aku tak ingin tahu apa yang terjadi. Aku hanya sedang menikmati senyum Rimba, dengan wajah piasnya. Aku hanya ingin menghapus kesakitan di wajahnya.
“Aku di sini Rose. Maaf membawamu dalam kecelakaan itu.”
“Aku rela Rimba, walau pun tidak bisa ikut bersamamu. Pergilah jika kau harus. Kekasih kita menunggumu.”
“Aku masih ingin bersamamu.”
“Sampai kapan sayang? Aku sudah menemanimu pada satu babak cinta kita. Kau sudah bebas sekarang. Kelak kita bertemu lagi.”
“Aku takut Rose. Di sini gelap dan aku sendiri. Aku ingin kau temani aku pada babak cinta kita yang lain.”
“Peluk aku Rimba. Peluk aku sampai kau tak takut lagi.”

Pintaku dengan mataku, lalu kurasakan kehangatan menjalar dalam tubuhku. Aku tak bertanya mengapa orang-orang tak mempedulikan kehadiran Rimba. Aku tak bertanya mengapa kedua orang tua Rimba menangis dan memintaku untuk bersabar atas kepergiannya. Aku juga tak bertanya ketika tubuh Rimba ditutup kain putih lalu dibawa keluar dari ruangan itu. Rimba sudah pergi untuk selama-selamanya, tapi hanya jasadnya, wajah piasnya kini sedang memelukku.
“Selamat ya Rose. Kamu bisa melewati semua dengan gemilang,” Dokter dengan kaca mata tebal itu memberiku selamat.

Matanya terlihat merah entah karena terharu melihat kematian Rimba dan selamatnya diriku, atau karena lelah. Entahlah. Aku hanya sedang menikmati pelukan hangat dan ketakutan Rimba. Ingin kuhibur dia sampai takutnya hilang.
“Sayang sekali, Rimba tak sekuat kamu Rose.”

Mamanya Rimba menitikkan air matanya, memelukku dengan tubuh bergetar. Wajahnya pucat dan lelah, namun disimpannya dalam mata tuanya yang masih penuh kasih sayang.
“Maafkan Rimba Tante. Dia sudah mencoba bertahan. Kecelakaan itu tidak kami sengaja.”
“Jangan katakan itu sayang, Mama mengerti.”
“Saya ucapkan terima kasih untuk Rimba ya Tante.”

Perempuan itu segera memelukku lebih erat. Aku merasakan damai di hati Rimba. Kulihat wajah piasnya tersenyum padaku. Dipeluknya Mamanya dengan penuh haru, namun perempuan itu tak menyadarinya. Yang dia rasakan hanya hembusan angin. Dengan tatapan nanar matanya mengitari ruangan. Bibirnya bergetar memandangku. Aku hanya bisa menatap lembut dan tersenyum padanya.
“Kamu merasakan sesuatu Rose?”
“Apa Tante?”
“Seperti ada hembusan angin kencang menerpaku.”
“Kamar ini tertutup Tante.”
“Aku tahu. Aku sedang merasakan sesuatu.”

Aku diam saja masih tersenyum padanya. Kukirimkan kehangatan lewat mataku, agar perempuan itu dapat merasakan kebahagiaan Rimba di sampingnya. Kulihat Rimba juga tersenyum, menikmati dunia barunya. Menatapku dengan gembira.
“Aku merasakan kehadiran Rimba.”
“Saya mengerti Tante.”
“Iya, benar Rose, aku merasakannya. Rimba ada di ruangan ini.”

Aku masih diam dalam senyum. Perempuan itu mengitari ruangan dengan matanya. Air matanya mengalir semakin deras menatap tiap sudut. Lalu menatapku lama. Kemudian memelukku dengan kuat.
“Maukah kamu memanggilku Mama?”

Aku hanya sanggup mengangguk dan tersenyum. Nafasku pedih melihat sinar kehilangan di mata wanita setengah baya itu. Sepedih yang kurasakan saat kedua orang tuaku meninggalkanku dalam kecelakaan mobil sepuluh tahun yang lalu. Rimba tersenyum dan menatapku bahagia.
Kupejamkan mataku menikmati pelukan dan cintanya. Kurekam dalam lembar cintaku saat bibir pucatnya menelusuri tubuhku dan hantarkan getaran pilu. Perjalanan cinta kami selesai pada satu halaman, namun jerat cintanya menghitamkan kelopak cintaku yang telah menghitam. Tak akan kutinggalkan wajah piasnya yang menghiba, kesakitan memohon nyanyian Kekasih Hati.

~~~~~

Aku duduk gelisah di ruang tamu mewah itu. Bibi yang sudah kukenal akrab di rumah itu menyajikan minuman dingin untukku. Senyumnya sopan dan hangat. Masih dengan senyum santunnya menggangguk padaku dan segera berlalu meninggalkanku sendiri.

Hari ini secara khusus Mamanya Rimba mengirimkan sopirnya untuk menjemputku ke tempat kost. Kedatangan pak Ahmad di pagi buta membuat pikiranku sedikit gelisah. Lalu buru-buru aku mempersiapkan diri.

Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan denganmu sayang.
Datanglah ke rumah bersama Pak Ahmad.
Mama menunggu.
Salam sayang.

Begitu pesan yang ditulisnya di secarik kertas yang dibawa pak Ahmad, sopirnya. Dan aku harus ijin dulu ke kantor karena pesan itu terlihat sangat penting.
“Halo sayang. Maaf ya, Mama baru selesai mandi.”

Mamanya Rimba keluar dari kamarnya dengan wajah berseri. Tampak segar dengan rambutnya yang masih setengah basah. Harumnya sangat akrab di hidungku ketika dia memelukku. Rasanya seperti sedang memeluk Mamaku sendiri. Kehangatan, kelembutan dan kasih sayangnya benar-benar telah mengisi kekosongan yang lama kurasakan.
“Terima kasih sudah memenuhi panggilan Mama ya.”
“Ada apa Mama memanggilku?”

Tanyaku tak sabar bercampur heran. Kulihat wajahnya cerah sekali, tak ada tanda-tanda kesedihan atau kecemasan. Tapi Mamanya Rimba hanya menatapku sambil tersenyum. Lalu duduk dengan tenang. Aku hanya menatapnya kebingungan. Menunggu.
“Apa kabarmu sayang?” tersenyum.
“Baik Ma. Satu minggu ini di kantor sibuk sekali, jadi nggak sempat ke sini. Maaf ya Ma.”
“Nggak apa-apa, yang penting kamu sehat.”
“Makasih Ma.”
“Mama hanya sedang berpikir belakangan ini.”
“Mengenai apa Ma?”
“Tentang kamu.”
“Saya?” tanyaku makin heran.
“Ya, kamu.”

Mamanya Rimba berdiri, berjalan ke meja di sudut ruangan, dan mengambil foto Rimba yang tak pernah dipindahkan letaknya. Ditatapnya foto itu sambil dielusnya lembut bingkai kaca itu. Lalu berjalan ke arahku.
“Sudah lebih dari dua tahun Rimba pergi.”

Aku hanya dapat menundukkan wajahku mendengarnya. Ya, sudah lebih dari dua tahun. Aku tak pernah menghitungnya lagi semenjak Rimba tak pernah lagi berjalan bersamaku. Aku tahu dia sudah menemukan jalan dan kebahagiaannya di sana. Dan aku pun ikut bahagia untuknya, walau hatiku sepi untuk itu.
“Dan Mama liat kamu belum juga memperkenalkan seseorang pada Mama.”
“Maksud mama?”

Aku tak pernah menyangka pertanyaan itu akan disampaikan padaku. Dan baru kusadari aku tak pernah mencoba menghadirkan wajah baru dalam hariku setelah kepergian Rimba. Aku melihat sinar kekawatiran pada mata tua itu, di balik senyum lembutnya.
“Berkali-kali kamu bilang Rimba sudah bahagia di sana Rose. Dan Mama mempercayainya. Karena Mama juga merasakannya. Tapi kenapa sampai sekarang Mama belum melihat kebahagiaan di matamu?”

Aku benar-benar tak dapat menjawab pertanyaan itu. Aku juga tak dapat menjelaskan pada diriku sendiri, apakah aku bahagia atau tidak. Semua kulalui dengan terlalu wajar. Aku masih terkesima dengan pertanyaan Mama yang tiba-tiba menjadi pertanyaanku juga, saat kulihat Rimba berdiri di pintu ruang tengah dan berjalan dengan santai ke ruang tamu di mana kami sedang berbicang. Aku melompat berdiri dan berlari menghampiri sosok itu. Hatiku menjerit gembira melihat senyum di matanya, yang baru kusadari ternyata sudah lama kurindukan.
“Rimba?”

Tapi betapa terkejut aku ketika kami saling berdekatan. Bukan. Dia bukan Rimbaku. Rimba tak pernah mengenakan pakaian serapi itu. Rimba tak pernah memakai pakaian dengan warna cerah. Dan Rimba selalu akan memelukku dari belakang jika dia melihatku terlebih dahulu. Tapi mata itu. Mata itu milik Rimba. Ya, senyum di mata itu senyum Rimba.
“Ma, siapa dia Ma?”

Aku menjauh dari pemuda itu dan airmataku sudah memenuhi wajahku, kutatap Mama penuh tanda tanya. Baru kusadari betapa sakit kehilangan Rimba. Dan baru kusadari juga aku tak pernah mengeluarkan airmata untuknya.
“Mama tak bisa menipuku, dia bukan Rimbaku,” jeritku tak terkendali.

Tiba-tiba nyeri kurasakan di dadaku, dan semakin menghunjam saat sepasang tangan memelukku dari belakang. Kulihat Mama sudah berderai airmata. Direntangkannya tangannya padaku dan segera aku berlari ke dalam pelukannya.
“Mama tahu kamu sangat kehilangan sayang. Mama tahu. Tapi kenapa semua kau simpan sendiri?”

Aku membiarkan Mama mencium, mengusap wajahku dan kembali memelukku. Aku membiarkan juga tangan itu memelukku dari belakang. Lalu kami duduk bertiga di kursi panjang, kutatap sekali lagi mata itu, dan airmataku kembali mengalir deras.
“Dia Raka sayang, saudara kembar Rimba. Selama ini kami tak pernah menceritakan keberadaannya karena Raka tak mau.”
“Lalu selama ini?”
“Raka tinggal di Belanda bersama Neneknya. Pada saat kalian kritis waktu itu, Rimba sempat menitipkan pesan, agar matanya diserahkan ke Raka, dan meminta Raka untuk menggantikan posisinya, agar Rimba bisa selalu berada di sisimu.”
“Jadi?”
“Ya sayang, Raka selama ini tak dapat melihat dari lahir.”
“Dan aku tadinya tak mau menjadi bayang-bayang Rimba di sisimu.”
Suara berat itu tiba-tiba sudah berada di dekatku. Tubuhku kaku dan terasa mengejang untuk sesaat. Suara itu, suara yang tak asing bagiku. Yang telah lama tak kudengar.
“Lalu aku kembali ke Belanda setelah operasiku berhasil. Tapi di sana aku tak pernah tenang sedetik pun. Tiap hari aku menatap fotomu di dalam agenda Rimba yang kubawa. Dan aku tak dapat lagi mencegah kaki ini untuk berlari mengejarmu.”

Aku menatapnya tak percaya. Matanya, suaranya, membuatku hidup kembali. Mama menghapus airmatanya. Ku tangkap ada tatapan penuh harap di mata itu. Aku tak tahu harus berpikir dan berkata apa. Lalu hanya pertanyaan bodoh yang keluar dari bibirku.
“Apa yang harus kukatakan?”
“Kalahkan aku di arena balap kita.” jawab Raka.

Tak kusangka tawaku berderai bercampur airmata. Kulihat Mama juga berurai airmata di sela tawanya. Ruangan itu terasa hidup, seperti hatiku yang baru kusadari telah lama tak bernafas lagi.
Kami menyusuri jalanan arena balap kami, mengembalikan hari yang lama menghilang, bersama debu di tepian yang kini tak beku lagi.*****

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google
(Kaki langit nan basah dan hitam tidak untuk ditinggalkan, namun keringkan dengan cintamu.
Genggamlah tangan hatiku untuk resah dan galaumu, kan kuberikan ribuan kekuatan cinta.
Lalu kita rangkai kembali sayap patah, agar langkahmu tak henti menyisir tepian asa)

2 responses to “Wajah Pias

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s