Kabut Pembatas

Terpuruk di antara puing-puing cinta,
mencoba tegak berdiri dalam alunan rindu,
sampai batas waktu dentingkan irama syahdunya,
hempaskan kesadaran dari tidur panjang dalam cinta bisu,
kabut pembatas iringi langkah hati mencari cinta entah kemana.

Dan kutemukan serpihan bayangan cinta
di antara lembut dan buaian malam
namun tak dapat kuraih
dan semakin jauh
lalu hilang
bersama kabut pembatas antara hitam dan hitam dari mawarku
~~~~~

Stasiun kereta yang tidak terlalu jauh dari rumahnya itu tampak semakin dekat. Kali ini ditempuhnya dengan berjalan kaki dari rumahnya menuju ke sana. Menyisir angin sore adalah hal yang menyenangkan buat gadis lincah itu. Dan membuang gelisah hati pada sepoi angin adalah yang terakhir buatnya, setelah sepanjang malam tekun menatap wajah tak jelas dalam tiap mimpinya, yang selalu datang menyapa dengan senyum hangat.

“Nanti sampai di Jakarta telepon Mama ya sayang,” pesan Mamanya sebelum gadis itu melambaikan tangannya untuk salam perpisahan.

Seperti yang selalu dilakukannya pada setiap akhir bulan, saat dia pulang melepas rindu pada kedua orang tuanya. Wilona sore itu berpamitan untuk berjalan kaki saja menuju stasiun kereta.
“Tenang Ma, Wila pasti memberi kabar. Wila berangkat ya Ma. Sampai akhir bulan depan Mama sayang,” mencium tangan Mamanya.
“Hati-hati ya.”

Wilona berjalan menyusuri jalanan sepi menuju stasiun kereta api di tengah kota. Kid Joe menemaninya membuang sepi dengan Everything About You mengalun dari tape recorder kecil yang tersembunyi di dalam tas punggungnya, beradu dengan hatinya yang sedang galau. Tapi tetap didengarkannya lagu itu sambil melangkah riang menyusuri jalan.

Di seberang jalan dilihatnya seorang lelaki juga sedang berjalan sejajar dengannya. Kepalanya lurus memandang ke depan, langkah kakinya ringan namun Wilona merasakan ada yang janggal di dalam langkah itu. Entah apa. Dan pandangan lelaki itu lurus ke depan namun Wilona merasa lelaki itu sedang menatap dirinya. Seperti dalam mimpinya.

Ya, wajah itu seperti wajah dalam mimpi yang sering dialami Wilona. Bertemu dengan lelaki tak dikenal, menatapnya dari jauh, dengan senyum dan wajah yang terlihat selalu samar. Membuatnya selalu bertanya-tanya. Dan mencari.

Tak dihiraukannya lelaki itu, Wilona tekun menyusuri jalanan sepi sampai di depan stasiun kereta, diam-diam memasuki gerbong kereta, dan menikmati udara dingin di dalamnya sambil menatap ke luar jendela. Tak lama kereta melaju perlahan menyusuri rel melewati perbukitan dan sawah-sawah menguning. Pemandangan indah membuat rasa kantuk semakin kuat menjalar.

Hari semakin sore, kegelapan menyelimuti tepian sawah dan pegunungan. Wilona memejamkan matanya, berusaha menyatu dengan irama syahdu dari dalam tasnya. Tiba-tiba gadis itu tersentak oleh degup jantungnya yang mendadak bertalu, mengoyak ketenangan yang dengan susah payah diraihnya.

Bersamaan dengan itu kereta berhenti secara mendadak, Wilona menatap keluar jendela dan matanya terbuka lebar menyaksikan apa yang dilihatnya. Kantuknya seketika lenyap berganti dengan wajahnya yang memutih dan dingin. Dilihatnya lelaki yang sebelumnya berjalan sejajar dengannya menuju stasiun, kini berada di luar jendela kereta api, menatapnya dengan pandangan menghiba.

Wilona menatap wajah pias itu dengan perasaan bergolak. Wajah yang selalu hadir dalam mimpinya, kini berada di luar jendela kereta, sedang menatapnya. Dengan tatapan matanya yang begitu memelas, seolah sedang menahan kesakitan.

“Apalagi ini ya Tuhan?” bisiknya gemetar, “Wajah itulah yang selalu hadir dalam mimpiku. Aku melihatnya dengan tak jelas di jalan tadi.”
“Jangan takut. Namaku Atma,” sapa lelaki itu tersenyum pucat dari balik kaca jendela.

Bibirnya tidak bergerak sedikit pun, namun Wilona dapat mendengarkan suaranya. Dengan tubuh menggigil Wilona meneliti penumpang yang duduk di deretan kursinya, tak ada yang menunjukkan mereka juga melihat wajah di kaca itu. Matanya kembali pada wajah pias di jendela.
“Kau yang kulihat berjalan bersamaku tadi adalah manusia.”
“Ya.”
“Dan ternyata wajahmu juga yang selalu hadir dalam mimpiku.”
“Betul.”
“Lalu mengapa sekarang kau berada di luar jendela, terbang mengiringi laju kereta?”
“Sebentar lagi kau akan tahu.”
“Apa?”
“Aku akan menemuimu lagi di kehidupanku yang lain.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kau akan mengerti dalam perenunganmu nanti.”
“Jelaskan sedikit pada keraguanku.”
“Aku akan selalu bersamamu.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku akan menjadi dirimu dan berada di dalam dirimu.”
“Untuk apa?”

Lelaki itu hanya menatapnya sendu, menjawab pertanyaannya dengan diam, perlahan mendekat dan semakin dekat pada wajahnya. Wilona merasakan kuduknya meremang, namun hatinya mendadak pilu. Lelaki itu menghilang perlahan, bagai kabut terburai angin. Berbaur dengan kulit wajahnya yang semakin dingin dan pucat. Lalu Wilona merasakan hatinya kosong. Sebagian dari dirinya ikut menghilang bersama kabut itu.

Mendadak hatinya dihinggapi perasaan cinta, rindu dan kehilangan yang tak terlukiskan. Airmatanya mengalir perlahan, menatap keremangan di luar jendela, dan menatap hitam.
“Ada yang tertabrak kereta,” tiba-tiba seseorang berteriak.

Diiringi keributan kecil petugas kereta api sambil berjalan dengan cepat, hilir mudik dari gerbong ke gerbong. Wilona tak dapat melihat dengan jelas ketika beberapa orang menggotong tubuh seseorang ke dalam kereta, tapi wajah lelaki itu kembali muncul di balik kaca. Tanpa kabut, dan menatapnya masih dengan tatapan menghiba. Namun terhias senyum tipis di bibirnya yang pucat.

Gadis itu menatap satu per satu penumpang lain yang sedang sibuk mengerumuni korban. Tak ada satu pun yang terlihat mengetahui kehadiran pemuda di jendela itu. Semua terlihat biasa, hanya terkejut oleh kecelakaan itu. Wilona berusaha mengusir degup jantung dan ketakutannya dengan berdiri, ikut bergabung dalam kerumunan penumpang. Dilongokkannya kepalanya berusaha melihat wajah korban, lalu bibirnya memekik perlahan, matanya terbelalak menyaksikan wajah yang berlumuran darah di lantai gerbong itu.

“Adik mengenalnya?” tanya petugas kereta.
Wilona menggeleng.
“Wajahnya pucat sekali Mbak. Duduk saja kalau nggak bisa melihat darah,” sambut penumpang lain.

Wilona tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Dirasakannya tubuhnya bergetar dan dingin. Perlahan berjalan kembali ke tempat duduknya sambil mengumandangkan Nyanyian Surgawi di hati. Diliriknya wajah lelaki itu masih di jendela, tersenyum memelas.

“Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Mengapa Kau perlihatkan ini padaku? Aku tak sanggup melihat wajah itu lagi. Dan mengapa hatiku kini begitu kesakitan dan sepi?” Wilona berbisik dalam hati.

Lalu tubuhnya limbung dan terjatuh. Penumpang berpindah sibuk dengan tubuh Wilona. Mereka ramai saling berbisik lalu mengangkat tubuh Wilona dan membaringkannya di kursi.
“Rupanya Mbak ini nggak tahan lihat darah, langsung pingsan gini.”
“Siapa yang bawa minyak kayu putih?”

Dan kegaduhan mereda saat Wilona perlahan membuka matanya. Seorang lelaki tua sudah duduk bersila di lantai kereta di sebelahnya. Tersenyum menenangkan lalu bertanya perlahan.
“Apa yang Adik lihat?”

Wilona ragu untuk menjawab. Matanya melirik  ke jendela kaca diikuti pandangan lelaki tua di dekatnya.
“Dia sudah pergi.”
“Bapak melihatnya?”
“Ya. Jangan takut, saya tahu apa yang Adik lihat.”
“Tubuhnya tergeletak tak bernyawa tertabrak kereta, kenapa saya melihatnya di kaca jendela?”
“Lalu apa lagi?”
“Saya bertemu dengannya dalam perjalanan ke stasiun tadi siang.”

Lelaki tua itu menghela nafas panjang, berdiri perlahan, memandang tajam pada Wilona, lalu berkata dengan lembut.
“Berikan saya alamat dan nomor Adik yang bisa dihubungi, nanti kita bicara dalam situasi yang lebih tenang.”

Wilona menuliskan alamat dan telepon rumahnya, lalu memberikannya pada lelaki tua itu, yang segera menghilang ke gerbong lain. Wilona duduk perlahan dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menerawang ke luar jendela, mencari bayangan pias dalam kegelapan. Tiba-tiba hatinya merintih bersama jeritan peluit panjang kereta, mencari bentuk wajah pias di antara kabut pembatas. Kerinduan yang menyakitkan menerpa hatinya, membuatnya berharap wajah itu hadir kembali. Dan sunyi.
~~~~~

“Wilona, kamu sudah bangun?”
Rohayati, mamanya Wilona duduk di tepi pembaringan putrinya, mengusap tangannya lembut sambil tersenyum hangat. Sudah dua hari gadis itu berada di rumah, menepati janjinya untuk bertemu dengan lelaki tua yang dijumpainya di kereta.
“Sudah Ma, hanya rebahan saja, masih malas mau keluar kamar.”
“Bapak tua yang kamu ceritakan kemaren datang, sekarang kamu cepat bersiap lalu temui beliau.”
“Oya? Sekarang di mana Ma?”
“Di ruang tamu sedang bicara sama Papa. Ternyata dia itu tetangga kita Wil. Tapi sering merantau, jadi yang kita kenal cuma anak dan istrinya.”

Wilona tertegun menatap Mamanya bercerita. Wajah itu menatapnya dari dalam hatinya sambil tersenyum. Kemudian hatinya merasakan nyeri dan berdetak kencang.
“Wilona mandi dulu ya Ma.”

Rohayati tersenyum lalu meninggalkan kamar putrinya. Wilona merasakan ada yang sedang mengawasinya tapi tak tahu siapa dan hatinya mendadak berdebar. Wajah lelaki di kereta itu kembali dilihatnya dalam hatinya, kini tersenyum hangat menatapnya.

Wilona merasakan hatinya menghangat bersama tatapan itu, lalu menatap bening air di kamar mandi, merasakan indahnya cinta yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Hatinya membisikkan rindu yang sama di balik kabut, menerpa wajah riangnya berangsur sendu. Menanti sebuah waktu untuk bertemu.
~~~~~

“Saya tak akan menemui Anda lagi setelah ini Wilona, dan ini sudah saya jelaskan pada kedua orang tua Anda.”
“Mengapa begitu?”
“Karena tugas saya sudah selesai.”
“Saya tidak mengerti.”
“Lelaki yang Anda temui itu adalah murid saya di padepokan.”
“Jadi Bapak mengenalnya?”
“Ya, dan dia sudah memilih Anda untuk mengarungi kehidupan pada masa pencariannya.”
“Bisakah Bapak jelaskan lebih rinci, mengapa saya melihatnya berjalan bersama saya sore itu, mengapa dia bunuh diri, lalu mengapa juga dia, jiwanya maksud saya, menyapa saya.”
“Dan sampai sekarang masih bersama Anda?”
“Ya, saya seperti selalu bersamanya. Kadang mengajak saya untuk merasakan rindu dan cinta yang luar biasa indahnya. Tapi saya tidak tahu pada siapa rindu dan cinta itu.”
“Suatu saat nanti Anda akan menemukannya.”
“Bisakah Bapak ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?”
Lelaki itu menarik nafasnya dalam-dalam, menyalakan kreteknya, lalu menatap Wilona dengan pandangan iba.
“Atma memiliki kekasih bernama Sukma. Gadis yang sangat cantik, lemah lembut dan penuh perhatian. Mereka saling mencintai.”
“Lalu apa yang terjadi Pak?”
“Perbedaan derajat membuat mereka tidak bisa bersatu.”
“Perbedaan derajat?”
“Ya. Keluarga Atma yang berasal dari keturunan ningrat tidak merestui hubungan itu. Bahkan sangat menentangnya. Ditambah lagi usia Sukma lebih tua dari Atma. Sampai kemudian Sukma sakit dan meninggal.”
“Ya Tuhan, tragis sekali. Pasti Atma sangat kehilangan.”
“Bukan kehilangan lagi.”

Lelaki tua itu berhenti sebentar, menarik nafasnya lebih dalam, lalu menghisap kreteknya dan menghembuskannya dengan berat. Ditatapnya lama Wilona yang masih menunggu dengan sabar, sebelum melanjutkan ceritanya.
“Sukma meninggal dalam pelukan Atma. Mereka berjanji untuk bertemu kembali sebelum Sukma menghembuskan nafasnya yang terakhir.”
“Sebentar Pak. Selisih antara kejadian ini dengan meninggalnya Atma di kereta api itu hanya beberapa bulan saja. Lalu mengapa saya selalu mimpi bertemu dengan Atma?”
“Anda memiliki kelebihan itu dan bisa merasakan apa yang akan terjadi jauh sebelum waktunya.”
“Kelebihan?”
“Ya. Kelebihan yang diberikan olehNya karena ketulusan hati Anda.”
“Lalu apa yang terjadi kemudian?”
“Setelah seratus hari Sukma meninggal, Atma memperdalam ilmu reinkarnasi dari saya. Lalu memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya pada kereta api yang anda naiki waktu itu. Pada saat kepulangan Anda yang terakhir itu Atma mengawasi Anda dari jauh.”
“Kenapa saya yang dipilihnya?”
“Karena keseluruhan wajah dan sifat Anda hampir sama dengan Sukma. Sukma lebih dulu berada pada tubuh seorang pemuda.”
“Seorang pemuda?”
“Ya. Atma akan mengajak serta menggiring Anda untuk mencari pemuda itu.”
“Yang di dalamnya ada Sukma?”
“Betul sekali.”
“Lalu bagaimana caranya saya menemukannya?”
“Atma yang akan menemukannya, menggunakan tubuh Anda. Anda juga tak akan mengalami kesulitan karena wajah dan keseluruhan sifat pemuda itu sama persis dengan Atma, yang sudah sering Anda lihat dalam mimpi juga.”

Wilona terpaku menatap wajah yang tersenyum di balik hatinya. Cinta dan kerinduan yang sangat indah dan menyakitkan mencengkeram dadanya membuat tubuhnya bergetar. Sebaris pertanyaan mengganggunya.
“Bagaimana jika saya tak menemukan pemuda itu?”
“Anda akan terus hidup dalam pencarian.”
“Dan jika saya menemukannya, lalu garis hidup kami membuat pasangan kekasih itu tidak dapat bersatu, apa yang akan terjadi?”

Kini Bapak tua itu yang terpana menatap wajah Wilona. Pertanyaan yang tak pernah dipikirkannya itu membawa wajah tua itu pada kengerian dan rasa iba. Kepulan asap kretek menutupi wajahnya yang tiba-tiba terlihat semakin tua. Dan lelah.
“Ada dua hal yang akan dilakukannya.”
“Saya siap mendengarkan Pak.”
“Anda akan berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Memberikan cinta walau Anda tak menginginkannya.”
“Sangat melelahkan tentunya, tapi saya tidak percaya semua itu.”
“Ya. Atma akan terus menguasai Anda dalam kehausan jika Anda tidak menyatukan mereka. Silahkan jika Anda tidak mempercayainya.”
“Apakah saya mempunyai pilihan?”
“Ada tiga pilihan untuk Anda.”
“Saya akan menebak. Menyatukan mereka, mencari korban, atau saya tersiksa bersama Atma.”
“Dan saya menyarankan Anda untuk tidak memilih yang ketiga.”
“Mengapa?”
“Karena Anda akan mengalami hal yang sama dengan Sukma. Cinta, rindu dan kesakitan sampai ajal menjemput.”

Wilona menatap hitam dan kelam nun jauh entah di mana. Hatinya tiba-tiba meratap dan berharap dapat menemukan orang yang tiba-tiba sangat dicintainya, entah di mana dan kapan. Kabut perlahan tersibak dan wajah pias itu mengulurkan tangannya, menyelipkan setangkai mawar hitam ke tangannya.

Wilona merasakan kekuatan yang dahsyat dan asing baginya, pelan dan hangat mengalir ke dalam tubuhnya yang mendadak menggigil, dingin dan beku. Pandangannya kini tanpa batas, menatap jauh ke dalam hitam dan kelam, menyaksikan perjalanan panjang yang akan ditempuhnya.*****

by. Kit Rose

Ilustrasi Image Google

(Walau terlihat yang tak harus kulihat, ada yang memanggil dari balik kabut pembatas.
Dan kurasakan rintihan di sana, memanggil hati ‘tuk ikut merasakan cinta dan rindu.
Sampai tiba-tiba terjaga dalam penantian)

4 responses to “Kabut Pembatas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s