Rumah Kaca

Beningnya meminta mataku ‘tuk selalu menatap ke sana.
Gemerlap cahayanya menarik keterpurukan hatiku ‘tuk selalu menanti langkahnya.

Dan kehausanku memaksa genangan cinta teronggok di depan pintunya.

Kau bagai berdiri anggun di dalam rumah kaca yang tak dapat kusentuh.

Aku menatap dari luar dirimu berharap rindu terkirim.

Dan pintumu tak dapat kubuka walau dengan sekuat cinta dan rinduku.

Sampai lembayung kirimkan senandung ini,
dan kau berada dalam dekapku.

———-

Asther berdiri terpana bagai terserap alunan sihir. Ya, sihir cinta yang kian hari kian membara. Tubuhnya terasa kaku dan dingin. Jantungnya berdebar kencang, bagai debur ombak di laut lepas, membahana tak ingin sejenak bersandar. Hatinya bergolak antara berlari mengejar cinta dan tikaman ketakutan. Diliriknya sekali lagi lelaki yang berdiri di sebelahnya. Lelaki yang selalu duduk di pojok pada saat kuliah berlangsung. Lelaki yang sangat angkuh. Lelaki yang tak memiliki perhatian sedikit pun pada lawan jenisnya. Dan nadinya bagai tersumbat hentakan keinginan ketika dilihatnya lelaki itu juga meliriknya. Panas menghunjam gelora asmara seketika.
“Kenapa lihat-lihat?” Jimmo menatap tajam.
“Hah? Oh, enggak, nggak apa-apa kok.”

Asther salah tingkah dan berdebar-debar. Wajahnya memerah, tangannya tiba-tiba dingin bergetar, lalu menarik tangan Luvia menyingkir dari antrian. Jimmo meliriknya sekilas dan kembali menekuni antrian.
“Loh, nggak jadi nonton?” tanya Luvia heran.
“Nggak ah. Antriannya terlalu panjang, paling nggak kebagian tiket.”
“Ada Jimmo ya?”

Asther tidak menjawab dan terus menggandeng tangan Luvia menuju deretan kursi di ujung ruangan. Dihempaskannya pantatnya pada salah satu kursi, bernafas lega sejenak, lalu melirik lagi lelaki yang masih berdiri di tengah antrian dengan acuh.
“As, ini kan film untuk materi ujian, kenapa nggak jadi nonton?”
“Bukan nggak jadi. Nanti aja kita nonton di jam berikut. Jangan sekarang.”
“Kenapa? Karena ada Jimmo kan?”

Kembali Asther menjawab dengan membisu dan segera mengasyikkan dirinya dengan diktat kuliah tanpa membacanya. Diredamnya aneka perasaan yang sedang berkecamuk di dadanya. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang dari sebelumnya menangkap sosok lelaki itu berjalan mendekat.
“Ini tiket untuk kalian, kupikir kamu capek berdiri jadi sekalian aku beli untuk bertiga.” mengangsurkan tiket.

Asther menatapnya tak berkedip, kebingungan sekaligus senang. Tapi tak tahu apa yang harus dikatakan dan diperbuatnya. Matanya benar-benar tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya.
“Kenapa? Nggak mau?”
“Oh, enggak. Eh, mau,” mengambil uang di tas.
“Ini Mas, uang gantinya,” tersenyum.
“Aku juga, ini uang gantinya,” Luvia mengekor.

Jimmo berpikir sebentar, mengambil uang dari tangan Luvia dan segera memasukkannya ke kantong jeans belelnya. Kedua gadis itu terbelalak dengan pikiran berbeda. Lalu saling memandang.
“Kok cuma uangku yang diambil?” protes Luvia.
“Iya, ini Mas,” sahut Asther.
“Sorry Via, uangku cuma cukup untuk mentraktir Asther, sisanya untuk jatah makan besok. Nanti kalau ada uang saku lebih lagi giliranmu aku traktir.”

Lalu melangkah begitu saja meninggalkan kedua gadis itu bersama tanda tanya dan pesona. Asther menatap tak berkedip langkah lelaki itu, sementara Luvia hanya bisa memandang keduanya dengan takjub.
“As. Aku yakin, kali ini kau tak akan patah hati.”
“Maksudnya?”
“Naga-naganya cintamu bersambut nih.”
“Ah, tidak usah menabur benih di tanah kering Via. Aku memang serba berdebar dan salah tingkah tiap berdekatan dengannya. Dan dia juga masih dengan sikap yang sama dari sejak kita pertama bertemu.”

Asther menundukkan wajah, menekuni buku yang tak ingin dibacanya dan mencoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba menjadi galau. Diliriknya Jimmo sedang menikmati kreteknya sambil bersandar pada tiang. Acuh. Seperti tak satu hal pun yang dapat menarik perhatiannya.
“Jimmo memang terlihat sangat wajar bahkan seperti tak perduli dengan sekitarnya, tapi aku yakin, pasti dia memiliki cinta seperti yang sedang kau rasakan.”
“Kalau dia ingin membagi cintanya denganku, pasti dia sudah mengatakannya padaku Vi. Aku tak mau berhenti di persimpangan yang akan membuatku tak pernah melangkah.”
“Jangan putus asa gitu dong. Coba kamu yang membuka pintu dulu.”
“Aku perempuan Vi. Tak mungkin aku membuka pintu untuk orang yang tak pernah mengetuknya, dan mana berani aku menebarkan cinta di sembarang tempat.”
“Tapi,”
“Sudahlah jangan dibahas lagi, film dah hampir dimulai tuh.”

Kedua gadis itu berjalan menuju pintu yang sudah penuh dengan para mahasiswa yang sedang mendapat tugas mengupas sebuah cerita sastra. Sementara Jimmo berdiri menyandarkan dirinya pada tiang bisu menatap dari kejauhan. Sampai gadis pujaan hatinya lenyap di balik pintu dan dia berjalan diam-diam di antrian paling belakang. Dalam ruangan gelap itu matanya tak lepas mengawasi Asther. Diam-diam.

*****

Jimmo meletakkan jaket jeans belelnya dan berjalan ke arah jendela. Menyalakan kretek dengan angkuh memandang diam-diam ke rumah kaca di seberang jalan. Satu, dua, tiga jam. Yang ditunggunya tak nampak sekelebat pun. Dipandangnya lagi dengan geram rumah itu lalu berjalan ke luar kamar dengan wajah tak sabar. Dilemparnya puntung yang masih panjang begitu saja ke tong sampah tanpa perduli baranya bisa membakar benda yang lain.
“Mau kemana Jim?” tanya Syam sahabatnya.
“Ngalong.” jawabnya singkat dan langsung melesat ditelan kegelapan.

Tak digubrisnya pandangan heran teman-teman kostnya. Tak dipedulikannya sahabatnya Syam akan menikah dengan Asther si pujaan hati. Tak peduli juga dengan hatinya yang terkoyak. Semua tak ingin dipedulikannya bahkan hatinya yang perlahan terluka.

Dengan geram diletakkannya pantatnya lalu duduk diam-diam di batu kecil menatap rumah sepi di seberang jalan. Ingin diketuknya pintu yang tertutup rapat di sana, tapi yang dilakukannya hanya memainkan asap putih mengepul dari bibirnya.

Syam menyalakan kreteknya, sambil berdiri diam-diam mengawasi sahabatnya dari jauh, dari balik kegelapan malam bersimbah purnama. Mata awasnya terus mengawasi sahabatnya, menghela nafas, lalu berjalan mendekat. Setengah terkejut Jimmo melirik Syam.
“Mau ngapain ke sini?” tanya Jimmo galak.
“Nah, kamu sendiri ngapain jongkok di sini?”
“Aku duduk nih. Batunya kecil aja jadi keliatan jongkok.”
“Aku tahu. Maksudku ngapain duduk di sini malam-malam?”
“Emang ada larangan ya?”

Syam diam menatap sahabatnya. Dilemparnya puntung rokok ke tengah jalanan, lalu ikut menatap rumah kaca di kejauhan, kembali menatap sahabatnya yang masih duduk membeku.
“Kamu mencintainya kan?”
“Siapa?”
“Jangan pura-pura nggak perduli Jim. Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Aku minta maaf kalau rencana pernikahanku sama Asther membuatmu terluka.”
“Jangan sok tahu dan ambil kesimpulan sendiri.”
“Kenapa kamu nggak pernah menyampaikan perasaanmu ini padanya?”
“Perasaan apa?”
“Sudahlah Jim, aku tahu kamu cinta sama Asther. Nggak usahlah kamu mencoba mengingkarinya. Semakin kamu hindari akan semakin menyiksamu.”
“Buat kamu aja. Selamat ya. Jangan lupa kau undang aku.”

Lalu berdiri dan meninggalkan Syam sendirian tanpa menoleh lagi. Tak lama, setelah yakin sahabatnya sudah menjauh, Syam pun menyeberangi jalan menuju sebuah rumah. Asther sudah menunggunya di sana. Mereka berbincang sebentar dan Syam pergi meninggalkan rumah itu sambil mengantongi sejuta senyum.

Direntangkannya tangannya menyongsong angin dan warna redup bulan sedang menebar cinta. Dihirupnya udara malam bersenandung lagu rindu mengharu biru. Serasa tak sabar menanti cahaya pagi mesra sambut lembaran baru.

*****

“Aku takut.” Asther memegang erat tangan Luvia.
Wajahnya seputih kapas menahan gejolak hati. Luvia menggenggam tangan sahabatnya ingin memberi ketenangan.
“Tenang, Jimmo nggak nggigit kok. Walaupun keliatan kasar, aku tahu hatinya lembut. Kamu tenang saja.”
“Tapi sejak kita sebarkan berita aku mau nikah sama Syam, dia nggak mau negur aku lagi. Sikapnya semakin acuh.”
“Itu tandanya dia cemburu setengah mati. Sayangnya seniman yang satu ini tak berani membuka lembaran hatinya untuk kita baca.”
“Aku masih takut. Tak ada nada cemburu pada matanya.”
“Nanti kau lihat sendiri.”

Kedua gadis itu memasuki halaman rumah tempat Jimmo dan Syam tinggal sementara, lalu mengetok pintu perlahan. Seorang ibu penjaga rumah kost membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Lalu meninggalkan mereka menunggu di ruang tamu yang tak penuh dengan perabot. Asther memutar matanya mencari ketenangan.
“Mau ngapain kalian?”
Tiba-tiba Jimmo sudah berdiri di pintu penghubung sambil mengucek matanya yang masih merah dan bergelayut kantuk.
“Baru bangun Mas?” Luvia mencoba ramah.
“Hmmm…”
“Gimana persiapan wisudanya Mas, sudah beres?” Asther mencoba bertanya menyembunyikan gemetar tangannya.
“Sudah. Kalau persiapan pernikahanmu gimana? Sudah beres?”

Jimmo menyalakan kreteknya lalu duduk tak acuh di depan kedua gadis itu. Dihembuskannya asapnya mengepul memenuhi ruangan yang masih segar. Asther melirik sahabatnya tak berani menjawab.
“Nggak usah malu-malu. Aku sudah tahu kok kalian mau nikah. Kalau kamu, nggak mau nikah juga Vi?”
“Aku juga mau nikah Mas, mungkin nanti setelah wisuda, tapi sama siapanya masih rahasia.”
“Kenapa dirahasiakan?”
“Bukan rahasia sih sebenarnya, mau bikin kejutan saja.”
“Kejutan apa nih?” Syam tiba-tiba sudah berada di pintu dengan dandanan rapi.
“Cepat Jim, mandi sana,” mengusir paksa Jimmo dari duduknya.
“Nggak ah, nanti aja.”
“Cepetan, udah telat nih. Mumpung masih pagi kita berangkat.”
“Kemana?”
“Sudahlah sana mandi. Aku siapin mobil dulu.”
“Nggak mau ah, nggak jelas kalian nih.”
“Mas Jimmo, kita kan sahabatnya mas Syam dan Asther. Hari ini mereka mau belanja keperluan pernikahan mereka. Nah kita diminta untuk bantu memilih yang sesuai,” Luvia mencoba menjelaskan sementara Asther semakin membeku wajahnya.
“Kenapa sih, mau nikah aja bikin repot semua orang?”
“Ayolah Jim, demi aku dan Asther,” Syam senyum memelas.

Jimmo menatap Asther sekilas. Ada pandangan terluka dalam tatapan itu, tapi dengan gagah ditepisnya dan memaksakan diri memenuhi keinginan sahabat dan terkasih. Semua saling menatap dan tersenyum penuh bahagia. Asther memerah wajahnya saat Luvia menyenggol lengan dan kakinya. Tangannya semakin dingin dan gemetar, tapi ada gurat harapan dan kecemasan di wajah ayu itu.

*****

Syam membelokkan mobilnya memasuki kawasan menuju pantai Carita. Jimmo menyimpan herannya sambil berusaha tak peduli dan menyimpan tanya. Tapi tak dapat ditahannya juga kekesalan hatinya.
“Berurusan sama orang kasmaran emang susah,” gumamnya.
“Kenapa Jim? Pantainya kalau masih pagi begini sepi, jadi enak untuk dinikmati.”
“Aku sih senang-senang aja ikutan menikmati pantai. Dari semenjak di tol tadi sih sudah curiga.”
“Tapi kok diam saja?” Luvia menggoda.
“Males mau ngomong. Namanya juga lagi pada kasmaran.”

Asther menundukkan wajahnya menyembunyikan gelisah, sementara Jimmo tak mau mempedulikan tawa Luvia dan Syam. Sampai pada pasir-pasir yang masih belum ramai pengunjung, Syam menghentikan mobilnya. Dibukanya pintu mobil dan keluar diikuti yang lain.
“Dah sana, cari pojok yang sepi. Tapi karena pantai nggak ada pojok gelapnya, masuk aja ke hutan.”

Sinis Jimmo bergumam lalu menyalakan kreteknya menahan jemu. Disisirnya pantai tanpa semangat, dipandangnya laut dengan tatapan hampa. Dihembuskannya nafas lelah tanpa ingin menoleh. Dicarinya rumah kacanya pada titik terjauh birunya samudra tanpa mampu mengetuk pintunya.

Syam dan Luvia memasuki mobil sambil berteriak diiringi derai tawa. Sementara Asther ketakutan tak tahu harus bersikap apa, tak berani menatap Jimmo yang wajahnya semakin mengeras.
“Sorry Jim, toko baju pengantinnya keburu tutup, nanti sore kalian aku jemput, hati-hati ya.” teriak Syam semakin berderai tawanya.
“Mas Jimmo, nitip Asther ya, jangan diapa-apain.” Luvia berteriak dari dalam mobil sambil memeluk Syam dengan mesra.

Jimmo berjalan mendekati mobil tapi Syam dan Luvia sudah menjauh masih dengan tawa berderai. Dihampirinya Asther lalu ditariknya tangan gadis itu dengan kasar. Air mata sudah memenuhi pipinya.
“Maksudnya apa ini?”

Asther tidak berani menjawab dan semakin menundukkan wajahnya menyimpan ketakutan.
“Asther, tolong jelaskan. Aku nggak ngerti maksudnya apa ini?”
“Sebenarnya yang mau menikah mas Syam dan Luvia.”

Asther menjawab hampir tak terdengar, tetapi suaranya hampir membuat dada Jimmo meledak. Ditariknya lagi jemari Asther, kini lebih lembut, lalu bertanya.
“Kamu?”
Asther menggeleng.
“Bukan kamu sama Syam yang nikah?”

Kembali Asther hanya menggeleng, dan seketika gelengan itu disambut pelukan hangat kedua tangan merintih sepi itu. Jimmo berteriak pada laut, melompat menghamburkan bahagia, lalu menggenggam jemari Asther yang masih ketakutan.
“Sudah terbukakah pintu rumah kaca itu untukku?”
“Kamu tak pernah mengetuknya,” jawab Asther pelan.
“Sekarang aku tidak ingin mengetuk pintu itu lagi, tapi memasukinya dan memanggil gadis yang tak mau membukanya untukku. Akan kupaksa dia menutup pintu itu kembali agar tak ada yang memasuki rumah kaca itu dan aku dapat berdiam di sana bersamamu.”*****

by. Kit Rose

Ilustrasi Image Google

3 responses to “Rumah Kaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s