“Rasa Tanpa Nama”

Ketika awan kirimkan mendungnya,
aku dapat nikmati rintik yang belum menetes,
karena tetesannya hanya ada dalam bayangan bisu,
hingga senja menjemput bayangan, mendung masih tenang.

Adakah aku di sana?

Lalu panas mendera dan hausku tak tertahan,
aku sungguh menanti hujan membasahi kering dahaga,
agar sedikit memuai lelah karenanya.

Adakah kau di sini?

Dan aku berlari menanggalkan segala resah,
menyongsong hujan di ujung batas senja,
tak kusangka ternyata badai menyambut di sana,
dan aku terpaku pada derasnya air mengguyur tubuhku,
hingga langkahku limbung tak tahu ke mana hendak berteduh.

Saat kau katakan kau harus melangkah.

– MH –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s