“Lelaki Berjubah”

: Pada sebuah serambi : hampir senja

—————————————————–

Kumbang : “Bunga, bolehkah aku memelukmu?”

(Bunga diam menatap bimbang)

Kumbang : “Ayolah. Kamu tahu aku sangat menyayangimu dan tak akan menyakitimu.”

(Bunga masih diam, semakin bimbang. Kumbang menatap menghela nafas, tangannya masih terentang)

Kumbang : “Aku sangat merindukanmu sayang. Sudah lama aku menanti saat bisa memelukmu.”

|……….|

 

: Pada sebuah serambi : hampir tengah malam

——————————————————————

Kumbang : “Bunga, bolehkah aku menciummu?”

(Kembali Bunga diam menatap semakin bimbang)

Kumbang : “Ayolah. Kamu tahu betapa aku menyayangi dan membutuhkanmu.”

(Bunga menggigil penuh tanya. Kumbang tersenyum lembut mengangkat Bunga dalam gendongannya)

Kumbang : “Aku sangat merindukanmu sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat membutuhkanmu.”

|……….|

 

: Pada sebuah serambi : hampir dini hari

———————————————————-

Kumbang : “Sudah lewat tengah malam aku harus pulang.”

Bunga : “Ini malam kesekian aku mengingatkan Kakak untuk tak datang pada jam yang salah.”

Kumbang : “Bah. Aku sempatnya jam segini.”

Bunga : “Ya dan hanya untuk meletakkan nafsu Kakak bukan untuk berbincang tentang masa depan seperti yang Kakak selalu ucapkan di awal pertemuan kita.”

Kumbang : “Sssshhh… Aku tidak suka bicaramu itu.”

Bunga : “Tapi aku ingin membicarakan hubungan kita Kak. Tidak baik seperti ini terus. Aku…”

Kumbang : “Sudah. Aku pulang. Kita bicara besok saja.”

|……….|

 

: Pada sebuah taman :

——————————

Bunga berdiri kaku di tepi danau menatap malam hampir tanpa berkedip. Ditatapnya Kumbang melintas dengan tawa ceria. Satu saat memeluk mesra gadis itu di belakang rumahnya, saat lain menggendong gadis itu memasuki sebuah pintu kamar asmara. Dilihatnya pemandangan itu malam-malam lalu tanpa satu patah kata pun seperti pada tiap dini hari mereka di sebuah serambi cinta. Saat dirinya juga tak satu menit pun memiliki masa mengucapkan kata di dalam hatinya.

Dilemparnya benda berkilau di tangannya lalu dibasuhnya jemari lentiknya hingga warna merah kehitaman memudar dari sana dan berpindah menyebar pada gelombang kecil air di depannya. Danau itu memerah pada sudutnya, menarik bilah berkilau itu…..

 

|…..CUT…..|baca kisahnya di dalam novel seri Misteri Mawar Hitam

Buku ke 5 |“Lelaki Berjubah”|

 

-M.H-

2 responses to ““Lelaki Berjubah”

  1. Saya masih harus banyak observasi untuk novel ini mas Didi, jadi masih perlu banyak pembenahan, agar dapat dinikmati dan kelak saat sudah menjadi buku🙂
    Lagi2 terima kasih untuk sapa dan hadirnya.
    Salam,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s