“Dongeng Derita-mu”


Suara itu bersahutan memenggal hitamnya malam

Ranting berbisik merdu jemari mimpi membelai lembut

Menyilang kekar di antara belahan

Bukan belahan dada atau paha

Tapi belahan luka.

Luka yang kau sematkan dengan indah merdu dan bersahaja.

|

Katamu pada tiap desah liarmu

Aku jiwamu, aku perempuanmu, aku segalanya bagimu

Aku tiada boleh ingkar dan segera kau bersinggasana di atas kepalaku.

|

Sudah.

Semua sudah sedemikian rapi dan aku hanya bermimpi

Kau berkata pada burung-burung di sekelilingku

Aku adalah belahan jiwamu.

Kepada burung burung pemangsa itu sayang,,,

bukan hanya kepada kebodohanku.

Yang hanya dapat berdiam menatap bulan.

Saat di halaman jantungku ada tapak kakimu

sedang mengejar perempuan-perempuan pujaanmu.

 |

Lalu esok kau akan bisikkan di telinga mereka

dongeng malammu tentang pengkhianatanku padamu

seperti yang selalu kau bisikkan padaku pada tiap dini hari kita

Menerkam kebodohanku hingga aku terperosok pada lubang cinta ini.

| Pain |
Ketika angin tak berhasil menghapus jejak suaramu
kau sudah pergi jauh dan semua tentangmu masih tertinggal di sini.

Dongeng tentang deritamu yang membuatku masih menangis untukmu.

Juga dongeng tentang rindumu dan aku masih bersenggama dengan malam.

-MH-

|Ilustrasi by Janet Forsythe|

Aku masih mencari jejakmu di antara ribuan pijar lampu di kejauhan

Dan kau segera berlari bersembuyi dalam belahan lain,

saat aku berkata tentang kesungguhan


4 responses to ““Dongeng Derita-mu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s