“SANG RATU”

Indonesia. Merah darahku, putih tulangku,

bersatu dalam semangatmu.

Indonesia. Debar jantungku, getar nadiku,

berbaur dalam angan-anganmu,

kebyar-kebyar, pelangi jingga…

 

Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku.

Andaikan matahari terbit dari barat, kau pun tetap Indonesiaku.

Tak sebilah pedang yang tajam, dapat palingkan daku darimu.
Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas

Malang-malang tuntas.

 

Denganmu Indonesia. Merah darahku, putih tulangku.

Bersatu dalam semangatmu
Indonesia. Debar jantungku, getar nadiku.

Berbaur dalam angan-anganmu
Kebyar-kebyar, pelangi jingga.

Indonesia. Merah darahku, putih tulangku. Bersatu dalam semangatmu
Indonesia. Nada laguku, symphoni perteguh. Selaras dengan symphonimu

~~~~~

 

Syair-syair yang sudah dipersiapkan dengan matang itu tidak jadi digelar. Kedatangan tamu asing yang disebut sebagai calon mitra usaha sang pemilik perusahaan membuat kerajaan kecil itu heboh dan mengalami banyak penataan ulang, yang hampir semua tidak sesuai dengan misi awal dibentuknya perusahaan lima divisi itu. Kini segala yang terjadi di sana menjadi mimpi buruk bagi para pengelola.

Selanjutnya Jalu memainkan irama Dimmu Borgir – Sorgens Kammer sambil meneliti satu persatu wajah-wajah yang duduk di ruangan itu dengan hati bergetar. Wajah-wajah terbungkus pakaian elegant dengan dasi seharga entah berapa, Jalu tak dapat menghitung dan memperkirakannya. Wajah-wajah itu terlihat sangat menikmati irama musik yang dimainkan Jalu tanpa peduli bagaimana perasaan pemuda itu.

“Percuma kita latihan menciptakan not yang menawan Jal,” bisik Leo temannya saat musik hendak dimainkan.

“Tenang, ini hanya pembukaan aja. Lagu-lagu lain masih bisa kita mainkan setelah ini.”

“Semoga saja. Karena kulihat mata Sang Ratu bicara lain.”

 

Lalu setelah instrumen pembukaan usai dimainkan Jalu dan teman-temannya, seorang wanita cantik, anggun dan berwibawa bangun dari tempat duduknya, berjalan dengan gemulai mendekati panggung itu dan tangannya memberi isyarat agar Jalu mendekat. Pemuda itu dengan enggan meletakkan gitarnya dan mendekat dengan wajah datar.

“Apa lagi yang akan dilakukannya,” bisiknya geram.

“Sekarang kamu mainkan lagu-lagu barat.”

“Hari ini jadwal kita mengisi lagu-lagu bernuansa kebangsaan Bu.”

“Dan sekarang aku memerintahkan untuk dirubah.”

“Tapi Bapak memintanya demikian. Hari ini Bapak ingin menunjukkan pada para tamu bahwa perusahaan ini sangat nasionalis.”

“Itu tidak diperlukan lagi. Aku sudah punya rencana.”

“Bukankah Bapak dan Ibu mengundang mereka untuk menyaksikan kebudayaan kita? Dan teman-teman sudah mempersiapkannya dengan matang.”

“Itu kan hanya siasat agar mereka bersedia berkunjung ke sini. Dan menyenangkan mereka ini juga salah satu cara agar mereka bersedia bekerja sama dengan kita.”

“Tapi.”

“Lakukan saja dan kamu akan segera naik jabatan. Tidak hanya sekedar menyanyi di panggung ini.”

“Mohon diijinkan saya membicarakannya dulu dengan Bapak.”

“Pilihanmu hanya dua. Lakukan sekarang atau kamu keluar dari ruangan ini dan jangan pernah kembali.”

 

Jalu menatap geram wanita yang kembali berjalan dengan anggun itu menjauh darinya. Tangannya mengepal dan mulutnya mendesis sambil menatap kain persegi berwarna merah putih yang sudah disiapkannya dengan cantik di sudut panggung. Lalu menatap nanar pada diktat berisi bait-bait kebangsaan yang kini menjadi sia-sia.

“Benar kan dugaanku,” Leo berbisik di sebelahnya.

“Masih ada waktu lima belas menit. Aku akan cari cara untuk bicara dengan Bapak.”

“Percuma Jal. Bapak dari tadi menyaksikan perbincangan kalian dari jauh dan beliau hanya mampu tertunduk.”

“Aku keluar kalau begitu.”

“Jangan gegabah Jal. Kalau kamu keluar, kita pasti akan dilempar semua keluar dari sini. Lalu bagaimana nasib lima orang teman kita itu?”

 

Jalu melirik teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan diri. Tangannya semakin mengepal dan matanya mulai memerah.

“Kita cari jalan keluarnya nanti,” desisnya perlahan lalu melangkah ke tengah panggung diikuti temannya Leo dan segera mempersiapkan diri menyenangkan hati Sang Ratu, memainkan nyanyian yang diinginkan para tamu asing. Hatinya bergemuruh, namun nadinya tak mampu bersuara. Ditatapnya Sang Ratu yang dengan ramah melayani para tamu. Senyumnya sangat menawan dan melenakan. Namun Jalu mencium aroma anggur beracun dalam senyum menawan itu. Entah apa berikutnya.*****

 

-MH-

Ilustrasi by Image Google

____________________________________________________

 

Dan istana ini akan damai jika Sang Ratu menuang anggurnya, lalu kami akan teronggok kaku bersama bias racun yang tersimpan di dalamnya, tapi untuk apa menangis, karena lukisan langit belum pada saatnya istanaku bergolak.

2 responses to ““SANG RATU”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s