“MEMAR”

"Look At Me"

Dalam kabut hitam di sini,

rintik hujan tiap kali dia tunggu,

kini datang pada siang nan segera merdu.

Menggeliat ingin nikmati kesegaran dan detailnya,

mengukir senyum pada wajah di kegelapan nun jauh di sana,

namun kepedihan tak tertahan menghunjam seluruh nadi juga pori.

Tetes demi tetes dia rasa dan raba namun tiada lagi suara menyegarkan,

dari tetes hujan pada geliat dan lekuk tubuhnya yang kian merona,

ingin meronta namun kembali terkulai dalam sepi dan lunglai.

Bersama rintik hujan telaga ini hampir saja berwarna,

namun segera hambar seperti sedia kala.

Mawar Hitam menari di atasnya,

iringi alunan seruling entah dari mana,

nyaring dan merdu alunkan nada rindu,

lalu sudah dan begitu saja tiap nada.

 

–)0(–

            Ranggawuni diam sejenak sebelum melangkah pergi. Ditatapnya sekali lagi wajah Rahul yang masih bermuram durja, meratapi nasibnya yang dia kira paling nestapa dari seantero jagad raya. Menu angkringan yang tadi mereka incar tak lagi sedap dipandang mata Ranggawuni. Udara malam Jogja yang mereka kunjungi dengan perencanaan matang dua bulan sebelumnya juga tak lagi menarik buat Ranggawuni.

Kenapa tak kau dengarkan sebentar lagi saja ceritaku Wuni, aku tak bisa kau tinggal sendiri di sini,” sela Rahul sebelum Ranggawuni berlalu.

Untuk apa lagi? Bukankah sudah kukatakan semua yang ingin kau dengar?” jawab Ranggawuni lembut, menahan langkahnya.

Masih banyak yang ingin aku ceritakan.

Tentang apa lagi Rahul?

Tentang kehidupanku.

Semua sudah kau ceritakan, bahkan berulangkali. Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku mulai bosan mendengarnya.

Belum semua Wuni, aku belum ceritakan semuanya.

Jadi kita ke kota ini hanya untuk membahas dirimu?

 

Dua bulan lalu Rahul mengajak Ranggawuni berkunjung ke kota Jogja, ke rumah keluarga Martodinonggo, keluarga Rahul yang tinggal di seputaran keraton. Berkunjung sekaligus memohon restu untuk pernikahan yang mereka telah sepakati selama satu tahun ini. Ranggawuni menyebarkan kabar gembira ini kepada kedua orang tuanya juga keluarganya di Bandung tanpa sedikit pun keraguan. Yang ada hanya kegembiraan. Kegembiraan yang segera punah sesampainya mereka di kediaman keluarga Martodinonggo.

 

Keluarga itu menyambut keduanya dengan gembira, dengan senyum dan sikap sopan khas kota itu, dibalut sorot tanda tanya saat memandang Ranggawuni. Ranggawuni hanya menunggu Rahul akan menjelaskan tujuan utama kedatangan mereka ke kota itu, namun tak pernah ada sedikit pun penjelasan sampai pada hari kedua mereka di kota itu. Ranggawuni mencoba untuk bersabar dan menunggu.

Sudah dibawa keliling Jogja temanmu ini Ray?” tanya Ayahanda Rahul sore itu saat mereka bercengkerama di halaman belakang rumah.

Sudah Romo, tapi belum ke banyak tempat.

Lalu sampai kapan riset kalian di keraton? Sudah bertemu Pakde Wiro belum di sana?

Riset,,,?” sela Ranggawuni tak mengerti.

Lha iya tho. Penelian yang kalian lakukan ini akan sampai berapa lama?

Belum tahu Romo, kami akan membicarakannya lagi dengan dosen. Sore ini kami menunggu telepon dari kampus,” Jawab Rahul tenang sambil mengerjapkan matanya ke arah Ranggawuni, memberi tanda untuk tidak bertanya lagi.

 

Ranggawuni diam terpaku menatap Rahul dan ayahnya bergantian. Ada desir halus menjalar di hatinya. Desir perih, merayap perlahan ke seluruh pori-pori kulitnya. Tapi Ranggawuni mencoba bertahan dan tidak bertanya lagi. Hatinya membisikkan ada yang tidak benar di sini.

Saran Romo, kalau memang akan memakan waktu lama, bawa saja istri dan anakmu ke sini. Supaya kamu juga tenang menjalankan semuanya.

Baik Romo, tapi ini tidak akan lama kog,” jawab Rahul tergagap sambil melirik Ranggawuni.

 

Sampai di sini Ranggawuni perlahan mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Mendung dan awan gelap segera hinggap di hatinya. Mata dan hatinya menerawang jauh, menatap wajah-wajah menuntut penjelasan dari kedua orang tua dan keluarganya. Dengan sekuat tenaga ditahannya agar airmatanya tak jatuh. Menanti beberapa menit di ruang tamu besar itu serasa berwindu baginya. Lemas badannya hampir tak dapat ditahannya.

 

Tak ada satu pun kata yang dapat dia ucapkan saat mendengarkan Rahul bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis, tidak membuatnya bahagia dan tidak membawa kedamaian. Tak ada juga satu kata pun yang dapat diucapkannya saat gadis kecil menghampiri mereka dan memohon belas kasihan. Taman itu bagai neraka baginya, namun gadis itu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan Rahul.

 

Rahul hanya bercerita dan membicarakan tentang dirinya, tanpa sedikit pun menyinggung tentang hubungan mereka, rencana pernikahan mereka dan keperawanannya yang sudah direnggutnya. Kini Ranggawuni tak berani memberikan nama atas sakit yang sedang dia rasakan. Hatinya tak hanya sekedar memar atau lebam. Gadis itu sedang bergulat dengan dirinya untuk tidak lagi meratap karena inilah sebuah akibat dari sebab.

 

Tak lama Ranggawuni beranjak dan berjalan perlahan meninggalkan Rahul duduk sendiri di bangku taman. Tak dipedulikannya Rahul memanggil, melangkah semakin menjauh. Ditatapnya wajah Rahul dari balik punggung hatinya. Mencoba memberikan ruang pada lelaki itu untuk membuka diri pada dirinya sendiri. Langit di atas Jogja semakin pudar dari cerahnya, namun Ranggawuni tersenyum pada sinar bintang yang sebentar malam mungkin membuat malamnya menjadi terang, mungkin juga tenang. Atau bahkan kering menghunjam.

–)0(–

            Esoknya, Ranggawuni kembali menghadapi Rahul yang masih bermuka murung. Wajahnya sedikit gelisah meneliti wajah dan sekujur tubuh Ranggawuni yang biru lebam. Rahul tidak menyadari betapa derita telah lebih ganas menerkam Ranggawuni yang selalu tersenyum lembut di hadapannya. Tapi pikirannya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk membahas hal itu. Matanya sedikit menyipit menangkap memar yang tersamar di beberapa bagian tubuh Ranggawuni. Namun segera terlupa memar itu dan kembali Rahul memanggil Ranggawuni yang sudah siap melangkah pergi.

Aku sedang tertekan Wuni.

Untuk siapa dan untuk apa?

Aku ingin keluar dari kemelut ini.

Kalau begitu lakukan saja.

Bagaimana caranya?

Lewati pintu di mana kamu pernah memasukinya. Karena setiap ruang ada pintunya kan Rahul. Jika kamu lupa bagaimana kamu masuk, bagaimana kamu bisa keluar dari ruang itu?

 

Ranggawuni semakin menjauh. Dibiarkannya Rahul termangu dengan mata menyipit mencoba mengerti makna kalimatnya. Dibiarkannya juga Rahul berbincang perlahan dengan istrinya di telepone. Ditelusurinya jalanan dengan lebih hati-hati agar kejadian dirinya tertabrak motor semalam tidak terulang lagi.

 

Dicobanya untuk lupa pada jutaan kata cinta dan rindu yang selalu diguyurkan Rahul padanya. Dia tak ingin lagi lebih lama di sana, karena banyak luka yang harus dia bersihkan, agar esok dia bisa melangkah tanpa rasa sakit. Ditinggalkannya kota Jogja dengan membawa cerita dan kisah. Kisah tentang memar di hati dan jiwanya.

 

by Kit Rose

 

—————————————————————————————————————

Sinar tak akan ada jika kau menganggapnya tak ada. Rintik hujan adalah sebuah keniscayaan di tengah terik mentari, jika kau meyakininya demikian. Percayalah, semua terserah padamu ingin menjadikannya seperti apa

– Mawar Hitam –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s