Papan Catur

Wajah beserta hatinya.

Menatap dengan senyum indah di mata.

Menyiratkan pula beribu keindahan dan tanggung jawab.

Mengerti ke mana hendak melangkah, hati lapang penuh makna tanpa onak.

Kasih mengalir indah tanpa terbatas menyelusup dalam tiap rongga dan rasa.

Namun tak ada tempatnya melangkah dari tiap jengkal mimpi di malam gulita.

Bahkan dia tak dapat mengatakan, bahwa dia benar-benar ‘tlah mencintainya.

Yang layak untuknya hanyalah, dia tersiksa oleh indahnya rindu dan mimpi.

—–

Pattaya melangkah ringan memasuki ruangan kerjanya. Matanya berhenti pada seorang lelaki yang sedang duduk di seberang meja kerjanya. Senyum manis segera terurai dari kedua insan di ruangan dingin itu. Lama terpisah oleh jarak dan waktu membuat kerinduan hampir membuat Pattaya segera berlari memeluk lelaki yang sedang duduk dengan anggun hiasi ruang kerjanya yang selama ini kering dan tandus. Namun bayangan wajah wanita yang telah mendapat gelar istri dalam kehidupan lelaki itu segera membuat langkah Pattaya surut kembali.

Segera Pattaya menarik kegembiraannya melihat Franky berkunjung ke kantornya. Semua dibuatnya menjadi wajar. Seolah pertemuan itu juga sangat wajar, tak membawa nuansa apapun di hati Pattaya. Disimpannya berjuta cinta dan kerinduan di balik senyumnya, yang seketika menjadi senyum kesakitan namun tetap indah terasa.

Oh hai Franky. Ada angin apa kamu datang ke kantorku?” sapa Pattaya juga dengan nada wajar.

Rindu saja padamu. Sudah lama kita tidak bermain catur.

Ya, sudah lama. Sejak masa tugasmu di Belanda sampai selesai. Tak ada kabar darimu selain pernikahan itu. Kukira kamu sudah melupakanku.

Maafkan aku Patt, mana bisa aku melupakanmu. Hanya saja aku hampir tak dapat lagi membagi waktu untuk segala kesibukan itu.

Dan istri juga kehidupan barumu.

Jangan memulai adu langkah seperti pada papan catur kita Patt. Aku ke sini tidak untuk berselisih.

Baiklah. Terima kasih sudah berkunjung ya.

Apa kabarmu Patt?

Baik. Sangat baik, terima kasih.

Ngomong-ngomong ada apa kamu dengan Reno?

Nah, kenapa baru kamu tanyakan itu sekarang? Apa kamu datang ke sini hanya untuk menanyakan itu? Waktu itu aku ingin bicara tentang ini dan kamu tidak mau dengar bahkan marah.

Wah, jadi sekarang yang salah aku? Kenapa pula aku harus marah? Apa hakku atas dirimu untuk marah?

Okay, kamu nggak marah, aku salah duga. Maaf.

Sekarang aku benar-benar marah. Bisa-bisanya kamu cinta-cintaan sama Reno?

Dia sakit setiap kali aku berusaha menjauh darinya. Aku ingin minta pendapatmu tentang ini waktu itu.

Aku kan sudah berkali kali kali kali bilang padamu, cuekin cuekin cuekin! Kenapa masih saja kamu ladeni?

Seumur hidup aku tak pernah merasakan dicintai Frank. Bahkan olehmu, kau tahu kan itu? Saat aku sadar betapa besar cinta Reno padaku, aku berpikir, apa salahnya aku coba untuk membuatnya senang dalam kondisinya sedang terpuruk seperti itu.

Kamu mencintainya?

Kamu tahu aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu, walaupun itu tak boleh.

Siapa yang melarangmu mencintaiku? Hentikan sandiwara itu.

Pattaya mengurungkan niatnya untuk menjelaskan lagi alasannya, saat telepon genggam Franky berbunyi. Ditunggunya sampai lelaki itu selesai bicara. Tak lama Franky dengan santai mengemasi barangnya dan berdiri.

Sorry Patt, Saskia minta diantar ke kampus, aku pulang dulu ya.

Pattaya hanya menjawab dengan tersenyum. Ditatapnya punggung lelaki itu berjalan ke luar ruangannya. Lalu menghilang. Pattaya berjalan mendekati mejanya sambil mengangkat pundak. Tak peduli. Dihirupnya kopi dari cangkir berhias papan catur dan disulutnya sebatang sigaret. Asap putih dari bibirnya meliuk perlahan memenuhi ruangan dengan bebas.

See,,,?” gerutunya pada dirinya sendiri, “aku hampir tak mengerti apa yang sebaiknya aku lakukan.

—–

Reno menyilangkan kakinya sambil memainkan jemarinya dengan gelisah. Pattaya masih tak berkedip menatapnya. Ditunggunya dengan sabar Reno berkata, namun tetap tak ada sepatah katapun.

Aku rasa kamu mengerti yang kumaksud Reno.

Ya, aku mengerti.

Kembalilah pada keluargamu. Mereka sangat membutuhkanmu. Aku lihat kondisi kesehatanmu semakin membaik. Keceriaanmu juga semakin nampak. Nikmatilah itu bersama mereka.

Reno membisu, namun wajahnya menegang. Dengan nafas memburu ditatapnya Pattaya dengan berbagai macam ekspresi. Pattaya menguatkan hatinya agar tidak lagi segera merasa bersalah dengan tatapan itu.

Kamu lihat kan apa yang sekarang kualami Reno? Untuk itu aku mohon, jangan pernah lagi berkeinginan untuk meninggalkan keluargamu.

Kamu tahu Patt, aku tidak sebodoh dan sebangsat suamimu. Semua yang kulakukan ini juga demi anak-anakku. Dengan perkataanmu itu, aku sekarang jadi bertanya-tanya, apakah benar sikap istimewaku padamu selama ini tidak sia-sia? Dan rasanya memang benar-benar sia-sia.

Pattaya benar-benar tidak menduga akan mendengar kalimat itu, walaupun dia sudah hampir dapat menebak akan demikian akhirnya. Diam sejenak, Pattaya berusaha menyimpan amarahnya yang tak terbendung lagi, lalu mengubahnya menjadi kalimat merdu.

Kalau memang menurutmu semua sikapmu padaku sia-sia, mulai sekarang berhentilah bersikap istimewa padaku. Jangan lagi berbuat baik jika kamu masih menanyakan balasannya esok harinya. Ingat baik-baik Reno, apapun yang pernah kamu ceritakan padaku tentang istrimu, pernahkah aku mengatakan hal buruk tentang dia? Karena kita tidak tahu, mungkin saja istrimu mempunyai alasan kenapa dia tak hormat lagi padamu. Begitu juga aku tak pernah membenci suamiku walaupun dia sudah meninggalkanku. Karena  mungkin juga dia memiliki alasan yang aku tak tahu.

Maafkan aku Pattaya. Aku tidak bermaksud begitu.

Kalimatmu sudah terucap Reno, dan aku mendengarnya. Maafkan aku, jika mulai sekarang aku tak dapat lagi menjadi temanmu. Dengan kalimat burukmu tentang suamiku, sudah cukup untukku menghentikan langkahku menemanimu memahami makna kehidupan ini. Sekarang tolong pergilah, tinggalkan ruangan ini dan jangan pernah lagi ke sini, bahkan hanya sekedar untuk mengintipku, aku ingin kembali bekerja.

Pattaya berdiri dengan anggun, membuka pintu ruang kerjanya dan berdiri di sana dengan senyum masih tenang, menunggu sampai Reno benar-benar bersedia berlalu dari ruangannya. Disimpannya amarah yang masih bergelimang di hatinya, dirubahnya menjadi doa pada Sang Cinta, memohon ampunan karena nama suaminya sudah tercoreng karena dirinya. Perlahan Pattaya menutup kembali pintu ruang kerjanya dan berjalan mendekati meja kerjanya.

Seperti yang selalu dilakukannya, dihirupnya kopi dari cangkir berhias papan catur yang masih terlihat indah itu, dan disulutnya sebatang sigaret. Asap putih dari bibirnya juga meliuk seperti waktu-waktu lalu, perlahan memenuhi ruangan dengan bebas. Lalu diangkatnya cangkir kopi dari tatakannya yang tak kalah indah itu. Dengan seksama ditelitinya hiasan papan catur pada cangkir. Asap putih masih meliuk seolah ingin menghibur Pattaya yang sedang mencoba atau berpura-pura tidak sedang gundah ataupun bersedih.

Aku seperti sedang berada di dalam papan catur ini. Menunggu untuk diarahkan dan melangkah mengitari kotak hitam putihnya. Ya. Esok pasti segalanya terurai dan bertempat pada kotak yang seharusnya. Pada kotak hitam atau putih nantinya, aku tak perlu risau.

—–

Pattaya semakin kencang menggoyang-goyang kakinya. Duduk sambil menyilangkan kaki adalah kenikmatan buat Pattaya, sambil menikmati debur ombak yang tak penah berhenti menghiburnya. Beberapa kali dilemparnya batu kecil ke dalam air laut di hadapannya. Ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar telah terbebas dari tatapan mata Reno dari kejauhan. Yang dia inginkan kini adalah, menikmati kerinduan pada lelaki yang tak pernah berhenti dicintainya. Entah sampai kapan.

Kit Rose

= 29 Mei 2010 =

= Ilustrasi Image Google =

14 responses to “Papan Catur

  1. haallluuuu…..
    pa kabar mawar..??
    maaf baru mampir lagi…
    abisnya skrg jarang OL lagi… bias lagi kesel …!!
    aaahhh….gggrr…..!!! malahan sempat bilang ga bakalan buka blog/fb/twittr lagi…????
    wah kayaknya banyak tulisan yang terlewatkan ya..?? aduhh..??
    tapi sekarang tampilannya makin bagus aja,, soalnya pake gambar segala..?? wah pokoke muantabb..!!!

    • Helow juga Anx, kabarku baik, makasih ya.
      Kamu sendiri gimana? Menghilang lama banget, sepi jadinya ruangan ini.
      Kekesalan jangan lagi mempengaruhi apapun ya,,,

      Gambar2 itu iseng aja, sambil nungguin kamu datang lagi, hehehe
      Makasih ya Anx,,, semoga kamu ga menghilang lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s