Mana

Di mana,,,

Hai-mu padaku kala itu,

saat mawar hitam terjuntai di ruangmu.

Ke mana,,,

Hai-mu malam itu,

saat kau bawa puing cintaku.

Bagaimana,,,

Senandung merdu dari dalam rasa,

yang kau titipkan pada senjakala cinta.

Dari mana,,,

Rasa ini ada, lalu kembali tiada,

kau genggam gelas kristalku tanpa rasa,

hingga segala yang tertuang di sana menjadi hampa.

Kata tanya, apakah selalu untuk bertanya?

Jika tak ada rasa, mengapa masih bertanya?

Jika rasa itu ada, kenapa juga selalu bertanya?

Sampai kapan, hidup penuh dengan tanda tanya?

Kit Rose

Ilustrasi Image Google

8 responses to “Mana

  1. Malam semakin larut saat aku menginjakan kaki di pelataran harapan, sebuah harapan besar dalam do’a dan mimpi. Meski angin terus berkutat di atas genting rumah aku terus melangkah tanpa merasa peduli, tanpa merasa terbebani dari dosa yang telah terjadi setiap hari. Malam selalu menyapa dengan perasaan dingin dan tanpa senyum, seperti kemarin malam juga datang begitu saja tanpa mengucapkan salam, selain sebuah penyesalan karena datang sedikit terlambat dari jadwal.

    • Kalau begitu kuucapkan saja selamat malam untuk ‘kolomkiri’, semoga esok malam tak terlambat lagi. Dosa dan penyesalan akan terus mengalir, seiring dengan nadi dan langkah yang bergerak beriringan.

      Terima kasih kunjungannya, salam.

  2. ugh…… sampai kapan hidup mesti ada tanda tanya……
    sebuah tanda titik……!! sangat di nantikan kehadirannya
    senjamu, senjaku… tiada akan menjadi senja biasa
    semoga, teraih….. apa yang di jadikan sebuah asa
    ——————————————————————————-
    salam gebe

    • salam dear GB,,,

      setiap langkah akan menuai tanya pada lembar awal
      sebelum menelan dan akhiri lembaran baru
      hadirmu akan urai segala tanya di sini
      bersama untaian embun, malam dan hitam

      • untaian itu telah akrab dalam senyap-senyap
        sekian lama, mata telah memasuki bayangan gelap
        demi masa, semua telah kutidurkan dalam lelap
        hingga kini, do’a berjalan di cahaya gemerlap

        Tiada terurai, masa akan membuka pintunya
        di sela ganggang akan tertera sebuah nama
        selamat datang kata-kata terdengar denga lembutnya
        selamat tinggal, cahaya gelap dalam selimut gulita

        Ah…….. malam, menjadi sebuah renungan
        tiada buah yang tak jatuh dari surga pikiran
        sekiranya, masa tiada memberikan jawaban
        lintasan cakrawala, menjadi sebuah kenangan

        salam

  3. Demi masa, masih kuuntai kelopak demi kelopak
    dari tiap jengkal tangkai mawar hitamku
    demi masa, aku merayap, menyusuri lorong gelap
    menggapai seutas nafas, untuk melanjutkan perjalanan

    Lintasan, goresan dan cambuk tak kan hentikan langkahku
    luka ini adalah bekal mencapai ujung penantian

    Demi masa, padukan rasa, satukan hati, raih cahaya

    • ya…🙂
      gedubrak… kepeleset kata-kata buta
      mesti gunakan tanga-tanga cahaya
      di sini…! redup, namun terlihat warna emasnya
      tak terlalu gelap, masih terlihat bilik maya

      coretan, tinta emas akan menjadi sebuah pedoman
      ……

      wew… gebe hank … hehehe

      selamat malam saja … hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s