Senandung Untuk Mayang

Menari dalam ruang kosong,

ingin melampaui batas fatamorgana,

halimun senja bisikkan senandungnya lagi,

masih seperti hari lalu, sore lalu dan senja lalu itu,

tentang Pangeran cinta dari balik tirai mimpi gelap malam.

Kemudian melukis pada kanvas kosong ‘tuk cermin senjakala cinta,

Saat Sang Pangeran hanya tersenyum dari balik kabut pembatas,

menyusup halus pada relung kerinduan teramat panjang,

dengan wajahnya yang masih dan selalu tersenyum,

memoles keheningan malam ‘tuk bersatu lagi,

dengan cahaya Cinta tak pernah padam,

dan hampir akhiri perjalanan panjang.

—):(—


Mayang, bacalah Nyanyian Cinta yang selalu Kakek ajarkan padamu dalam hati, agar hati Nenek melembut,” bisik Saleh, kakek Mayang.

Digenggamnya jemari mungil cucunya sambil menyiram wajah murka istrinya dengan segala doa dan kesejukan senyuman. Sementara tangan Mayang gemetar menggenggam tangan Kakeknya, menjaga langkah kakinya agar teratur di hadapan Neneknya. Perlahan gadis kecil itu bersenandung merdu dalam hatinya, memanggil angin sore untuk menjaga ketakutannya melihat cemeti di tangan Neneknya.

Dari mana kamu Bengal?” tanya perempuan berkebaya sutra itu dengan wajah garang dan penuh kebencian.

Dari kebun belakang Nek,” jawab Mayang dengan bibir gemetar.

Apa saja kerjamu di sana? Sudah kau selesaikan tugas-tugasmu?

Halaman sudah bersih Nek, pendopo utama juga sudah. Mayang menunggu sawo jatuh untuk penghilang dahaga.

Maimunah, nenek berkebaya sutra itu berdehem sebentar, menurunkan cemetinya, lalu berkacak pinggang masih memandangi Mayang. Saleh meliriknya sebentar ingin mengakhiri ketegangan senja. Berharap senja itu tak ada hukuman untuk cucunya tercinta.

Hari ini Mayang pintar sekali Nek. Walau pun sedang demam, semua tugas diselesaikannya dengan baik. Sekarang ijinkanlah cucumu yang cantik ini beristirahat. Sebelum waktu makan malam tiba.

Demam itu karena dia yang tak bisa jaga diri, menyusahkan saja.

Mayang sudah sehat Nek.

Bagus. Nenek tidak akan menghukummu dengan cambuk hari ini. Tapi masih ada satu kesalahanmu dan itu tetap harus mendapatkan hukuman.

Kesalahan apa lagi Nek?” tanya Saleh dan Mayang serentak.

Adzan sudah berlalu, seharusnya kamu sudah membantu bik Nah menyiapkan makan malam. Tapi pulang pun kamu masih harus membuat Kakekmu repot.

Sudahlah Nek, aku sama sekali tidak repot, biarkan Mayang istirahat dulu.

Malam ini kamu harus makan nasi jagung, sama seperti jatah untuk orang belakang,” jawab Maimunah tandas, kemudian berlalu meninggalkan kedua insan itu tanpa menoleh lagi.

Sementara Mayang membungkam bibirnya yang hampir saja terbuka menambah daftar hukuman untuk dirinya sendiri. Saleh menatap istrinya dengan geram, lalu menatap Mayang iba. Dipejamkannya mata sejenak, lalu dihirupnya angin senja sedikit panjang.

Kek, Mayang baru saja sehat, tapi kalau Mayang tidak makan nasi jagung itu, pasti Nenek mencambukku.

Saleh menghembuskan nafas panjangnya, lalu berjongkok di depan cucunya. Digenggamnya kedua tangan mungil itu dengan lembut, sambil menatap ke kedalaman mata cucunya berharap menyampaikan kekuatan.

Kakek tahu sayang. Kakek tahu, kau akan demam kembali setelah memakan nasi jagung itu, seperti yang sudah-sudah. Tapi kali ini katakan pada hatimu, bahwa itu tak akan terjadi lagi.

Bisa Kek?

Kamu tahu Mayang, Tuhan sangat menyayangimu, lebih dari yang siapa pun sadari. Ucapkan saja apa yang Mayang inginkan, dengan penuh kerendahan hati, Insya Allah Dia akan berikan.

Mayang ingin tidak sakit lagi jika makan nasi jagung Kek, agar Nenek tidak mencambuk Mayang lagi.

Katakan itu padaNya Nak.

Sesaat angin senja berhembus sangat menyejukkan, bersama senyum lembut dari bibir mungil Mayang. Gadis kecil itu mencium tangan Kakeknya lalu berlari kecil meninggalkan pintu pendopo utama, menuju ruangan lain, yang hampir menyerupai sebuah gudang, sebagai tempat yang diperbolehkan dia gunakan untuk tidur.

Duduk bersila di atas permadani kecilnya, dengan senyum keluguan hampir tanpa noda, Mayang mengucapkan keinginannya pada Sang Khalik. Angin senja berhembus semakin merdu, hampir menyerupai senandung indah untuk Mayang kecil.

—):(—

By Kit Rose

Ilustrasi Image Google

Cuplikan naskah novel “Senjakala Cinta”

CINTA tak pernah padam walau di hati penuh luka dan sayatan. Di sana tersimpan banyak makna tentang RINDU berkepanjangan. Untuk bekal menempuh perjalanan.

2 responses to “Senandung Untuk Mayang

  1. Kekerasan hati hanya bisa dihadapi dengan kelembutan …. didalam kelembutan tersembunyi kekuatan yang maha dahsyat …. bahkan kekerasan hati pun pada akhirnya tiada berarti apa-apa ….

    Sukses selalu Mbak Tititk

    • Ya betul, kelembutan yang bernama ‘lemah’ itu bahkan bisa saja menyimpan sejuta amunisi.
      Makasih Mas, sehat selalu untukmu di mana pun berada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s