Mayang

Senjakala Cinta masih bersenandung,

merebak jingga tanda batas terang dan gelap,

rindu kini berada di tengahnya dan menunggu cinta,

menengadah dalam pasrah berbaur ribuan gelisah dan resah.

Jingga ini, fajar atau senja,

bergelayut tanya dari bekas gurat luka,

akan terangkah? atau gelapkah? Entahlah dan sudahlah,

jingga ini tak harus serumit yang sedang tak ingin lagi dirasakan.

Cinta begitu remang dalam jingga,

tak jelas bagi asa,

ah semoga bukan senjakala,

untuk lelaki dan perempuan di ujung senja.

—):(—

Senandung merdu kembali alunkan keindahan desahannya. Tak ada satu pun di antara jentik yang tak ingin mendengarnya. Semua senyap, tak risau namun tenang, menikmati senandung indahnya dari bilik hati penuh cinta. Dan pagi pun mengantar pencarian berkepanjangan, menggenggam sebilah belati cinta mencari sarungnya. Beranjak semakin cepat mengayunkan kaki cinta untuk melangkah. Tanpa notasi, tanpa nada, hanya begitu saja dan semua terlalui dengan indah.

Seiring hati kecil bernyanyi riang, masih tetap sama. Alunkan nada cinta dan rindu berkepanjangan. Hampir tiada henti dan terus mengalun, semakin indah menyayat kalbu.

Mayang kecil duduk di bawah pohon sawo yang rindang, mencoba memahami apa yang sedang terjadi dan belum dimengertinya dalam hitungan usia dan denting waktu. Digoreskannya hari-hari berhias airmata pada batang pohon itu, sambil menatap wajah samar yang tersenyum padanya di atas rimbun dedaunan. Tangannya mengelupas merah basah, menempel pada batang pohon sawo yang ingin digoresnya. Mayang mendongak, menatap ke atas pohon. Wajah tampan itu masih tersenyum padanya.

Lalu dipeluknya pohon sawo itu sambil menangis. Tubuhnya panas dan dingin merajam, demam tak kunjung berhenti mendera. Tangannya yang basah berdarah menempel pada batang pohon, seketika mengering dan darahnya menempel di sana. Mayang keheranan menatap darahnya yang dengan cepat mengering di sana. Lalu segera tak peduli, kembali menatap wajah yang masih tersenyum di atas pohon, di antara rimbun daunnya.

Aku rindu pada Ayah dan Ibu, wahai pohon, mengapa mereka meninggalkan aku di sini? Apakah mereka tidak menyayangiku seperti pada saudaraku yang lain?

Dan petang menjelang, merintih kirimkan rintiknya untuk tangisan kecil dari hati dan ruang rasa si gadis kecil. Namun tak lama. Sebuah sawo jatuh perlahan, tepat di hadapan Mayang. Dengan mata berbinar gadis kecil itu segera mengambil buah sawo, mengusapnya dengan lembut, seolah tanda ucapan terima kasih pada wajah tampan di atas sana, seperti hari-hari lalu pada pertemuan mereka.

Dengan lahap Mayang menghabiskan buah sawo ranum itu, kemudian perlahan merasakan demam di tubuhnya mereda. Wajah putihnya kembali memerah, mata sayunya kembali berbinar. Ditatapnya wajah di atas pohon sawo itu sambil tersenyum.

Terima kasih Pohon, sekarang badanku sudah segar kembali. Kamu tidurlah, sebentar pasti Kakek mencariku,” Bisik Mayang.

Mayang!

Mayang mendengar teriakan yang sudah tak asing lagi bagi telinganya. Dipeluknya sekali lagi pohon sawo itu dengan lembut, lalu melangkah pelan menghampiri Kakeknya yang sudah berdiri di pintu pagar pemisah rumah besar mereka dan kebun.

Sudah hampir adzan Maghrib Nduk, masuklah sebelum Nenekmu marah,” sambut Kakeknya sambil mengelus rambut Mayang.

Demam Mayang sudah hilang Kek.

Pohon itu memberimu hadiah berapa buah?

Hanya satu Kek, tapi sudah cukup.

Kakek tua dengan jenggot dan alis tebal yang sudah memutih semua itu menarik nafas dalam sambil menatap pohon sawo kesayangan cucunya. Dirabanya leher cucunya yang memang sudah tidak panas lagi seperti tiga hari belakangan ini. Lalu menggandeng tangan Mungil Mayang memasuki rumah yang menyerupai puri itu.

Kek, kata wajah di atas pohon itu, Ayah dan Ibu suatu saat pasti pulang menjemputku. Dan Nenek tak akan memukulku lagi jika aku lupa pada tugasku atau kelelahan membersihkan halaman.

Kakek tua itu memalingkan wajahnya menyembunyikan air matanya, lalu mengalunkan Cinta sambil menggenggam erat jemari cucu yang kini semakin disayanginya itu. Langkahnya sedikit tersendat menahan resah melihat istrinya sudah berdiri di pintu pendopo utama, memandang Mayang dengan gigi gemeletuk. Di tangannya sudah bertengger cemeti hiasan yang siap diayunkan ke tubuh mungil Mayang, untuk mengukir goresan baru.

By Kit Rose

Ilustrasi Image Google

Cuplikan naskah novel “Senjakala Cinta”

Kelahiran terkadang tidak pernah diinginkan saat rahasia alam menoreh luka memar dan hitam. Namun pantulan CINTA tak akan ada yang dapat meraba ke mana arah dan sinarnya hendak tertuju. Di sanalah kelopak demi kelopak Mawar Hitam bersemi.

2 responses to “Mayang

  1. Terus terang Mbak, saya sangat tersentuh oleh cerpen ini. Saya kok merasa bahwa cerpen ini sesungguhnya kisah nyata.

    Cerpen ini betul-betul menguji kepekaan dan kehalusan perasaan kita.

    Sukses selalu Mbak Titik.

    • Terima kasih jika maksud mas Anto adalah, dapat ikut merasakan apa terjadi di sana, saat itu.

      Dari pertama mas Anto mengunjungi tulisan saya di rumah tempat kita bertemu, mas Anto selalu dapat ‘membaca’ kisah yang sesungguhnya.

      Terima kasih sekali lagi, sukses juga untuk mas Anto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s