Asa Di Ambang Asa

Denting waktu memburu pada nafas kelu, menapak jalanan beku hampir tak bersuara. Berjalan di antara sederet pintu beku, tertutup dan terkunci rapat. Insan-insan berhati mulia memandang bagai pesakitan penyandang kusta. Berebut menghakimi dan berlomba menempelkan tera di wajah. Hingga layu terseok sendiri meniti jalanan kelu.

Mendesah resah tak ingin peduli. Entah kapan ajal menjemput. Dalam heningnya angin lembut meraup getir dan kelam berteman diam. Tersimpan jeritan saat mereka hendak merebut nafas cinta. Tergenggam kesakitan saat mereka melucuti putih. Dan mendekap hitam saat Dia masih berikan cinta walau tak mau.

Lalu satu pintu terbuka, saat sang hitam menyeruak ke dalamnya. Di sana kau berdiri memandang tanpa tanya. Entah apa yang kau lihat, tapi tanganmu terulur hendak menjabat penuh cahaya. Bimbang tak terasa semakin memudar, memandang sekitar dan hanya dirimu di sana. Tak kau pedulikan hitam lingkupi awan. Dan tak kau tanya siapa hitam di sana. Kaulah ASA untuk ajal yang didamba.

~~~~~

Sahara melangkah gontai di tepian jalan tandus dan berliku. Tak ada lagi mantra cinta dihembuskan pada hausnya yang semakin kering. Tak ada lagi gemerlap naungan dari panas dan hujan. Tak ada lagi sentuhan lembut yang dapat mengikat hatinya dari rasa. Matanya terus menatap namun di depan semakin gelap. Hatinya merintih mencari pijakan. Tangannya gemetar ingin membuka kepalannya yang kian menggigil.

“Aku tidak meratapi perjalanan yang kau berikan ini ya Kekasihku, aku hanya bersedih, mengapa hatiku masih ingin menangis?” bisiknya sambil terus melangkah.

~~~~~

Digenggamnya hatinya erat-erat agar airnya tidak melewati bola matanya yang semakin kelelahan. Diremasnya kepedihan agar tidak lagi menyiratkan getarnya. Semakin terseok Sahara mencoba terus melanjutkan langkahnya. Dibisikannya kekuatan cinta ke dalam hati yang kian layu.

“Aku harus tetap tersenyum. Tak ada yang boleh melihat kesakitanku,” bisiknya lagi sambil menebar senyum penuh kedamaian.

Dilihatnya lagi pada pantulan cermin di depannya, memastikan apakah senyumnya sudah terlihat cerah, lalu kembali meneruskan perjalanan.

“Duhai Engkau pujaan hatiku, tolong jaga senyum indah dan damai di bibir kelu ini, agar tak ada saksi untuk sakitku. Biarlah hanya Engkau dan aku yang membahas ini semua.”

Lalu terjatuh dan berguling ke dalam jurang terjal dan penuh duri. Tubuhnya koyak oleh ujung-ujung duri yang ganas menerkam kulit halusnya. Matanya pedih tertutup pasir dan debu-debu hitam. Dadanya membiru legam tertumpuk batu-batu gunung. Dan bibirnya robek menahan mulut getir kian perih meneteskan cairan merah pekat.

“Aku sudah lelah duhai Kekasih, aku sudah siap untuk kedatanganMu. Jemputlah aku di sini. Aku benar-benar lelah.”

Namun hening dan hanya keheningan yang menyambutnya. Tak ada Dia, Cintanya yang diharapkannya datang menjemput. Lalu terkulai semakin terhunjam kepasrahan. Wajahnya pias menatap sedikit sinar. Terangnya menyingkap hitam walau hanya secercah.

Perlahan ditatapnya cahaya nun jauh di atas jurang terjal. Rasanya terlalu jauh untuk dapat diraihnya. Namun di luar jurang sana anak-anaknya menanti penuh harap. Wajah-wajah mungil dengan mata penuh harap.

Sahara tak dapat lagi menahan air mata yang sudah berdesakan berebut keluar dari pintunya. Basah menggenangi seluruh jiwa dan membasahi luka di seluruh tubuhnya. Sahara menggeliat menahan perihnya hampir tak tertahankan. Digigitnya bibir pucatnya menahan pedih yang terus mengejar.

Lalu bayangan lelaki yang dipujanya, ayah dari tiap janin yang pernah dikandungnya, duduk termenung, menatap kosong pada sisa-sisa duka. Tak tahu harus berbuat apa. Kelelahan juga terhampar di wajahnya yang legam sarat kecewa. Putus asa jelas tergurat dan terkulai bisu. Tak mau memandang padanya sedikit pun. Tak ingin berbagi rasa. Dan Sahara harus memikul satu duka baru.

“Aku harus terus melangkah. Harus. Anak-anakku sendiri di atas sana dan kegelapan siap menerkam jiwa mereka. Tak akan kubiarkan.”

Lalu dicobanya memapah dirinya sendiri. Diangkatnya kedua tangan yang semakin bergetar menahan pedih dan kedinginan. Diraihnya ranting kecil di sisi dinding jurang, dan merayap di antara kemelut, ketakutan, dingin dan putus asa. Matanya tak henti menatap nun jauh di atas. Ya, terlalu jauh cahaya yang menyilaukan itu. Tapi tetap ditekuninya dinding terjal penuh onak itu dengan tak henti memanggil sang Kekasih.

“Temani aku yang semakin nista ini Sayangku. Jangan biarkan hati ini meronta lagi. Biarkan aku mendaki jurang yang licin ini demi anak-anakku. Dan jagalah hatiku agar tidak terjatuh lagi. Aku tak akan bertanya lagi mengapa aku kehilangan dunia dan cinta hingga harus menempuh ribuan mil jalanan tandus. Aku juga tak akan bertanya mengapa aku jatuh ke dalam jurang yang sangat terjal ini. Tapi aku mohon, jangan biarkan air mataku jatuh. Agar mata hatiku dapat selalu menatapMu.”

~~~~~

Sahara menggapai bibir jurang dengan tangan gemetar antara rindu udara segar, ketakutan dan rasa syukur dapat mencapai tepian terang. Dilemparnya botol hitam dan dedaunan kering penghisap nyawa ke dalam jurang itu. Tangannya merah penuh darah, hatinya tak berbentuk lagi terburai oleh ribuan luka. Diusapnya peluh kerinduan akan cinta, dan Cinta itu telah menunggu dengan senyum hangat yang tak pernah lelah menemani.

“Aku tak akan mengeluh Cintaku, tak akan mempertanyakan pahit dan kesakitan ini, tapi aku mohon, jangan berikan ini pada yang lain, biarkan aku saja yang merasakannya. Akan kubagikan cinta yang kau berikan padaku ini kepada yang lainnya, agar mereka tak sampai jatuh ke jurang ini.”

Lalu menengok sekali lagi ke jurang terjal di belakangnya. Tubuhnya bergidik ngilu, matanya meradang penuh kengerian. Ditinggalkannya jurang itu dan akan dikenangnya sebagai salah satu dari lembaran yang pernah disinggahinya.

~~~~~

Dilihatnya deretan pintu berjajar rapi di setiap lorong yang dilaluinya dengan tertatih. Setiap pintu yang diketuknya hanya membuka sejenak dan mengambil satu persatu perbekalannya yang memang sudah tandas. Namun dimintakan lagi bekal baru pada Cintanya, untuk menguatkan langkah demi langkah menuju cahaya nun jauh di ujung lorong gelap. Ditariknya hatinya agar terus memanggil sang Kekasih menemaninya dalam dinginnya hitam. Lalu melangkah dan terus melangkah walau dengan menahan luka dan haus kian merajam nyeri.

“Aku tak akan menyerah. Ya, demi anak-anakku aku tak akan lagi menyerah pada kenestapaan ini. Juga demi jiwa-jiwa yang haus, aku tak akan lagi bertanya apapun. Di sana ada cahaya tersembunyi. Walau sangat tersembunyi tapi aku telah melihatnya sedikit. Aku tak akan bertanya cahaya apakah itu, kapan aku dapat menggapainya, tak akan, aku tak akan bertanya, agar hatiku dapat menekuni jalanan licin ini.”

Dan Sahara terus berjalan, sampai pada sebuah titian, matanya terpaku pada sebuah pintu terbuka perlahan di depannya. Matanya perlahan mengintip ke dalam pintu itu. Ragu namun tetap dihampirinya.

“Apakah aku akan diterima di pintu ini ya Cinta? Tubuhku hitam pekat. Apa aku pantas melangkah ke dalamnya?”

Cahaya lilin keluar menyambutnya dengan merdu dari dalam pintu itu. Sahara tertegun menatap takjub hingga tak dapat mengolah lidahnya mengukir sapaan. Ditatapnya dengan hatinya lilin kecil itu untuk menyampaikan isi hatinya, lalu samar nampak tangan kekar namun lembut terulur meraih tangannya.

Sahara ingin menjelaskan siapa dirinya di tengah kegelapan, tapi dia tak pernah bertanya, hanya satu kata yang diucapkannya untuk memberitahu siapa dirinya.

“ASA”

Ya, hanya satu kata saja. Dan Sahara tak perlu menjelaskan apa pun untuk dapat masuk ke dalam pintu yang semakin terbuka di depannya. Tak dapat dielakkannya dahaganya sudah tak tertahankan lagi. Kedinginan dan senyap pun memaksanya untuk singgah di pintu itu. Pintu tanpa syarat yang pertama kali terbuka untuknya.

“Ya Kekasih, aku menemukan satu pintu terbuka untukku di sini. Aku mohon ijinkan aku singgah sebentar ke dalam pintu ini. Tak apa walau hanya sekejap. Aku ingin membagikan cinta dan bekal yang kau berikan di sini. Aku tak akan lupa bahwa aku harus menuju cahaya di ujung lorong itu. Tapi leherku sungguh sangat tercekat haus. Dampingilah aku.”

Dan diikutinya langkah tegap tangan kekar yang hangat membimbing tangannya yang hitam pekat. Perlahan namun pasti tangan itu membuat beku hatinya memudar. Perlahan kedinginan yang menyiksanya membaur dengan kehangatan di dalam pintu itu. Dan dibukanya perbekalannya untuk satu persatu diberikannya pada setiap hati yang datang padanya.

Jendela hatinya perlahan membuka senyum, esok jika perjalanan ke ujung lorong telah tiba, tak akan dilupakannya pintu ini.*****

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google
(persembahan khusus untuk Bang ASA, sebagai ucapan terima kasih)

Andy Syoekry Amal
Kau datang di ambang asaku,
bagai bintang kecil di tengah langit kian pekat,
bagai lilin kecil di gelap malam gulita,
menyapa dan menganggapku bukan siapa-siapa,
yang patut  dipertanyakan hitam pekatnya.
Namamu adalah titipan abadi,
dan kau,
mendapat cintaNya melalui cintamu.
Aku berdoa.
Semoga engkau sampai di ujung jalan tujuan,
bergelimang sinar cinta dan Cinta,
seperti sinar cinta yang pernah,
dan selalu kau bagikan.
-A M I N-

8 responses to “Asa Di Ambang Asa

    • Sudah pernah Bang, tapi sudah lama sekali. Ingatan saya sangat tajam untuk tiap kebaikan yang Abang berikan, jadi tulisan ini masih saya simpan, dan saya abadikan di sini.

      Bahagia dan sehat selalu untukmu ya Bang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s