Surat Untuk Indung

Kutulis bait ini untuk mengantarmu pada lelapnya malam,
membelaimu pada hitam dan pekatnya mimpi,
agar esok jika dini hari telah tiba,
kau bangun dengan hati riang dan ringan,
seringan singgasana barumu.

Saat kuingin kau selesaikan hatimu,
bukanlah kiblatmu pada penting atau tidak luka itu,
karena kau tak tahu betapa penting selesai hatimu untukku,
agar tak ada lagi remah dukamu halangi langkahku.

–)0(–

Ranggawuni mengusap kertas putih di tangannya, lalu mulai menulis sebuah surat untuk buah hatinya. Ditatapnya jiwa sang buah hati dari balik malam, berharap pesan yang hendak dia tulis tersampaikan dan meresap ke dalam hati putri tercintanya.

Indung putriku yang cantik,

Jangan lupa pesan Ibu selalu ya. Bersihkan hatimu pada tiap sujudmu. Ibaratnya kita menampung air di bak besar dan bersih. Bak itu adalah hati, dan air itu adalah jiwa kita yang sebenarnya adalah cinta, sedangkan endapan adalah masalah, amarah, kesakitan, kejadian atau duniawi yang pernah kau lewati.

Dalam waktu yang cukup, air yang kita tampung akan menjadi jernih karena kotorannya mengendap di bawah. Sekarang bayangkan apa yang akan terjadi jika endapan itu tidak kita bersihkan secara berkala. Jika air tinggal sedikit, endapan akan langsung mengambang dan membuat air menjadi tampak kotor, padahal sebenarnya air itu bersih. Bahkan jika air habis, endapan itu akan seketika mengotori bak, menempel dan lekat.
Begitu juga dengan kita manusia. Walaupun sebuah masalah telah lalu dan kita anggap sudah selesai, bahkan tidak lagi penting untuk dibicarakan atau diingat, akan mengotori hati bahkan merusak kesuluran diri kita jika kita tidak benar-benar membersihkannya dari endapan di dasar hati.

Artinya, masalah selesai dan hati kita juga sebaiknya selesai. Tidak ada sebesar debupun rasa kurang puas atau menyesali masalah itu. Tidak juga ada rasa berat di hati saat mengingatnya. Ibu ingin kamu menjadi gadis yang tidak hanya cantik wajah, tapi juga cantik hati. Nah bagaimana cara kita tahu bahwa hati kita sudah selesai atas sebuah masalah?

  • Jika kita sudah tidak menangis lagi ketika mengingat masalah itu.
  • Jika kita tdak lagi marah, menyesali, malu, kecewa, sedih, atau kesal, dll saat mengingat masalah itu.
  • Jika kita sudah berani atau bisa mengingat, membicarakan, menceritakan masalah itu dengan perasaan dan kondisi wajar. Sambil tertawa kalau perlu, tapi tertawa yang sesungguhnya. Disertai perasaan bahwa wajarlah masalah itu terjadi karena manusia tidak ada yang sempurna. Dan pengertian bahwa tiap manusia mempunyai masalah dan jatah ujiannya masing-masing.


Nah sekarang gimana dengan dirimu sayang? Carilah apa yang tidak bisa atau tidak berani kamu ungkapkan di depan umum dengan sewajarnya? Percayalah Indung, Tuhan memberimu kesempatan untuk menyelesaikan ini. Ibu juga yakinkan dirimu, Ibu akan selalu ada untukmu.

Salam rindu dari Ibu yang selalu mencintaimu.

by Kit Rose
———————————————————————————————–
Petikan Naskah Buku “Endapan” – Bersambung

Ilustrasi Image Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s