Kami Masih Ada

Selamat malam Wahai Para Pemimpin,

Selamat malam,

langit bumi laut dan kehidupan.

Sajakku menapak di sini tinggalkan jejak,

menanti siraman teriakanmu agar tidak meleleh terbakar,

tinggi di atas langit kugantung harapanku agar kau tak melihatnya,

dan memang kau tak pernah melihat harapanku.

Dari kawan, kita menjadi lawan,

lalu terlupa pada malam pertama kita,

saat kau gelar selimut cinta untuk kupilih mana terindah,

saat kau merajuk kita beranak dua saja,

dan kini aku tergelepar kedinginan di tepian jalan.

Mana hai-ku, hai-kita yang lalu,

yang terlanjur kucatat di buku kehidupanku,

menanti saat kita kembali bercengkerama dalam alunan kasih,

memadu karya indah namun semakin tak ada.

Kini aku semakin tahu hanya Tuhan yang sungguh-sungguh,

dan kau tak tahu dirimu bermain-main,

tak pernah berhenti mencoba memainkan bola api,

terlupa di tengah laut nelayan berseru,

di tepian pematang petani berlari menggapai mimpinya,

di tengah istana megah kami terkapar.

kau hanya berteriak, “ini dadaku dan perjuanganku”,

demi anak bangsa katamu,

namun kau lupa di manakah dan yang mana anak-anak bangsa itu.

Apakah di dalam senyap? Pada tiupan angin? Di dalam dingin?

Atau di tengah kotamu bahkan rumah kacamu?

Tidak ada sayang, di sana tidak ada siapa-siapa lagi, kau tahu?

Karena aku di sini,

menatapmu kosong dan semakin kosong,

karena telah kau lukai wajahku,

dengan seruan perjuangan yang entah untuk apa dan yang mana,

aku tak lagi dapat memahaminya untukmu.

Janganlah kau tunggu bayang-bayangku kian memanjang,

menarikku ke belakang dan semakin panjang,

lalu kau tumbang bersama kelu,

pada dinding perjuangan malam pertama kita.

Dan kota-kota terbakar lalu kau meleleh,

dan kita terbakar lalu kaku menatap hampir menyesal,

penyesalan dan ratap sia-sia kurasa,

hingga dunia tertawa untuk tipu dan kebodohan kita.

Mari kita basuh diri dengan peluh sendiri,

mari bersama kita seka hati dengan air mata sendiri,

agar siang dan malam hari menuju dini,

menapak kembali mengulang bait indah kita,

membaca kembali untuk apa malam panjang pertama kita.

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google

————————————————————————————————————–

Beriringan bersama datangnya siang dan malam lalu kembali pada dini hari,

kami melangkah tiada henti mencari hati yang ingin memberi,

namun tak pernah hadir di sini selain teriakan,

lantang dan memilukan.

2 responses to “Kami Masih Ada

  1. pertamaxxxxxxxxxxx😀

    Kata siapa kami sudah hilang,disini kami berjuang menggapai mimpi di kesunyian malam,kusadari tanpa adanya kehadiranmupun kami dapat bertahan hidup…
    mana janji manismu yang dulu terucap?
    janji manis yang slalu kau ucapkan yang membuat kami terlena,terbuai dalam kebusukan dan kebodohan.
    tapi kini sekarang kami sadar,kau bukan yang terbaik buat kami,dan kau hanya memanfaatkan kami disaat kau butuh dukungan dari kami.

    sekarang kami tidak percaya,dan tidak akan pernah percaya sampai kapanpun…..

    hahayy si akuh nulis apa tuh,ngasal inimah nyonya hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s