Darah Di Bibir

Kurangkai kata untuk sebuah lembaran,
dan kutemukan makna untuk kutelusuri arahnya,
ketika pada lembar berikut aku melihat potret diri ada di sana.

Kusulam rajutan indah untuk halaman cinta,
dan kudapatkan sakit menggores pada bingkai rapuh,
ketika kembali harus kudapatkan pantulannya masih menatapku.

Ku alunkan nyanyian merdu untuk dicerna,
dan aku terbuai mengikuti nada indah dari bibirku,
lalu kutemukan diri tergenang darah hitam dari bibir pelantun tembang.

~~):(~~

Trivena kembali melangkah dengan gontai menerjang kegelapan malam. Dinyalakannya sebatang sigaret, dihembuskannya asap putih sambil tetap melangkah, meliuk perlahan menemani sisa perjalanan. Air matanya menitik perlahan, namun di bibirnya tersungging senyuman indah, senyum kebahagiaan untuk terkasih. Senyum cinta untuk keputusan yang telah dibuatnya bersama Rio. Hatinya menerawang damai, menatap indah cinta di balik rimbun perdu merindu. Lalu menatap langit yang semakin menghitam sambil tetap melangkah.
“Maafkan aku Vena. Ini semua demi Firly, sahabat kita. Hidupnya tak lama lagi,” kata Rio beberapa detik yang lalu.
“Tidak perlu meminta maaf Rio. Menikahlah dengannya, aku merestui pernikahan kalian.”
“Andai kanker otak itu tidak ada padanya,,,”
“Sudahlah Rio, tak perlu disesali. Yakinkan dia bahwa kau mencintai dan akan selalu menjaganya.”
“Kamu tidak apa-apa kan?”
“Kenapa bertanya begitu? Aku sungguh merestui kalian.”
“Kamu menempuh perjalanan panjang untuk dapat kuliah di sini, di kota ini bersamaku. Tapi berakhir seperti ini.”
Trivena menjawab dengan senyum. Ditahannya agar airmatanya tidak tumpah di hadapan Rio. Mereka saling menatap sejenak, bertukar senyum lalu berjalan gontai menembus malam. Trivena menatap langit yang tiba-tiba menjadi gelap dan tanpa bintang.
“Akan selalu kukirim nyanyian rindu untukmu Rio. Demi cintaku yang indah ini, akan kujaga hatiku agar tak merebutmu dari singgasana cinta nun jauh di sana, di hati Firly. Aku bahagia untuk bahagiamu, juga untuk rindu dan kehangatan cinta kita. Aku telah lama berkelana dalam hitam mencarimu dan kini telah usai. Aku tak ingin apapun selain bahagia dan ketenanganmu. Juga untuk bahagia dan ketenangan Firly. Aku hanya ingin menanti Dia menjemputku.”
Airmatanya semakin deras mengalir. Dikitarinya taman yang telah senyap itu tak ingin berhenti. Tubuhnya bergetar antara bahagia telah dapat menatap cinta di mata sahabatnya, sekaligus nyeri karena harus kembali melepas apa yang belum sempat direngkuhnya. Satu per satu bayangan masa lalu melintas. Lalu kembali menatap langit di kejauhan.
“Aku ingin Kau segera menjemputku Ya Kekasih. Aku sudah lakukan semua yang harus kulakukan. Tidakkah Engkau iba melihatku kelelahan di sini? Aku sungguh-sungguh lelah,” isak Trivena sambil tersungkur di tanah yang mulai basah.
Hujan deras menguyur tubuhnya tak dirasakannya. Tubuhnya semakin bergetar mencengkeram tanah basah di depannya. Hatinya melolong pada gelap malam memohon maut segera menjemput. Nadinya menjerit pada alam memohon dirinya segera terbang menyatu dengan awan. Kelelahan benar-benar tak dapat ditahannya lagi. Dicengkeramnya kepalanya yang kini lebih kuat berdenyut.
~~):(~~
Trivena merasakan kepalanya berdenyut semakin kencang pagi ini. Berkali-kali dicobanya untuk beranjak dari pembaringan namun tubuhnya terlalu lemas menahan sakit di kepalanya yang kian hari kian menghunjam. Trivena meraba sekitar untuk mencari telepon genggamnya ketika pesan didengarnya masuk. Dibacanya pesan itu dengan mata berkunang.
Rio : “Vena, terima kasih untuk semalam. Setidaknya masih ada tersisa sinar cinta untuk kubagikan pada sisa hidup ini. Walaupun kita tak dapat bersatu dalam cinta, namun aku bahagia pernah mencintaimu.”
Lalu terdengar ketukan di pintu. Tak lama Ijah, pembantunya muncul di pintu. Trivena baru tersadar bahwa dia harus mengantar teman-temannya pulang. Teman-temannya yang menginap di rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Ijah mengernyitkan dahinya dan segera menghampiri majikannya dengan kawatir.
“Nona sakit lagi?” tanyanya cemas.
“Hanya pusing sedikit,” jawab Trivena menenangkan.
Ditahannya rasa sakit yang semakin menghunjam di kepalanya lalu sekuat tenaga mencoba bangkit berdiri. Diambilnya kopi yang sudah tersedia di meja kerjanya berharap sakit di kepalanya berkurang. Tangannya bergetar hebat saat membuka tutup cangkir itu.
“Teman-teman Non biar pulang sendiri saja Non, Non istirahat saja ya,” pinta Ijah dengan nada kawatir.
Matanya menatap majikannya dengan cemas. Belakangan dilihatnya kesehatan majikannya semakin menurun. Seringkali secara tak sengaja Ijah melihat Trivena memegang kepalanya dengan raut kesakitan. Ingin dia bertanya namun dia tahu majikannya tak akan pernah mengatakan bahwa dirinya sedang sakit.
“Nggak usah, aku antar saja, hanya pusing sedikit,” jawab Trivena setelah meneguk kopinya perlahan.
“Non kan bisa mengatakan pada mereka untuk pulang sendiri. Kelihatannya Non sedang kurang sehat.”
“Ah, kamu nyinyir sekali Jah,” jawab Trivena sambil tertawa.
Dinyalakannya sigaret kesayangannya sambil duduk di pembaringan. Dicobanya untuk tetap tertawa di depan Ijah. Matanya semakin mengabur namun Trivena tak mempedulikannya. Tak dipedulikannya juga vonis dokter tentang kanker otak yang juga sedang bersarang di kepalanya.
“Apa saya telepon Tuan dan Nyonyah besar agar datang ke sini?”
“Nggak usah ah. Aku mandi dulu sebentar. Tolong siapkan sarapan untuk mereka ya. Setelah itu aku langsung antar mereka pulang.”
Ijah berjalan ke luar dari kamar Trivena dengan ragu. Kepalanya kembali menengok ke belakang sebelum menghilang dari balik pintu. Ijah merasakan sesuatu yang aneh dalam diri majikannya belakangan ini. Mata sayu majikannya semakin layu dan tanpa cahaya seperti biasanya. Tatapan mata sayu itu dilihatnya semakin kosong dan tanpa semangat. Ijah termenung di dapur agak lama. Mencoba mengartikan makna dari sikap majikannya.

~~):(~~

Trivena menurunkan teman-temannya di perbatasan jalan. Cium peluk dan salam perpisahan membuatnya merasa bersalah. Seharusnya mereka sampai di tempat tujuan bersamanya, namun kantuk dan tugas lain yang berderet, juga rasa sakit di kepalanya yang tak dapat lagi ditahannya membuatnya harus memutuskan untuk sampai di sana saja dia mengantar teman-temannya.
“Tuh ada taxi Ven, kami turun di sini saja.”
Firly, temannya yang cantik menunjuk sebuah taxi parkir di tepi jalan, lalu Trivena menepi dan memarkir sebentar mobilnya, mengucapkan salam perpisahan untuk teman-temannya.
“Hati-hati ya, maaf aku nggak bisa antar sampai rumah,” ucap Trivena sambil mencium sahabatnya Firly.
“Nggak apa-apa, terima kasih ya,”
“Hati-hati kalian.”
“Kamu yang hati-hati, jangan ngebut.”
Rio sang jagoan kampus menepuk bahunya pelan. Sekelebat Trivena menangkap kilatan bayangan. Darah.
“Aku nggak antar kalian sampai rumah, agar kalian bisa berduaan. Mana ucapan terima kasihnya?”
Tawa riang segera berderai menghiasi wajah tiga sahabat itu. Trivena segera memacu mobilnya melesat di antara kabut pagi dan pengendara di tengah jalan memanjang. Tugas akhir selesai dikerjakannya bersama ketiga sahabatnya, tinggal menunggu sidang skripsi yang cukup menyita gentar di hati. Namun kegelisahan menghantui dan segera melenyapkan kantuknya, terusik bayangan dua wajah yang sama dicintainya.
“Aku masih mencintaimu Rio, walau pun kita sudah mengikrarkan berakhirnya hubungan kita karena kita memang harus bersahabat saja,” desahnya sambil menyelami alunan Five For Fighting dari radio.
Dinyalakannya sigaret mencoba mengusir bayangan yang melekat erat di genggaman hatinya. Kembali dihembuskannya asap putih mengepul di udara, menemaninya merangkai sepi yang kembali merayap.
“Dan haruskah kusampaikan padamu Firly, tentang halaman yang pernah kulalui bersama orang yang sekarang memelukmu dengan hangat?”
“Kenapa aku melihat darah?” bisik Trivena sambil memegang kepalanya yang kembali terasa nyeri, “Apakah waktuku sudah tiba?”
Trivena segera memacu mobilnya melesat di antara kabut pagi dan pengendara di tengah jalan memanjang. Pertemuannya dengan Rio dan Firly sangat membahagiakan. Pengorbanannya untuk Rio dan Firly juga sangat melegakan, bahwa dirinya tak akan merebut kebahagiaan sahabatnya dan menjadi perempuan yang egois. Matanya lagi-lagi menatap jalanan dengan tatapan kosong, berharap Sang Kekasih segera menjemput.
Lalu diusirnya gelisah itu dengan memacu mobilnya semakin kencang. Jalanan seakan melintas cepat memberinya waktu untuk menuang sedikit galau dan pedih. Senyumnya segera mengembang di antara airmatanya yang kian deras mengalir. Hatinya menatap langit dan awan yang terasa semakin dekat dengannya.

~~):(~~
Trivena memarkir mobilnya lalu mengangkat ponselnya yang nyaring mengejutkan lamunannya dan membuat dahinya mengernyit. Denyut di kepalanya segera menghilang saat dilihatnya siapa yang menelepon.
“Baru sampai rumah udah telepon. Ada apa Non, sudah kangenkah padaku?” sambut Trivena sambil tersenyum.
“Cepet banget? Kami masih di tol Ven.”
“Jalanan sepi jadi cepet.”
“Ngebut lagi pasti.”
“Udah nggak usah dibahas, ada apa?”
“Tadi lupa, boleh kupinjam buku kumpulan puisimu?”
“Ah, sudah lama itu Fir. Kuno.”
“Tapi aku masih ingat, puisimu banyak yang indah.”
“Sesukamu sajalah menyebutnya bagaimana.”
“Pinjam ya? Minggu depan aku ambil.”
“Sudah kusimpan di atas lemari.”
“Tolonglah Ven, aku pingin kasih puisi untuk Rio, untuk mengobati rinduku padanya jika dia pergi kuliah.”
“Lemari paling atas Non, kalau aku jatuh gimana?”
“Kamu sayang aku dan juga Rio kan?”
“Baiklah, kalian tahu aku sangat menyayangi kalian, lebih dari apapun.”
Trivena menutup ponselnya, memasuki rumah sambil menghapus air matanya. Kepalanya kembali berdenyut kencang. Diambilnya tangga lipat dan segera dipanjatnya lemari buku berwarna hitam pekat itu, lalu tangannya gemetar meraih buku yang dicarinya di rak teratas. Diusapnya buku usang kumpulan puisi cinta dan rindunya itu dengan lembut. Airmatanya mengalir deras, menatap Rio dalam hatinya. Hatinya merintih namun ada senyum di bibirnya yang semakin memucat.
“Andai aku dapat membacakan puisi-puisi ini untukmu Rio, sambil merebahkan lelah di dadamu. Melewati malam-malam yang selalu kita harap dan impikan bersama untuk menjadi nyata,,,”
Tiba-tiba Trivena merasakan kepalanya berdenyut semakin hebat. Trivena memegang kepalanya menahan sakit. Badannya segera kehilangan keseimbangan dan melayang ke belakang.
Prang,,,!!!
Tubuh Trivena terpelanting dengan keras. Kepalanya menimpa meja kaca yang terletak di depan lemari. Buku yang dipegangnya terpental ke sudut meja. Trivena meraba ingin meraih buku yang diminta Firly. Namun pandangan matanya semakin mengabur dan hilang. Semakin hitam dan pekat. Tubuhnya menggeliat kesakitan, perlahan melemah, lalu diam. Darah segar mengucur deras dari kepalanya, menggenang di sekitar tubuhnya, semakin banyak, pekat menggenang. Dan hitam.

Kit Rose, 08 Maret 2010

Ilustrasi Image Google

—————————————————————————————————————
Malam bergulir cepat dan semakin pekat, banyak butiran bening bergulir, untukmu. Aku pun masih di sini menatap senyum di wajahmu yang semakin samar dan menjauh. Lalu untuk apa aku masih melangkah dan menatap wajah yang kian hilang, sedangkan Dia sudah bersamaku dalam indahnya CINTA abadi.
—————————————————————————————————————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s