Sang Kekasih

Menyulam terang dan terbang,
siang pun sudah tertera dan burung bersayap.
Gunung dan mendung telah bersahabat,
bagai nada dan lagu berirama.
Lalu panas menyusut menjadi senja,
tak perlu lagi hati meradang suarakan kepiluan,
di sana Kekasih kirimkan kehangatan dari bilik lain.

Malam mengembang suarakan rindu,
dalam senyap ada kepasrahan,
lalu wajah pecah di depan kaca cermin,
hanya pantulannya saja bawa sakit,
Sang Kekasih hantarkan nikmat dari bilik lain sebuah hati.

—):(—

Pipit diam saja mendengarkan celoteh putrinya tentang teman-teman remajanya yang beberapa mulai menyukainya. Perhatiannya tak lepas dari jalanan yang semakin ramai dan padat di depannya. Sesekali dibunyikannya klakson untuk memberi peringatan pada pengendara lain yang lengah. Lagu-lagu cinta mengalun dari radio mobil menambah riang ruangan kecil itu. Pipit sengaja tak ingin mengganggu cerita putrinya agar dirinya tak perlu lagi kebingungan menjawab pertanyaan demi pertanyaan putrinya tentang ke mana dan mengapa Papanya pergi dari rumah mereka.
Keluar dari tol Pipit mengarahkan mobilnya ke jalanan kecil di sepanjang kolong jembatan. Lampu hijau membuat jalan semakin padat. Pipit mencari tempat aman untuk memarkir mobilnya. Beberapa pasang mata tajam dan penuh kecurigaan menatapnya waspada. Beberapa lagi menatap dengan nyalang dan senyum menyeringai, entah sedang ingin menikmati apa. Pipit meneguhkan hatinya sebelum mengajak putrinya turun.
“Mau ngapain Mama ke sini?” tanya Harum, putrinya heran.
“Harum turun dulu, nanti Mama jelasin,” jawab Pipit sambil tersenyum.
“Tapi sekolahnya?”
“Sebentar saja, masih ada waktu satu jam.”
“Enggak ah. Takut Ma,” jawab Harum dengan wajah ketakutan.
Matanya mengitari pemandangan di sekitarnya dengan sorot mata ketakutan. Gubuk-gubuk reot tidak lagi layak sebagai tempat tinggal, tatapan mata menyala dari penghuninya yang lalu lalang di sana dan pemandangan yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya, membuat gadis kecil itu tak bergeming dari duduknya. Pipit tersenyum dan segera turun dari mobil. Berjalan mengitari mobil dibukanya pintu di sisi Harum duduk.
“Lihat kan? Mama sudah turun dari mobil dan tidak apa-apa. Ayolah, katanya tadi malam Harum pingin jalan-jalan?”
“Jalan-jalan seperti biasanya Ma, bukan ke sini. Masa jalan-jalan ke tempat seperti ini? Lagi pula Harum maunya jalan-jalan sama Papa.”
Pipit masih tersenyum lembut. Ditahannya sinar mentari yang semakin menyengat menerpa punggungnya. Ditatapnya putrinya dengan lembut dan diusapnya tangan gadis kecil itu perlahan untuk memberikan ketenangan.
“Harum, Mama ingin menunjukkan sesuatu padamu, setelah itu Mama janji kita jalan-jalan seperti biasa. Harum mau ke mana akhir pekan ini?”
“Ke toko buku.”
“Siap Nona Cantik, Sabtu besok Mama antar ke toko buku.”
“Sama Papa?”
Pipit menjawab dengan senyuman. Hatinya berdesir perlahan namun terasa nyerinya menghunjam. Harum dengan ragu turun dari mobil, erat menggenggam tangan Pipit. Pipit semakin melebarkan senyumnya. Ditatapnya putrinya dengan lembut sambil membimbing tangannya ke bawah jembatan mencari tempat teduh.
Di dekat tiang beton mereka duduk bersebelahan. Harum merapatkan tubuhnya pada lengan Pipit, memandang sekitar dengan ragu. Pipit memeluk pundaknya dengan lembut. Dipanggilnya pedagang asongan cilik yang sedang melintas di depan mereka sambil memandang heran.
“Harum mau minum apa?”
“Itu sehat Ma?” tanya remaja kecil itu ragu.
Pipit tergelak sambil mengambil salah satu minuman kaleng di wadah lusuh yang dijinjing pedagang kecil itu. Ditelitinya tanggal kadaluarsa pada kaleng, dibukanya minuman itu lalu diteguknya sambil memandang putrinya. Sementara pedagang asongan kecil di depan mereka menatap dengan pandangan semakin kebingungan, sekaligus berharap dagangannya akan terjual satu lagi.
“Ini, Harum lihat ya. Minuman ini sama dengan yang dijual di super market, baik kemasan maupun mereknya. Tidak usah kawatir, yang penting tanggal kadaluarsanya tidak lewat,” jelasnya.
“Harum haus juga sih.”
“Nah, ya sudah, ambil saja.”
Perlahan tangan Harum terulur, memilih minuman dalam wadah yang segera disodorkan padanya. Pedagang asongan kecil itu tersenyum lega melihat Harum memilih dagangannya. Pipit membayar minuman sebelum pedagang itu berlalu dari sana dengan senyum ceria. Pipit meletakkan minumannya di lantai beton di sebelahnya lalu menyalakan sigaretnya. Tak lama seorang pedagang lain menghampiri dan menawarkan dagangannya.
“Permen Mbak,” sapanya dengan penuh harap.
Pipit memandang pedagang itu ragu, melirik pedagang lain yang siap menghampirinya. Diambilnya beberapa permen kemasan dari wadah yang tak kalah lusuh dari pedagang sebelumnya. Membayarnya sambil membalas senyum gembira dari pedagang itu. Angin berhembus perlahan, menyapu debu di sana dan Harum segera menutup wajahnya. Diletakkannya dagunya pada lututnya sambil memandang orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka dengan berbagai macam tingkah. Pipit meliriknya, tak ingin mengganggu lamunan putrinya.
“Kasihan orang-orang ini ya Ma,” gumam Harum hampir berbisik.
“Ya. Kasihan. Syukurlah Harum masih merasakan itu.”
Remaja belia itu tertegun mendengar ucapan Mamanya. Matanya semakin berani mengitari pemandangan di sekitarnya. Ditatapnya seorang gadis kecil sedang mengamen di depan sebuah mobil. Bukan uang receh yang didapatkan gadis kecil itu, tetapi hentakan mobil pengendaranya dengan dibarengi kibasan tangan. Pipit mengikuti pandangan putrinya, lalu memanggil gadis pengamen itu untuk mendekat.
“Bersediakah kamu menyanyikan lagu untuk kami?” tanya Pipit.
“Mau Tante. Mau sekali, tapi dibayar ya?” jawab gadis itu lugu.
“Tentu saja sayang,” jawab Pipit sambil tertawa renyah.
Segera gadis kecil itu dengan bersemangat menyanyikan lagu Kasih Ibu. Pipit dan Harum mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama gadis itu berlari kegirangan mendapatkan lembaran sepuluh ribu dari Pipit. Seorang perempuan tua mendekati mereka sambil berlinang air mata.
“Terima kasih Nyonya, Anda baik sekali,” menganggukkan kepalanya pada Pipit.
“Ibu apanya gadis itu?” tanya Pipit sopan.
“Saya Ibunya. Ayahnya pergi entah ke mana sejak putri saya itu masih berumur dua tahun.”
Pipit tak dapat mengucapkan sepatah kata pun sampai perempuan tua itu berlalu menyusul putrinya. Sementara Harum semakin tertegun dengan situasi di hadapannya. Sambil menunduk gadis itu berkata lirih, “Harum nggak jadi ke toko buku Ma.”
“Kenapa?” tanya Pipit hampir dapat membaca pikiran putrinya.
“Belum terlalu perlu Ma. Nanti saja kalau Papa pulang.”
Pipit tersenyum semakin lembut sambil mendekap tubuh putrinya dengan penuh rasa sayang dan syukur. Dibelainya kepala Harum dengan air mata hampir tak dapat ditahannya. Matanya menengadah memohon agar dirinya tidak menangis di depan putrinya.
“Harum, untuk membeli buku Mama tidak keberatan. Hanya saja Mama ingin Harum mengerti, keadaan kita masih jauh lebih baik dari pada anak-anak di sini.”
“Iya Ma, Harum mengerti.”
“Lihat saja anak kecil pedagang asongan tadi. Dia ditinggal Papanya ketika usianya masih sangat kecil. Mungkin juga anak itu tidak bisa mengingat masa-masa indah bersama Papanya. Tapi dia masih bisa ceria dan tidak mengeluh.”
Pipit berhenti sejenak, mengamati wajah putrinya. Sementara Harum masih diam, terlihat sedang merenung atau mencerna kalimat Mamanya. Tak lama alisnya terangkat dan memandang Mamanya.
“Emang Papa nggak akan pulang Ma?” tanya Harum.
Pipit benar-benar hampir tak dapat menguasai dirinya. Ditutupnya air mata yang hendak tumpah dengan tawa ceria. Lalu dipeluknya Harum makin erat, mencoba memberikan kedamaian di hati remaja kecil itu.
“Pastilah Papa akan pulang sayang. Hanya saja sekarang Papa sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jadi jangan bersedih lagi. Nanti malam Mama ingin melihat Harum tidak lagi menanyakan Papa, agar adik-adik juga nggak nangis lagi.”
“Tapi Harum rindu Papa. Kenapa juga Papa nggak pamit Harum waktu mau pergi.”
“Sebenarnya Papa juga ingin pamit Harum, tapi kan Harum pulang sekolahnya sore, sedangkan Papa harus segera berangkat.”
“Kenapa nggak hari sebelumnya Papa pamitnya?”
“Sudahlah sayang, kita doakan agar semua urusan Papa lancar. Ingat gadis pedagang tadi, cerialah seperti dia. Kita jalan sekarang ya biar Harum nggak terlambat.”
“Nanti malam Harum boleh telepon Papa?”
Pipit menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Direngkuhnya pundak putrinya lalu berjalan beriringan menuju mobil. Sepanjang perjalanan menuju sekolah diajaknya putrinya menyusun rencana-rencana untuk mereka lakukan bersama. Perlahan wajah Harum kembali ceria, turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Pipit menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dibiarkannya airmatanya tumpah berhamburan lalu dinyalakannya sebatang sigaret untuk menghentikan airmata itu, agar putranya yang lain tetap melihat senyum cerianya.

—):(—

Pipit memarkir mobilnya di garasi dengan malas. Sesampai di rumah kembali sepi menyergap. Dikuncinya kembali semua pintu rumahnya dengan kemalasan yang sama lalu merebahkan dirinya di sofa.  Diambilnya telepon genggamnya dan dua pesan sudah menunggu untuk dibacanya.
Dibacanya pesan pertama, dari Hasan, suaminya, “Pit, aku sudah berpikir dan memutuskan untuk mengakhiri saja pernikahan kita. Seperti yang pernah kau katakan, mungkin ini lebih baik, dari pada kita bersatu tapi selalu saling menyakiti. Maafkan aku.”
Pipit membaca ulang pesan itu sebelum menjawab, “Tidak perlu minta maaf San, aku menerima keputusan ini dengan lapang dada. Ini sudah kita bicarakan berulang kali.”
Hasan : “Apa yang kamu katakan pada anak-anak?”
Pipit : “Kamu sedang kerja di luar kota.”
Hasan : “Terima kasih ya Pit. Aku sangat menghargai apa yang telah kamu lakukan untukku. Semuanya, termasuk saat ini. Di saat anak-anak bisa saja membenciku, kau tetap menjaga itu agar tidak terjadi. Sekali lagi terima kasih Pit. Andai aku bisa tetap bersamamu,,,.”
Pipit : “Sudahlah, jangan memperkeruh keadaan. Semua sudah kita sepakati. Jangan lagi menengok ke belakang. Hidup adalah pilihan dan kamu harus memilih.”
Lama tak ada balasan. Pipit meletakkan telepon genggamnya di meja. Dinyalakannya sebatang sigaret, tak ingin membaca pesan lain di telepon genggam itu. Disandarkannya punggungnya di sofa, mencoba merangkai kalimat-kalimat indah untuk putra putrinya agar hati mereka tidak terluka. Hatinya tersenyum pada Sang Kekasih, mengucap syukur atas kemarahan yang tak sempat hinggap berlama-lama di hatinya. Lalu pesan baru masuk. Dengan enggan diraihnya telepon genggam di meja.
Hasan : “Andai gadis itu tidak hamil, aku tentu tak harus memilih untuk pergi darimu Pit. Karena aku masih mencintaimu. Ini semua hanya sebuah kesalahan yang tak dapat kuhindari. Maafkan aku,,,.”
Pipit : “Sudahlah San, kamu tahu aku tak pernah mengambil sebuah keputusan dengan hati berpura-pura. Masih banyak yang lebih penting kita bicarakan dari pada hanya sekedar penyesalan dan kesedihan. Aku sudah bersyukur karena bisa menerima dan mengerti apa yang sedang terjadi padamu. Jangan kamu lumuri ini dengan membuatku menangis nantinya.”
Hasan : “Kamu tidak pernah berubah. Selalu mengerti dengan apa saja yang sudah aku lakukan. Membuatku semakin berat meninggalkanmu.”
Pipit : “Kalau ada waktu, nanti malam teleponlah anak-anak, agar mereka tetap menganggapmu ada.”
Lalu pembicaraan berlanjut masih melalui pesan, membahas tentang apa yang harus dilakukan agar putra putri mereka tidak terluka hatinya. Pipit dapat menghela nafas lega setelah keputusan diambil bersama. Keduanya masih akan nampak sebagai sepasang suami istri di depan anak-anak sampai mereka cukup dewasa untuk dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua mereka.
Dibukanya pesan kedua setelah pembicaraan dengan suaminya usai. Pesan dari lelaki yang selalu mencoba ada di sisinya, mencoba menghibur dan membuatnya kuat. Dengan tak pernah berhenti mengingatkannya akan kekuatan CintaNya yang selalu bersamanya. Lelaki yang selalu membuatnya merasa ada dan tak pernah mengusirnya dari kehidupannya, walau hanya dalam mimpi. Dicobanya untuk menjadikan bayangan itu sebagai sang kekasih untuknya, menitipkan lelah sejenak untuk hati yang mulai rapuh.
“Masih banyak yang mencintaimu Pit, lebih banyak lagi yang menyayangimu, apalagi Tuhan.”
Pipit memejamkan matanya sambil tersenyum. Dibiarkannya airmata tumpah sejenak, agar dapat ditepisnya segala kerikil di hati yang kelak akan menahan langkahnya menggapai CINTA Sang Kekasih.

Kit Rose, 5 April 2010

Ilustrasi Image Google

—————————————————————————————————————
Jika CINTA masih berikan sinar pada pagi dan siang ini, aku akan tetap tersenyum, menunggu RINDU ini bertaut dengan CINTA pada dini hari yang lain. Dan ijinkan kusentuh sekali saja bayanganmu, agar rinduku usai.

14 responses to “Sang Kekasih

  1. Alhamdulillah……setidaknya sudah mulai tidak perlu berpura-pura….hehehhe.. sesuai nasehat “Sang Kekasih”.
    Terima kasih inspirasinya ya Mbak !!??

  2. Ceritanya bagus banget Mbak…
    Saya terharu dengan sikap Pipit yang rela berbuat apa saja demi melihat orang-orang terkasih itu bahagia. Ya anak-anaknya, ya suami (yang akan jadi mantan suami)
    Saya bisa merasakan perasaan Pipit itu, karena saya pernah ada dalam situasi sepertinya…

    • Terima kasih apresiasinya Mbak.
      Begitulah cinta, indah namun juga harus berani berkorban.
      Tidak menuntut dan tidak menyakiti, juga tidak mendendam.
      Semoga berkenan.
      Salam.

  3. mawar…??
    kalo anaknya pipit itu ceritanya ada brp org.. selain harum..??
    terus kalo harum itu umuran berapa..??
    eh napa sosok sang kekasih nya ga bnk di ceritain..??
    bagus ceritanya.. meskipun hubungan udh ga lancar,, pipit dan ayah dr anak2nya.. masih bisa saling “nutupin” sama anak2nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s