Desah Cinta

Aku berjalan tak pernah lelah,
mencari teman bercinta, menebar bias rindu,
pada mata senja yang mulai redup memandang duka,
menanti prahara kian meradang segera berakhir,
dan bilakah meredup bara membara di sana,
saat kusadari ternyata semua telah tak ada.

Bagai sampan di tengah laut kutabur butir-butir cinta,
kadang tak ingin mengayuh tetapi di sana ada wajah menanti,
di ujung pantai entah sampai kapan aku tiba di sana,
akankah benar-benar terselip satu cinta di antara puing-puing hati.

Aku ingin berlari saat dia ucapkan rindu dan cinta,
namun kehangatannya menahan langkahku,
dalam kehausan tiada tara aku menanti,
saat dia benar-benar mendekapku.

—):(—

Risma memandangi meja yang sudah dibersihkannya sampai bening, namun ditatapnya lagi meja kaca itu apakah benar-benar sudah berkilau. Lalu menata ulang pernak pernik dan hiasan di ruang tamu itu. Asbak kaca tak lupa disiapkannya untuk Nirmala, majikan perempuannya yang bermata sayu, yang tak pernah lupa menyelipkan sigaret di bibirnya. Ke manapun majikan perempuannya itu pergi, sigaret kesukaannya selalu menemani. Seolah tiada hal lain yang lebih menarik baginya.
Suara mobil memasuki garasi yang sudah dibukanya saat lima menit yang lalu majikannya menelpon untuk memberitahukan kepulangannya. Risma berjalan cepat ke garasi menyambut majikannya. Nirmala mengapit sigaret di bibirnya seperti biasa, membuka pintu mobil lalu memberikan bungkusan pada Risma. Tangannya penuh berkas dan buku-buku tebal, berjalan cepat menuju ke dalam rumah.
“Ini apa Nyah?”
“Itu oleh-oleh buatmu. Tadi ada tamu ke kantor dan membawa beberapa bingkisan. Sebagian aku tinggal untuk anak-anak di kantor dan itu buatmu.”
“Buat Nyonyah mana?”
“Nggak usah.”
“Nyonyah kan suka coklat juga, kenapa ini diberikan ke saya semua? Kita bagi dua ya Nyah? Banyak banget ini.”
Nirmala duduk menyilangkan kakinya, mengetuk abu rokok yang mulai memanjang di asbak bening, lalu menatap Risma. Senyum di bibirnya tak pernah pudar walau matanya menyiratkan kelelahan.
“Aku sudah puas dengan coklat-coklat itu Ris, bahkan sekarang menjadi tidak ingin menyentuhnya. Kamu tahu kenapa?”
“Karena Nyonya menginginkan coklat dari tangan lelaki itu.”
“Ya, dan itu tak akan pernah terjadi kan Ris?”
“Seperti saya juga merindukan perhatian dari seorang lelaki ya Nyah, tak akan bisa terwujud.”
Risma tertawa malu-malu, duduk bersimpuh di dekat majikannya sambil membuka bungkusan di tangannya. Nirmala memandangnya sambil tersenyum lucu.
“Nasib kita sama Ris.”
“Lain Nyah. Nyonyah hidupnya enak, lha saya?”
“Kamu merasa di sini kurang nyaman?”
“Bukan begitu Nyah. Saya nyaman di sini, tapi bagaimana pun juga kan saya dengan Nyonyah lain kedudukannya.”
“Sabar saja Ris, nanti kalau kamu sudah lulus sekolah persamaan itu, lalu kursus beberapa keterampilan, kamu bisa bekerja di kantor seperti aku.”
Risma sang pembantu berbinar matanya menikmati senyum di bibir majikannya. Mencoba menikmati masa depan lebih indah yang ditawarkan padanya, dan berharap mendengarkan desahan cinta yang tak berani dia ungkapkan dalam hatinya. Bila suatu saat nanti dirinya juga merasakan cinta.
Majikan lelakinya sudah pergi entah ke mana, sedangkan Nirmala tidak memiliki anak. Pagi hari bersamaan dengan Nirmala pergi ke kantor, Risma pergi juga ke tempat dia mengikuti sekolah persamaannya. Gadis itu tidak dapat menolak paksaan Nirmala untuk melanjutkan sekolah persamaan. Nirmala benar-benar menginginkan dirinya tidak selamanya menjadi pembantu di dalam rumah itu.
“Ada yang lain lagi Nyah,” celetuk Risma.
“Apa?”
“Lelaki yang saya impikan ada wujudnya, tapi Nyonyah,,,”
“Hanya bayangan maksudmu?”
“Maafkan saya Nyah.”
“Maaf untuk apa? Kamu tidak salah.”
“Saya mengingatkan Nyonyah pada Tuan yang sudah pergi dan,,,”
“Memilih perempuan lain? Sudahlah Risma. Kamu terlalu nyinyir untuk urusan cinta dan rindu ini.”
“Maaf Nyah.”
“Adakalanya kita berharap dan itu wajar saja, seperti kamu berharap dapat menikmati kehidupan seperti yang kujalani. Tapi kamu akan segera menghentikan harapanmu itu manakala kamu tahu benar apa yang sedang kurasakan.”
“Saya kok nggak ngerti ya Nyah.”
“Kamu tidak harus mengerti.”
“Nah yang Tuan Dimas bagaimana Nyah?”
“Kenapa emang dengan Dimas?”
“Kan Nyonyah mencintainya.”
“Dia sudah memiliki pasangannya Risma. Sudah memiliki keluarga, kamu tahu kan? Aku tidak mungkin terus mencintainya.”
“Lalu bagaimana dengan Nyonyah?”
“Ya sudah, kamu maunya bagaimana?”
Nirmala tertawa renyah, menyalakan kembali batang kesekian dari bungkus kesekian, lalu menatap lucu pada wajah pembantunya yang juga masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Apa Nyonyah tidak sedih gitu?”
“Kenapa harus sedih? Justru bersyukur masih bisa merasakan dan menikmati rasanya mencintai Ris.”
“Apa tuan Dimas tidak mencintai Nyonyah? Kalau nggak cinta kenapa tiap saat menghubungi dan menyapa Nyonyah?”
“Aku harap tidak. Sekarang kamu lebih nyinyir dari yang kukira. Tolong buatkan kopi untukku, aku mau mandi dulu ya.”
Nirmala berdiri dan berlalu dari ruangan itu menuju kamarnya. Tawanya masih terdengar berderai. Dan tak ada satu orang pun yang dapat mendengarkan desah cintanya yang tersimpan jauh dalam hatinya. Malam perlahan merambat menyelimuti rumah itu. Dan hitam memulai perbincangan dengan kelamnya malam.

—):(—

Nirmala merebahkan dirinya di tempat tidur setelah meyakinkan Risma mengunci semua pintu. Diambilnya laptop di meja kerja lalu dipindahkannya ke atas tempat tidur. Dicobanya untuk tidak berharap mendapatkan sapaan dari Dimas malam ini, lalu dibukanya laptop itu perlahan dan layar di depannya segera berkedip menyapanya. Dibacanya satu persatu pesan yang masuk di emailnya dan dibalasnya singkat-singkat. Semua tentang pekerjaan yang semakin lama ingin dibantahnya bahwa itu sudah cukup membosankan baginya. Tak lama terdengar suara Risma mengetuk pintu.
“Masuk saja, pintu tidak dikunci Ris,” jawabnya sambil mematikan laptopnya.
Risma memasuki kamarnya sambil membawa kopi yang dipesannya. Nirmala meletakkan laptopnya kembali di meja dan mengambil kopi dari tangan Risma lalu meminumnya perlahan. Diletakkannya cangkir kopi di meja dan segera menyalakan sigaretnya. Dilihatnya Risma sudah asyik dengan televisi di samping tempat tidurnya.
“Kamu kok nggak tidur Ris? Sudah malam ini, malah nyalain TV.”
“Nyonyah juga belum tidur kan? Kopinya saja masih panas.”
Nirmala tertawa sambil berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dibukanya jendela kamarnya lebar-lebar lalu duduk di dekat jendela.
“Kamu sudah semakin nyinyir sekarang ya. Selalu memiliki jawaban untuk setiap kalimat yang kuucapkan.”
“Saya kan sekarang sudah sekolah lagi Nyah, jadi sudah lebih pintar. Nyonyah juga kan yang dulu suka bilang saya ini sebenarnya anak pintar.”
“Ada cerita apa hari ini Ris?”
“Nggak ada Nyah.”
“Kamu nggak akan nonton TV di kamarku jika tak ada yang ingin kamu sampaikan.”
Kini Risma yang tertawa. Pipi dan wajahnya memerah. Ditatapnya majikannya ragu, menunduk sebentar lalu menatap lagi wajah Nirmala.
“Ada apa?”
“Gini Nyah. Tadi teman saya bilang, besok ingin mengajak saya pergi. Katanya sih mau jalan-jalan, tapi belum tahu mau ke mana.”
“Lelaki impianmu itu?”
Risma tidak menjawab, hanya tersipu malu lalu menundukkan kepala sambil memainkan jemarinya. Nirmala menghisap sigaret menyembunyikan senyumnya.
“Hati-hati ya Ris.”
“Jadi boleh Nyah?”
“Ya, tapi hati-hati. Jangan begitu saja percaya jika dia merayumu dengan kalimat-kalimat indah.”
“Tenang Nyah. Suatu saat nanti akan saya ajak ke mari untuk dinilai sama Nyonyah, biar saya nggak tertipu.”
Keduanya lalu berbincang tentang bagaimana menghadapi lelaki yang suka merayu. Nirmala mengajarkan banyak hal pada Risma, yang lebih dianggapnya sebagai teman dari pada pembantu. Lalu mengakhiri malam itu dengan tertawa riang. Risma mengundurkan diri dari kamar Nirmala dengan wajah berseri. Menantikan pagi dengan cemas. Sementara itu, Nirmala mendekap malam bersama bayangan Dimas dalam hatinya. Dibawanya bayangan itu ke dalam matanya yang terpejam, hingga benar-benar terlelap dalam keheningan rindu dan cinta. Direbahkannya kepalanya di dada Dimas, menikmati detak mimpi yang semakin hitam.

—):(—

Nirmala menggeliat lalu kembali meringkuk di bawah selimut. Adzan subuh pada dini hari yang cerah itu membangunkan tidurnya yang baru sekejap. Diambilnya telepon genggam yang tergeletak di sampingnya dan segera dilihatnya dua pesan dari Dimas. Segera senyum mengembang di sudut bibirnya.
Dimas : “Selamat pagi cinta, biarkan lelah menemani kita memetik sisa-sisa embun sejuk pagi ini.”
Masih dengan senyum, dibacanya pesan Dimas berikutnya : “Malaikat berbisik, “Bangunlah dan sapa kekasihmu yg sedang menunggumu bersama mimpi-mimpi”, dan kuhirup kopi dingin yg tersisa, kupandang sekitar, yang ada masih seperti kemaren.”
Nirmala meletakkan telepon genggamnya kembali di tempat tidur. Mata sayunya segera terbuka menyambut Minggu pagi yang terasa hampir ceria. Diguyurkannya air dingin di kamar mandi ke seluruh tubuhnya sambil bersenandung dalam hati. Lalu menyongsong pagi di atas permadani kecil di sudut kamarnya, mengalunkan Nyanyian Cinta untuk Sang Kekasih. Malam telah dilaluinya dengan mimpi indah walau hanya sejenak. Digenggamnya mimpi itu dalam alunan Cintanya.
Kemudian dilaluinya sisa pagi itu dengan mengerjakan sisa pekerjaan yang dibawanya pulang. Kepalanya berdenyut kencang namun tak segera dihiraukannya. Ditutupnya lembar kerja yang sudah rapi dan diambilnya telepon genggamnya yang masih tergeletak di tempat tidur. Dibalasnya pesan Dimas berharap hari itu berlalu semakin indah.
Nirmala : “Sedang apa Mas?”
Ditunggunya beberapa saat balasan dari Dimas. Dinyalakannya lagi sebatang sigaret sambil memandang ke luar jendela. Tak lama didengarnya pesan baru masuk.
Dimas : “Kamu seperti sedang tersenyum memandangku Nirmala, seperti sungguhan, matamu seperti bergerak, padahal aku tahu itu hanya fotomu.”
Senyum di bibir Nirmala semakin mengembang, namun airmatanya pun segera mengalir deras di pipinya. Dijawabnya pesan Dimas dengan tangan bergetar.
Nirmala : “Aku tidur hanya sebentar tadi malam, tapi mimpi indah sekali. Rasanya Mas benar-benar berada di sampingku dalam mimpi itu.”
Dimas : “Syukurlah, berarti keinginan doaku untuk selalu ada di sisimu terkabul, apapun bentuknya tidak penting.”
Nirmala : “Apakah Mas membawaku dan memelukku dalam mimpimu semalam?”
Dimas : “Tanpa kau minta pun aku selalu melakukannya, percayalah!”
Nirmala terdiam. Dihapusnya airmatanya, dibacanya berulang kali pesan dari Dimas, lalu berjalan ke arah jendela dan mengepulkan asap rokok ke luar jendela sambil memandangi awan yang mulai redup. Sinar mentari menghilang, seolah ingin menemaninya menangis sejenak. Lalu dibalasnya pesan Dimas.
Nirmala : “Mungkinkah ini menjadi nyata Mas?”
Dimas : “Iya ya, mungkinkah akan nyata?”
Nirmala meletakkan kembali telepon genggamnya di tempat tidur. Sepi kembali merayap setelah pesan-pesan mesra itu usai. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya. Mencoba mencari makna dari kalimat mesra yang dikirim Dimas untuknya. Lalu hatinya berbisik ngilu, “Apakah kau tak tahu aku benar-benar kehausan Dimas? Apakah kau pikir sudah cukup dapat menghilangkan haus ini dengan kalimat-kalimat indahmu itu? Aku benar-benar merindukan dekapanmu Dimas. Tidak hanya di dalam mimpi.”
Nirmala merebahkan dirinya lebih santai dan menatap hatinya dengan seksama. Dirangkainya kembali masa lalu yang terasa baru saja dilewatinya. Perjodohan yang dikiranya dapat dilaluinya dengan indah. Pernikahan yang dikiranya dapat diselaminya dengan merdu, kini hambar dan sirna. Suaminya pergi entah ke mana dan dengan siapa. Lalu bayangan Dimas melintas dengan senyum hangatnya. Nirmala memejamkan matanya. Akan sesakit ini perasaan keluarga Dimas jika dirinya menginginkan hubungannya dengan lelaki itu menjadi nyata. Nirmala mengusap lagi airmatanya lalu mengambil telepon genggamnya. Ditulisnya balasan untuk Dimas tanpa menunggu hati dan pikirannya dikuasai keinginan.
“Cinta tidak harus saling memiliki dan dimiliki Mas. Berikanlah indah dan merdunya untuk keluargamu, agar cinta di hatiku ini tetap indah dan tidak melukai siapapun.”

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google

—————————————————————————————————————
Jika aku menangis sejenak dalam diam, atas nama cintakah ini? Lalu akankah kau datang pada harapan tak kunjung padam? Dan kita kembali berjuang walau pada bayang malam. Lalu My Immortal memintaku untuk membisu. Dan aku masih berjuang sendiri menjemput malam kita. Sampai kau benar-benar merengkuhku dalam dekapmu.
—————————————————————————————————————

6 responses to “Desah Cinta

  1. Ya ampun Mbak….kok patah hati lagi….
    Saya jadi ikut sakit hati bacanya…
    (terhanyut maksudnya)
    Mbak pinter banget bikin cerpen ya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s