Bahasa Cinta

Pelangi memudar di kejauhan,
berangsur menghitam dalam nuansa hatiku,
semua warna kuhitamkan dari putaran perjalanan cinta,
agar dapat kulihat putih dan warna warninya.

Lalu kurengkuh galau hati dalam diam,
terus berlari mengejar mimpi,
dengan bahasa cinta.

Senandung asa bergerak dari hembusan nyanyian surgawi,
pada setiap hati yang sepi dan merindukan nyanyian cinta.
Kala cinta terukir dan temukan bentuknya dalam tiap nada,
Bahasa cinta segera mengalun merdu kepakkan sayapnya.
~~~~~

Tierose menghempaskan tubuhnya di sofa usang pada sudut ruangan. Ruangan untuk para guru, yang lebih mirip sebagai ruang serba guna karena segala macam peralatan ada di sana, baik perelatan musik dan lainnya. Dihirupnya teh hangat yang telah disediakan untuknya. Ditatapnya tumpukan buku yang belum sempat disentuh oleh pengajar sebelum dirinya. Beberapa tumpuk lagi adalah lembar ulangan yang juga belum sempat diperiksa.
Hari ini adalah hari pertama Tierose mengajar di sekolah itu. Banyak pemandangan yang membuatnya harus berpikir sejenak, apa yang harus dilakukannya di hari pertama ini. Sekolah itu lebih menyerupai sebuah panti atau asrama. Beberapa murid tidak mengenakan seragam seperti yang sudah ditentukan. Hingar bingar musik dan suara teriakan terdengar nyaring dari beberapa kelas. Beberapa Guru juga dilihatnya tanpa persiapan sebelum melangkah memasuki kelasnya masing-masing.
Tierose menghela nafas lega ketika pak Marwo, petugas administrasi memasuki ruangan dan segera mengajaknya ke kelas yang harus dia masuki untuk pertama kali. Ditatapnya satu per satu ruangan kelas yang dilewatinya dari kaca jendela. Sampai di depan kelas paling ujung pak marwo berhenti dan mempersilahkannya masuk.
“Di sini mayoritas anak tentara dan orang-orang berpangkat. Hati-hati memperlakukan mereka,” pesan Pak Marwo sebelum berlalu.
Tierose memasuki ruangan kelas itu dengan takjub. Ditelitinya Rencana Program Pengajaran yang tergeletak penuh debu di meja. Terlihat seperti tidak pernah disentuh. Ditatapnya satu persatu murid yang masih mondar mandir keluar masuk kelas. Mencari cara menakhlukkan hati anak-anak yang terlihat sudah membatu itu. Mereka mengusik kesabaran Tierose dengan memasang suara Grits dengan My Life Be Like memenuhi ruangan kelas itu sambil beradu gaya bagai di lantai diskotik.
“Anak manja. Korban pergaulan dan salah asuhan,” bisik Tierose dalam hati.
Diambilnya spidol besar berwarna merah dan menuliskan sebuah pengumuman di papan tulis yang masih terlihat putih bersih dan mengkilap. Tak pernah dipakai.
Saya berikan waktu lima belas menit lagi untuk menikmati musik ini. Bagi yang gerakannya bagus dan tertib akan mendapatkan nilai tujuh untuk pelajaran saya. Terima kasih.
Lalu duduk dengan tenang, memperhatikan satu per satu anak-anak itu. Beberepa anak saling berbisik membaca pengumuman yang dituliskan Tierose, beberapa hanya tertegun dan banyak yang tidak peduli. Mata Tierose tertarik pada satu anak lelaki berwajah keras dengan mata yang tajam, rambut sebahu dan baju tak ada bentuknya. Diamatinya anak yang terlihat sangat menikmati gerakan tariannya itu diam-diam.
Lima belas menit kemudian dimatikannya tape recorder di sudut kelas, dicabutnya kabel dari saklar dan disimpannya benda itu di lemari arsip, lalu dikuncinya dan memasukkan kunci ke dalam tasnya. Kelas seketika menjadi ramai dan panas.
“Hei, Guru Baru! Itu punyaku!” teriak Wajah Keras dengan marah.
“Oke, nanti bawalah pulang usai pelajaran.”
“Apa-apaan ini? Kenapa musiknya dimatikan?” teriak si Genit.
“Baca tulisan di papan,” jawab Tierose tenang.
“Guru gila kali ya ini,” balas si Jangkung.
“Ya, saya gila dan kalian harus menuruti semua aturan main saya kalau tidak mau melihat kegilaan saya yang lain.”
Tierose menatap tajam semua mata satu per satu tepat di bola mata mereka dan seperti disihir anak-anak itu beringsut duduk di bangkunya masing-masing. Pelajaran pun berlangsung dengan hening.
Hari itu berjalan dengan penuh ketegangan. Kepala Sekolah dan Guru lain hilir mudik di depan kelas mengamati keadaan kelas dari luar. Mereka tak percaya hari itu salah satu ruangan kelas menjadi senyap dan murid-murid duduk dengan rapi. Mereka menolak belajar tapi tak ada yang berani mengulang keonaran setelah melihat si Jangkung digunting ujung kemejanya oleh Tierose karena menolak memasukkannya ke dalam celana seragam. Mereka memilih mendapatkan nilai tujuh untuk pelajaran Bahasa dengan bersikap tenang.
~~~~~

Pada hari ke tiga puluh ini Tierose terlihat lebih santai dalam menghadapi tingkah laku murid-muridnya. Diletakkannya diktat program pelajaran yang sudah dirapikannya untuk satu bulan ke depan dan diambilnya tumpukan kertas hasil ulangan murid-muridnya.
“Fero dan Mei. Maaf ulangan kalian tidak bisa Ibu nilai karena semua jawaban sama persis.”
“Maksudnya?” tanya Mei.
“Kalian mengulang.”
“Bangsat!”  gerutu Fero hampir tak terdengar, namun sampai ke telinga Tierose.
“Terima kasih Fero, ini untuk kesekian kalinya kamu memaki Ibu dan jangan sampai Ibu mendengar lagi kata-kata tak sopan darimu. Untuk kamu Mei, walaupun kamu mengulang, Ibu memberikan nilai tujuh karena hari ini sikapmu manis dan rapi.”
“Tapi kenapa saya harus mengulang Bu?” tanya gadis itu tak puas.
“Karena Ibu tidak tahu dengan pasti hasil ulangan siapa yang bukan contekan. Untuk itu agar adil kalian berdua mengulang.”
Kelas sepi. Gadis mungil Mei menundukkan wajahnya. Diliriknya Fero yang sudah merekam semua jawaban ulangannya dengan sengit. Tiba-tiba keheningan dalam kelas itu hancur oleh suara kaca pecah. Semua mata mengarah pada jendela kaca yang sudah hancur, lalu dengan ketakutan menatap Fero.
“Fero, tolong besok siapkan uang untuk menggantikan kaca yang kau lempar itu. Jumlahnya tanyakan pada petugas administrasi,” Tierose berkata dengan tenang dan melanjutkan pelajarannya seolah tidak terjadi apapun.
Disimpannya amarahnya dengan segera melanjutkan pelajaran babak berikutnya. Gadis itu bertekad tidak akan menyerah begitu saja.
“Guru mata duitan,” tiba-tiba terdengar suara Fero
Ruangan kelas itu semakin senyap dicekam ketakutan. Tierose meletakkan bukunya, berjalan perlahan ke bangku Fero, lalu mencengkeram kerah bajunya dan berbisik dengan tajam, “Liburlah dulu satu minggu sayang, lihatlah di luar sana banyak anak yang tidak seberuntung dirimu.”
Plaaak…! Sebuah pukulan mendarat di bibir Fero.
“Silahkan keluar dari ruangan ini. Jangan pernah berani duduk di kursi ini sebelum kamu menyadari kesalahan kamu dan mengerjakan semua tugas-tugas yang kuberikan. Mengerti?”
Lalu diseretnya Fero dan dilemparkannya ke luar kelas. Semua mata menatapnya ketakutan dan segera menyibukkan diri dengan pelajaran yang tiba-tiba disukai seluruh murid di kelas itu.
~~~~~

Hari berikutnya Tierose dipanggil untuk menghadap Kepala Sekolah dengan tujuan dan isi pembicaraan yang sudah dapat diduganya. Perlahan dibukanya pintu ruang Kepala Sekolah setelah mengetuknya beberapa kali. Ternyata tidak hanya Tierose yang dipanggil untuk menghadap. Di sana sudah berkumpul guru-guru yang lain. Dengan wajah tegang. Tierose menutup kembali pintu di belakangnya dan menunduk pada guru yang lain sebelum memberi salam pada Kepala Sekolah.
“Selamat pagi Bu,” sapanya dengan sopan.
“Pagi. Silahkan duduk.”
Perlahan Tierose mengambil kursi kosong di dekat meja Kepala Sekolah. Matanya meneliti wajah guru-guru di sana. Semua menundukkan kepalanya, tak ingin beradu pandang dengan Tierose.
Bu Meyke menutup buku agendanya sebelum memulai berbicara, “Saya sangat berterima kasih pada ibu Tierose. Baru mengajar di sini satu bulan sudah memberikan dampak yang positif untuk sekolah kami,” kata bu Meyke, sang Kepala Sekolah sambil menurunkan kaca matanya dan menatap Tierose tajam.
Tierose membalas tatapan itu dengan senyum lembut. Sementara guru yang lain hanya menundukkan kepalanya. Menunggu sidang dimulai.
“Terima kasih Bu,” jawab Tierose.
“Tapi saya minta kejadian pemukulan itu jangan diulangi lagi.”
“Bukankah saya sudah jelaskan duduk persoalannya Bu?”
“Saya menerima penjelasan Anda, tapi sayangnya orang tua Fero tidak. Hari ini beliau akan datang dan ingin bertemu dengan Anda. Dan saya mohon maaf jika nanti saya terpaksa mengikuti permintaan beliau untuk mengeluarkan Anda.”
Ruang rapat hening. Semua guru menghindari tatapan mata Kepala Sekolah dan segera menundukkan kepala lebih dalam. Kecuali Tierose. Matanya tajam menatap perempuan di depannya. Sekarang terjawab pertanyaannya mengapa di sekolah ini sering terjadi pemecatan guru.
Lalu keheningan itu terburai oleh suara ketukan di pintu. Seorang guru lelaki tergopoh-gopoh membuka pintu sementara guru-guru yang lain cemas menatap pintu. Seorang lelaki tinggi dan kekar memasuki ruangan dengan langkah gagah dan angkuh. Berjalan tegap menjabat tangan Kepala Sekolah, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Suasana benar-benar menjadi tegang dan dingin. Lelaki itu mengitari ruangan dengan pandangannya lalu berhenti pada Tierose.
Tierose membalas tatapan tajam itu dengan tegar. Dihentikannya takut dan amarahnya dengan Nyanyian Cinta. Meyke memandang dengan tegang pertemuan dua tatapan tajam itu dalam kesunyian. Tiba-tiba lelaki itu tersenyum dan berdiri menghampiri Tierose.
“Pasti Anda guru baru itu,” sapanya ramah.
“Betul.”
“Perkenalkan nama saya Hapsa, orang tua Fero.”
Lelaki itu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Tierose dengan erat. Semua mata menatap tegang.
“Tierose.”
“Senang sekali berkenalan dengan Anda.”
“Terima kasih.”
“Dan senang sekali anak saya bertemu dengan guru seperti Anda. Sekarang dia sedang mengerjakan semua tugas-tugas sekolah yang selama ini tidak pernah dikerjakannya. Ibunya seharian menangis melihat perubahan putra yang sangat dicintainya itu. Dia menitipkan salam pada Anda.”
“Saya senang sekali mendengarnya.”
Pembicaraan menjadi semakin mencair dan lancar. Tierose tersenyum sambil melirik Kepala Sekolah dan teman-teman gurunya. Disodorkannya Rencana Program Pengajaran yang tak disetujui pagi tadi. Ruangan dingin itu mendadak menjadi hangat dan ramai dengan tawa canda. Kepala Sekolah memberikan waktu pada guru baru itu untuk beristirahat satu hari di rumah, sambil mempersiapkan diri untuk mengemban tambahan tugas sebagai guru Bimbingan dan Penyuluhan.
Tierose melangkah ringan meninggalkan sekolahnya menuju ke tempat parkir di belakang halaman. Dari jauh dilihatnya seorang siswa duduk di tepi lapangan olah raga. Dihampirinya lelaki muda itu yang segera membuang mukanya begitu melihat Tierose datang menghampiri.
“Selamat pagi Andre,” sapanya ramah.
Sang murid membisu tak mau sedikit pun membalas sapaan Tierose bahkan senyum sopannya. Tierose tidak menyerah. Disapunya lantai dengan tangannya lalu duduk di sebelah pemuda itu. Andre segera menunjukkan raut wajah dan sikap bermusuhan.
“Kenapa kamu duduk di sini? Matahari sudah mulai panas dan kamu meninggalkan kelas tidak untuk berjemur bukan?”
“Sekarang Ibu sudah puas?” sembur Andre penuh kebencian.
Tierose mengernyitkan dahinya tidak mengerti arah pembicaraan. Mata Andre jelas sekali penuh kebencian menatapnya.
“Aku tidak mengerti maksudmu Ndre,” jawabnya lembut, “Kalau ada yang ingin kamu sampaikan, sampaikanlah tanpa amarah agar kita dapat membicarakan permasalahanmu dengan santai.”
“Ini semua gara-gara Ibu. Sebelum Ibu datang di sini, saya tidak pernah mendapat hukuman hanya karena masalah seragam.”
“Oh, begitu. Lalu mengapa kamu tidak mengenakan seragam yang seharusnya?”
“Saya tidak seperti mereka Bu. Saya di sini benar-benar untuk belajar. Sayangnya saya tidak seberuntung mereka. Sekedar seragam saja orang tua saya tidak mampu membelikan. Selama ini tidak ada masalah karena teman yang lain juga banyak yang lebih suka pakai baju aneh-aneh. Sekarang saya benci sama Ibu.”
Andre beranjak berdiri dan hendak meninggalkan Tierose. Ditariknya tangan anak itu sambil berkata lembut, “Aku tadi sudah bilang kita bicarakan masalahmu dengan cara yang baik kan?”
“Percuma.”
“Besok kamu ambil semua paket seragam di koperasi sekolah. Bilang pada petugas di sana Ibu yang akan bayar semua.”
Andre menatap Tierose hampir tak percaya. Tatapannya dibalas senyum dan anggukan oleh Tierose. Seketika pemuda itu berteriak dan melompat kegirangan dengan tawa dan semangat baru.*****

Ilustrasi Image Google

by Kit Rose
——————————————————————————
Aku melaju perlahan berbaur dengan panas,
namun alunan merdu dari hatiku sangat meneduhkan,
akan kukatakan dan kusapa kalian dengan bahasa cintaku.

8 responses to “Bahasa Cinta

  1. sorry mau nanya.. fero itu laki2 ya..??
    ketika pertemuan kepsek, guru2 dan tierose agak terlalu singkat, asalnya kan tierose mau di pecat, knp ga di tambah sedikit perdebatan di antara mereka..?? mereka yg takut dgn murid2 “berpangkat” dgn tierose yg mau mengajar murid itu dengan apapun resikonya yg penting bisa merubah kebiasaan buruk murid2nya..

    ketika kepsek dan guru2 yg takut akan kedatangan ortu fero krna kjadian pemukulan, keadaannya trlalu cepat mencair..?? bgmn kl disana d ceritakan bahwa perkiraan mereka itu salah, ortu fero datng bkn untuk memarahi/menyuruh memecat tierose, sedangkn tujuan ortu fero cuma mau berterima kasih karna tlh membuat fero menjadi anak sekolah yg baik.

    andre.. siapa andre..?? apakah si jangkung..??
    knp pd perbincangan andre dgn tierose tak di ceritakan bahwa andre itu anak yg digunting baju seragamnya…. jadi tau oh si andre itu si jangkung..!!

    maaf ya kbanyakan koment,, ya ini cuma menurut aanx aja sebagai pembaca biasa.. bukan anak sastra, bukan pula seorang penulis..

    over all nice story..!!
    satu lagi nambah jajaran cerita yg anx suka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s