Cinta Di Batas Waktu

Sepotong cintaku bertaut di perbatasan waktu.
Bagai tangan dan mata terangkai indah pada tempatnya.
Walau di malam bisu.
Tak akan keduanya saling menyakiti dengan sengaja.
Dan jika salah satu hati tersakiti,
penggal saja satu tangan agar mata tetap dapat melihat cinta.

Perjalanan panjang kuarungi dalam pencarian dan kerinduan.
Sampai di ujung lorong kelu.
Namun berteman temaram cinta.
Butirannya memoles segala luka dan sepi.
Menikmati sepotong wajah cinta tak tergapai.
Indahnya tetap terasa indah, tak harus memiliki, namun tetap dapat berbagi.

~~~~~

Kintan mematikan semua lampu di ruang tengah rumahnya dan kembali berkeliling memeriksa satu persatu pintu apakah sudah terkunci semua. Terakhir adalah membuka pintu kamar anaknya satu persatu, memastikan mereka bermimpi indah melalui doa-doa dan nyanyian surga yang dialunkannya di masing-masing kamar anaknya, lalu duduk di taman belakang rumahnya.

Sementara Sanny suaminya, tenggelam dalam perbincangan entah dengan siapa di dunia maya dengan layar monitornya di sudut ruang kerja. Kebahagiaan semu di antara keduanya, namun terjaga dengan rapi dan indah, dengan tanpa terucap telah disepakati untuk menjaga cinta demi sang buah hati yang telah tumbuh semakin besar.

“Aku rindu padamu kak Edo,” bisik Kintan dalam hati pada kegelapan malam.
Asap rokok menemani pengembaraannya mencari jejak kekasih yang telah lama hilang. Bayangan wajah yang selalu menemaninya dalam mimpi. Terasa dekat, namun tak pernah dijumpainya dalam pencarian panjang.

Dipejamkannya matanya ingin berbagi rindu pada angin malam.
“Apakah aku sudah terlambat mencarimu? Ya, mungkin memang sudah terlambat. Tapi tak bisakah aku menemuimu dan hanya memandang senyummu?”

Kintan berdiri dan berjalan menghampiri meja suaminya. Tak ingin mengganggu diletakkannya cangkir kopi di dekat suaminya. Tiba-tiba hatinya terkesiap, bukan karena kalimat indah yang dikirimkan suaminya entah pada siapa, namun dadanya bergolak bagai menatap masa lalu yang tak pernah pergi dari mimpi dan tidurnya. Matanya tak berkedip menancap pada sebuah foto di layar monitor, membuat tangannya bergetar dan kedinginan.
“Kamu kenapa Kin?” Sanny memegang tangan Kintan.
“Oh, enggak, nggak apa-apa.”
“Tanganmu dingin sekali.”
“Udara di luar dingin, aku baru saja duduk di taman belakang.”
“Kamu tidur saja dulu, aku masih mau melanjutkan pekerjaan.”

Kintan mengangguk, menatap lagi sebentar pada layar monitor dan berlalu dari sana diam-diam. Diambilnya laptop di meja sudut kamar tidurnya. Segera dibukanya dan dicarinya wajah yang tak sengaja dilihatnya. Dengan tangan gemetar disapanya wajah itu ‘tuk memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar Edo.
“Selamat malam.”
“Malam, salam kenal.”
“Terima kasih sudah bersedia menjadi teman saya.”
“Sama-sama, semoga bisa terjaga pertemanan ini.”

Lalu pembicaraan bersambung semakin akrab. Kintan mencoba menggali keterangan dari perbincangan dalam layar monitor itu. Dan malam dilaluinya dengan menyungging senyum. Bayangan yang selalu hadir dalam mimpinya hampir berada di dekatnya.

~~~~~

Sebulan berlalu dan Kintan tak dapat lagi menahan diri untuk membuka siapa dirinya sebenarnya. Ditatapnya layar monitornya lama dan dengan diam. Kerinduan yang lama dipendam mengalahkan keraguannya. Kesepian hati yang semakin mencekam mengalahkan gemetar tangannya. Pernikahan yang sudah tidak sejalan antara dua hati membuatnya semakin terpaku pada wajah masa lalu.

“Apakah namamu yang sebenarnya Edo?”
Dada Kintan berdebar. Lama menunggu, tak ada jawaban sampai tiba-tiba muncul apa yang ditunggunya.
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Aku Kintan Kak.”
“Kintan? Benarkah?”
“Benar Kak.”
“Duh Kintan, lama sekali aku kehilangan dirimu.”
“Aku juga lama mencarimu.”
“Rindunya.”
“Begitu juga denganku Kak.”

Kerinduan terurai dari balik layar monitor, menerkam sepi yang hampir tak berujung. Keduanya bertukar cerita, mengurai masa lalu yang lama tenang tersimpan dalam peti cinta di hati masing-masing. Lalu berkembang menjadi janji untuk bertemu.

~~~~~

Kintan duduk gelisah di sudut taman, di tengah keramaian kicau burung dan semilir angin merindu. Diliriknya jam tangan beberapa kali, hatinya berharap tenang namun tubuhnya tetap bergetar. Diriknya lagi telepon genggam untuk memastikan memang tidak ada panggilan untuknya. Lalu matanya terbelalak membaca sebuah pesan.
“Tunggu ya, sebentar lagi sampai.”

Buru-buru disimpannya telepon genggam dalam tas hitamnya. Tak lama sesosok lelaki berjalan tegap menghampiri. Senyum hangat menghiasi bibirnya yang ramah. Tatapan hangat menghantar pandangan ragu memandang Kintan yang masih duduk terpaku.

“Ya Tuhan. Tidak ada perubahan sama sekali pada dirinya. Semua Kau jaga dengan rapi, agar aku dapat menatapnya seperti kala kutatap dia dalam kehidupan malamku,” bisik Kintan.

Kintan menjabat tangan Edo dengan gelisah. Disembunyikannya palu rindu yang menghentak di dadanya. Dirapikannya kembali hatinya yang terburai gelora cinta. Sekuat tenaga dibuatnya wajahnya sedatar mungkin. Lalu ditariknya tangannya dari genggaman hangat itu untuk menyembunyikan gemetar.

“Apa kabarmu?” tanya Edo sambil tersenyum hangat.
Ditatapnya lekat-lekat mata sayu di depannya. Menyamakan bayangan masa lalu yang telah lama dilupakan dan ditinggalkannya. Yang telah terkalahkan oleh ego kala itu. Perbedaan prinsip. Ya, hanya karena perbedaan prinsip dia tinggalkan perempuan itu.
“Baik, Kakak sendiri?”
“Aku juga baik.”
“Lama ya menunggu?”
“Asal Kakak tak menyuruhku pergi, aku akan tetap menunggu.”
“Maafkan ya.”
“Demi masa lalu, demi cinta, jangan minta maaf. Aku akan tetap menunggu,” jawab Kintan sambil tersenyum.

Pembicaraan mencair semakin ramah dan gemulai. Bertukar rindu dan rasa untuk masa lalu. Bertukar cerita menyatukan bayangan dalam hitam malam perjalanan panjang. Saling menyapa hati dengan tatapan penuh makna. Tak banyak kata terangkai namun cerita cinta mengalir dengan indah.
“Kakak sudah bahagia sekarang,” senyum Kintan.
“Ya, bersama istri dan satu putriku.”
“Lama ya kita tak bertemu.”
“Ya, dan masih banyak yang ingin kuceritakan.”
“Apakah aku mengganggu waktu Kakak?”
“Malu dengan kalimat demi cinta, aku akan di sini.”

Mereka menatap satu sama lain dalam diam. Kintan mencoba meraba masih adakah sisa cinta di mata lelaki itu. Lelaki di masa lalu dan sosok cinta di batas waktu. Tak diucapkannya rindu yang bergelora. Menyadari keduanya sudah berada dalam mahligai masing-masing.
“Kakak tak banyak berubah.”
“Kamu juga, masih sama seperti dulu.”
“Lama aku menempuh perjalanan untuk mencari Kakak. Kadang rasanya tak sanggup dan ingin berhenti, namun juga ingin berlari.”
“Jangan katakan tak sanggup, bersyukurlah atas anugerahNya.”
“Sekarang hatiku sudah lapang, bertemu walau dalam ruang berbeda, akan menghangatkan kembali hatiku yang telah padam.”

Malam semakin merayap mengusir sepasang wadah rindu. Kintan menatap kian dalam bayangan masa lalu yang hampir letih dicarinya. Ingin berlari namun kerinduan tak mengijinkan kaki hatinya mengelak. Kelelahan memuai bersama kabut cinta dalam bayang pepohonan hitam. Kesadaran tak ada lagi sepotong hati untuk dimiliki menghampiri dan terhenyak pada waktu untuk mengakhiri perjumpaan sesaat. Jangan sampai indahnya cinta mengukir lara pada mahligai yang telah terukir di balik masa lalu.

“Sudah malam Kak, keluargamu menunggu.”
“Ya. Aku pamit dulu ya.”
“Jagalah kebahagiaan buah hati Kakak.”
“Salamku untuk si bungsu dan suamimu.”
“Salam sayangku untuk Kakak.”
“Aku simpan sayangnya ya.”
“Tolong simpan baik-baik untuk sementara saja, sebagai penguat hati meniti sisa tugas. Aku jamin ini tak akan mengganggu kehidupan siapa pun.”

~~~~~

Kembali Kintan duduk di kursi taman itu dengan gelisah. Hatinya lebih gelisah dari matanya yang tak juga menemukan bayangan Edo. Semakin lama menunggu, ketetapan yang dibuatnya semakin mengeras. Bayangan wajah cantik dalam album foto yang dikirimkan Edo padanya, juga wajah mungil tak berdosa, yang tersenyum penuh harapan di depan kamera, selalu menghantui tidur dan kesehariannya. Semua membuat rindu yang berbunga-bunga kembali membeku. Pertemuannya dengan lelaki yang selama ini dicarinya memang membuahkan kebahagiaan dan ketenangan di hatinya. Namun hatinya tak dapat menyembunyikan rasa bersalah yang semakin menghantui. Kemudian wajah putranya sendiri, tersenyum lucu, berpindah dari pangkuannya dan peluk suaminya, mengguyur kembali rindunya dengan pedih rasa bersalah.

“Sudah lama ya?” sebuah suara berat yang tak asing baginya menyapa sangat dekat di samping telinganya.

Dadanya berdebur kencang tak dapat dihindarinya. Namun rasa bersalah dan wajah-wajah itu bergantian menguasai dirinya. Segera Kintan memalingkan mukanya menghindari tatapan mata Edo yang begitu hangat.
“Enggak Kak, baru kok.”
“Macet tadi, jadi terlambat lagi. Maaf ya.”
“Ah, nggak apa-apa.”
“Kita ngobrol sambil ngopi yuk.”

Keduanya berjalan menuju cafe di sudut jalan di depan taman kota. Kintan menarik lembut tangannya yang hendak digenggam Edo. Dadanya berdebar kencang namun tak dihiraukannya. Angin malam menyibakkan rambut panjangnya membuat Edo terlempar kembali ke masa lalu.
“Rambutmu nggak pernah digunting Kin?”
“Kadang saja Kak, kalau sudah panjang sekali.”
“Tidak ada yang berubah.”
“Apanya?”
“Semua yang ada padamu. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.”
“Kakak juga.”

Edo menarik sebuah kursi untuk Kintan lalu memesan minuman pada pelayan. Matanya tak pernah lepas memandang Kintan. Kehangatan tak ingin lagi disembunyikannya. Dengan lembut dan masih penuh kerinduan ditatapnya mata indah Kintan sambil tersenyum.
“Kakak kenapa liatin terus?”
“Aku rindu sekali.”

Kintan tidak menjawab, menundukkan wajahnya, berusaha menutupi hatinya dan menghindari rasa yang sama. Getar perih halus menerpa jauh di dalam hatinya, namun disimpannya dalam senyum.
“Katamu ada yang ingin kau bicarakan?”
“Ya dan ini penting sekali, maka aku tak dapat menundanya.”
“Penting?”
“Ya. Sangat penting.”
“Mengenai?”
“Mengenai kita berdua.”
“Kita berdua?”

Kintan menatap Edo dengan lembut. Wajahnya tersenyum namun menyiratkan ketegasan. Edo memandangnya tak mengerti. Dicarinya apakah yang tersembunyi dalam tatapan perempuan masa lalunya itu. Namun yang ada hanya bayangan kerinduan. Lalu senyumnya merekah lembut.
“Baiklah. Aku siap mendengarkan.”

Kintan menarik nafas dalam, menundukkan wajahnya sebentar, lalu memandang wajah Edo dengan perih. Terluka namun semua dibalut oleh wajahnya yang tegar. Senyum putranya terbayang dan mendesak hatinya untuk mengukir keindahan bersama keluarganya.
“Sebaiknya kita jangan lagi bertemu seperti ini.”
“Maksudnya?”
“Aku sudah pikirkan ini matang-matang. Terutama setelah melihat foto keluargamu. Anak dan istrimu.”
“Apa ada yang salah dengan mereka?”
“Sama sekali tidak.”
“Lalu?”
“Ini tidak bagus untuk mereka dan kita.”
“Kenapa bisa kau katakan seperti itu?”
“Apakah kau menikmati pertemuan kita ini?”
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Jawab saja Kak, apakah Kakak menikmati pertemuan kita?”

Edo menggenggam tangan Kintan dengan erat. Tak dilepaskannya tangan itu walau Kintan berusaha menariknya. Ditatapnya perempuan di depannya dengan lembut.
“Kau tahu? Aku bukan menikmati lagi pertemuan ini, tapi selalu menginginkannya dan tak ingin terlewat sedikit pun waktu tanpamu.”
“Aku juga demikian. Inilah bahayanya, tidakkah kau sadari itu Kak?”
“Maksudmu?”
“Aku sangat merasa bersalah pada banyak orang. Anak dan istri Kakak, suamiku, terutama putraku. Apakah Kakak tidak?”

Edo tertegun menatap Kintan. Perlahan dilepaskannya tangan itu dengan pandangan perih. Tak dapat dipungkirinya perasaan bersalah itu juga sempat hinggap sekejap di benaknya. Tapi kerinduan dan cinta mengalahkan segalanya. Kini perempuan yang menyita rindunya itu mengetuk hatinya untuk mendengarkan bisikan angin malam.
“Percayalah Kak, aku tidak ingin menyakitimu untuk kedua kalinya. Tapi bukankah ini bukti bahwa kita memang tak harus bersatu?”
“Aku mengerti.”
“Kita akan merusak banyak cinta jika ini kita teruskan.”
“Perpisahan kita yang dulu menyisakan sakit karena kata hati yang berseberangan, kini kita akhiri dengan cinta.”
“Ya Kak. Selanjutnya kita akan melangkah dengan tenang.”

Lalu mereka mengakhiri malam itu dengan senyum. Angin berhembus menjadi saksi cinta bertebaran di sana. Namun indahnya sanggup menjaga kepedihan untuk tidak menyakiti relung hati yang lain.

~~~~~

Kintan melangkah gontai menerjang kegelapan malam. Dinyalakannya sebatang sigaret, dihembuskannya asap putih sambil tetap melangkah, meliuk perlahan menemani sisa perjalanan. Air matanya menitik perlahan, namun di bibirnya tersungging senyuman indah, senyum kebahagiaan untuk terkasih di perbatasan waktu. Senyum cinta untuk perjalanan panjang dan akhir pengembaraan. Hatinya menerawang damai, menatap indah cinta di balik rimbun perdu merindu.*****

by Kit Rose
Ilustrasi Image Google

—————————————————————————————————————
Demi masa lalu akan selalu kukirim nyanyian hati untukmu, demi cinta akan kujaga hati agar tak merebutmu dari singgasana cinta nun jauh di sana, aku bahagia untuk bahagiamu, dan untuk pencarian panjang berkelana dalam hitam yang telah selesai. Aku tak ingin apapun selain kebahagiaanmu.

6 responses to “Cinta Di Batas Waktu

  1. Assalamu’alaikum mas.

    Abiss.. mampir dari blog mas nih, Wah.. BLog mas sangat bagus dan bermanfaat..!!

    Betapa senangnya bila mas mau mampir juga di BLog saya.

    Supaya kita bisa menjalin silaturahmi sesama Blogger lebih erat lagi.

    Alamat BLog saya: http://baru2.net

    Salam kenal,
    Dedy Kasamuddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s