Misteri Kado Cinta

Lagu cinta tak pernah lelah menari dalam jiwa-jiwa sepi.
Indahnya membalut pedih dan kesakitan walau tak terucap.
Getarnya membungkus rapi tiap misteri mengiringi langkah.

Dan sakitnya adalah pancaran cinta yang sedang bersinar.
Ya, cinta tak pernah lelah,,,

Tak pernah lelah menanti pertemuan dengan Cinta sejati,
tak pernah lelah menabur indahnya pada jalanan kering agar menghijau,
tak pernah lelah berbagi dengan hati-hati yang membisu,
dan tak pernah mendendam pada sakitnya yang sebenarnya adalah kenikmatan cinta.
~~~~~

“Akan ada kabut, tapi kita di tengah taman dan aku duduk di atas awan. Menggendong seorang anak lelaki,” gumam Puspita.
Matanya memandang dengan diam ke luar jendela kaca di ruang tunggu yang semakin ramai oleh para ibu dan calon ibu. Menunggu. Ya, semua sedang menunggu. Sebagian ibu menunggu kelahiran anak berikutnya dan sebagian lagi menanti kedatangan wajah baru dalam keluarganya. Satu persatu wajah-wajah itu menyiratkan kebahagaiaan dalam penantian. Ada gurat gelisah, namun wajah berseri-seri masih tersisa.

Boedhi menatap istrinya sejenak lalu meneruskan keasyikannya dengan Harian Kompas. Untuk kesekian kalinya dia mendengar istrinya menggumamkan kalimat yang sama, tapi dia tidak ingin tahu apa maksudnya. Hatinya sudah mulai datar. Entah masih berharap akan kedatangan seorang anak lelaki yang didamba, atau sudah putus asa karena wajah baru yang diharapkan tak kunjung datang.
“Halo,” sapa Boedhi pada suara di seberang telepon genggamnya.

Puspita memberikan tanda agar suaminya memelankan suaranya. Sebagian pengunjung melirik tajam pada Boedhi. Suaranya yang meninggi terdengar menonjol dalam ruang tunggu kecil itu.
“Ya Mbak?” tanya Boedhi tanpa semangat.

Lalu diam mendengarkan. Satu detik kemudian wajahnya tampak tegang dan serius. Puspita menundukkan wajahnya menangkap getar aneh dalam hatinya. Wajah ayah mertuanya kembali tampil di hadapannya.
“Baik Mbak, silahkan berangkat dulu, kami akan menyusul setelah ini,” jawab Boedhi kemudian mematikan telepon.
“Bapak ya?” Puspita bertanya dengan tatapan kosong.
“Kok kamu tahu?”
“Dari kemaren aku teringat Bapak. Raut wajahnya seperti ingin mengatakan sesuatu,” jawab Puspita sambil menunduk.

Tak diceritakannya bahwa sang Ayah telah beberapa kali datang dalam mimpinya untuk berpamitan. Tak diceritakannya juga bahwa sang Ayah memohon agar dia bersedia menemani anaknya apapun kondisinya.
“Bapak meninggal. Setelah ini selesai kita langsung pulang. Yang lain sudah di bandara.”
“Aku sudah menyarankan Mas untuk pulang dari minggu lalu.”
“Aku tidak mengira bakalan secepat ini.”
“Tapi waktu kunjungan terakhir kita Bapak sudah memberi isyarat.”
“Sudahlah, kita doakan saja agar perjalanan Bapak lancar. Kamu jangan terlalu banyak berpikir.”

Pembicaraan terhenti saat suster memanggil nama Puspita. Keduanya buru-buru memasuki ruang praktek dokter dengan wajah mendung. Pemeriksaan berjalan lancar dan cepat. Dokter menuliskan resep dan beberapa catatan pada buku riwayat kesehatan Puspita.
“Setelah minum obat ini kamu akan haid Pita. Nanti kalau haidnya sudah bersih, ke sini lagi untuk suntik penyubur. Oke? Semoga berhasil.”
“Maaf Dokter, kita tidak bisa ngobrol lama seperti biasanya, karena ada keperluan mendadak,” pamit Boedhi.
“Baik, tidak apa-apa. Lagi pula di luar juga sudah ramai.”
“Kami pamit dulu Dokter, terima kasih.”

Dokter Lita yang sudah akrab dengan pasiennya yang satu ini memberikan resep pada Boedhi, lalu memberikan beberapa pesan tambahan pada Puspita agar tetap yakin bahwa dia masih bisa memiliki momongan. Beberapa hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa wanita itu tidak mengalami gangguan apapun pada sistem reproduksinya. Tapi beberapa kali keguguran membuat

Puspita merasa ragu apakah dirinya masih bisa memiliki seorang momongan. Dentingan lembut dalam hatinya selalu mengalun indah hingga dia tak pernah berhenti memohon dan berusaha.

Tanpa ekspresi Puspita mengekor suaminya ke apotik lalu bergabung duduk bersama antrian yang lain. Dia hanya mengangguk saat suaminya tanpa henti juga memberikan semangat padanya. Kini hatinya sibuk alunkan doa untuk Ayahanda yang telah memulai perjalanan barunya menemui sang Khalik. Diselipkannya juga doa untuk suaminya tercinta agar mendapatkan kebahagiaan seperti yang diinginkan jauh di lubuk terdalam hatinya.

~~~~~

Boedhi dan Puspita bergegas menuju ruang tunggu setelah melapor pada petugas di meja informasi. Mereka mencari tempat duduk agak ke pojok agar terhindar dari lalu lalang calon penumpang pesawat yang lain.
“Mas, boleh aku bicara yang agak pribadi?” tanya Puspita ragu.
“Tentang apa?”
“Bapak.”
“Kenapa dengan Bapak?”
“Tapi janji nggak marah.”
“Janji.”
“Maaf sebelumnya jika yang aku bicarakan ini tidak berkenan, tapi perasaanku mengatakan, atau katakan saja ini sekedar usul iseng-iseng saja dan tidak penting, tapi bisa dipikirkan. Katakan pada kakak-kakak perempuan agar mau menyediakan diri seandainya Bapak ingin dilahirkan kembali menjadi pribadi yang lain.”
“Maksudnya?”
“Ya, kita semua kan tahu, betapa Bapak selama ini selalu ingin menyampaikan bagaimana besarnya kekuatan cinta Tuhan. Sayangnya beliau belum menyelesaikannya sampai tuntas.”

Boedhi tidak menjawab entah sedang bersedih atau memikirkan kematian Ayahnya atau kata-kata istrinya. Tapi wajahnya datar tanpa sedikit pun ekspresi kesedihan atau menyetujui saran dari istrinya. Mendadak Puspita merasakan perutnya berguncang dan menjerit tertahan. Boedhi meletakkan kopernya sambil memegang perut Puspita kawatir.
“Kenapa?”
“Perutku tiba-tiba sakit sekali Mas.”
“Masuk angin mungkin.”
“Lain Mas. Ini sakit sekali, seperti ada yang menusuk.”
“Apa karena minum obat perangsang haid dari dokter tadi?”
“Mungkin, tapi biasanya tidak pernah sakit begini.”

Boedhi memberikan minuman pada Puspita lalu memeluk pundaknya mencoba menenangkan. Tak lama mereka pun sudah berbaur dengan rombongan antrian menuju pesawat.

~~~~~

Puspita tercenung di kamar hotelnya mencermati mimpi yang baru saja dialaminya. Peluh menetes deras membasahai tubuhnya. Perutnya semakin nyeri bagai dihunjam beribu tusukan. Sementara Boedhi masih di rumah kedua orang tuanya mengikuti acara pemakaman.
“Tidak mungkin. Apakah benar aku hamil?” gumamnya sendiri, “Mimpi macam apalagi ini? Dua hari lalu dokter memberiku obat dan sekarang aku sedang haid, kenapa dalam mimpi tadi aku sedang hamil? Apa mas Boedhi akan percaya kalau aku ceritakan ini padanya?”

Lalu turun dari pembaringan dan berjalan ke maja rias, memandangi dirinya pada pantulan cermin di depannya. Dirabanya perlahan perutnya sambil berbisik, “Ya Tuhan, aku pernah tak menginginkan kehidupanku, aku juga pernah memohon agar aku tidak lagi melahirkan anak, tapi sekarang aku kembali memohon, jika mimpi ini benar, apakah Engkau telah mengampuniku ya Kekasih? Apakah aku bisa memberikan kado cinta untuk suamiku?”
Ketukan di pintu mengagetkan Puspita. Dibukanya pintu perlahan dan Boedhi berdiri di sana terlihat lelah.
“Sudah selesai pemakamannya Mas?”
“Sudah. Aku lelah sekali. Dari kemaren belum istirahat.”
“Aku pesan makan buat Mas ya?”
“Nggak usah, tadi sudah makan di rumah Ibu. Mau tidur saja.”
“Mandi dulu biar segar, Mas.”

~~~~~

Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing ketika malam harinya semua anak berkumpul di ruang tamu. Puspita hanya duduk diam di pojok ruangan mendengarkan satu per satu kakak iparnya membicarakan peninggalan dan memori sang Ayah. Tak satu pun berbicara mengenai keinginan sang Ayah yang belum terwujud, atau mengenai perjalanan sang Ayah yang belum selesai. Hanya kedukaan dibalut canda. Ya, hanya sedikit yang berduka. Bertumpuknya kesalahan seorang Ayah membuat masing-masing wajah itu seperti tidak memendam duka.
“Aku masih mencintaimu Ayah,” bisik Puspita dalam hati.

Ditatapnya wajah Ibu mertuanya yang diam duduk di tengah keramaian canda putra putrinya.
“Dan lihatlah, Ibu juga masih sangat mencintaimu. Aku tahu itu walau beliau berusaha menyimpannya dalam hati.”

Boedhi duduk di tengah ruangan melibatkan diri dengan pembicaraan yang semakin tidak ada ujungnya. Lalu satu per satu berpamitan dan meninggalkan rumah tua itu dengan pikiran masing-masing. Tak satu pun memperhatikan wajah Puspita yang semakin pucat. Ya, pucat bagai tak ada setetes pun darah mengalir di wajahnya yang putih.

Kemudian selesai begitu saja. Meninggal, dimakamkan, selesai. Tak ada apa-apa lagi yang perlu dibicarakan. Sementara Puspita semakin cemas membawa mimpinya yang tak pernah berhenti dari gambaran dirinya sedang menggendong bocah lucu. Disimpannya saja mimpi itu sambil menekan perutnya yang semakin kesakitan, namun senyumnya semakin manis terukir di matanya. Dibisikkannya alunan indah dari hatinya untuk sang Kekasih.

“Berikan hadiah terindah untuk Boedhiku wahai Kekasih. Bagaimana pun cara yang Engkau berikan, aku tak akan mempertanyakannya,” bisiknya selalu dalam tiap tidurnya.

Matanya tak lagi membahas duka yang pernah merangkai hidupnya bersama sang suami. Yang diinginkannya adalah kado cinta untuk pujaan hati. Disingkirkannya segala pedih yang pernah diberikan padanya. Bersama angin malam yang semakin lembut mengiringi mimpinya.

~~~~~

Puspita memejamkan matanya berusaha tidak tertarik pada bisik-bisik dari para calon ibu yang kembali ramai di ruang tunggu. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan hitam kembali menghampiri. Dilihatnya seorang kakak iparnya sedang menangis di pojok gelap, sementara seorang bocah kecil berlari dan meninggalkan kakaknya sendirian. Namun keraguan membuatnya tak membagi apa yang dilihatnya itu pada suaminya. Dibukanya matanya ketika mendengar telepon genggam suaminya berdering. Dadanya berdegup kencang namun mulutnya terkunci rapat.
“Apalagi Ya Tuhan?” bisiknya dalam hati.

Dilihatnya wajah Boedhi tegang mendengarkan pembicaraan, lalu menutup telepon genggamnya dan memandang Puspita dengan pandangan lesu.
“Ada apa?” tanya Puspita.
“Mbak Ria keguguran.”
“Ya Tuhan. Kok bisa Mas?”
“Itu dia, diagnosa dokter kurang memuaskan keluarga. Janin dimakan virus, hanya itu informasi yang didapat.”
“Kita ke sana sekarang?”
“Ya, setelah ini kita langsung ke sana. Mudah-mudahan mereka dapat menerima ini dengan tabah.”
“Kasihan sekali mbak Ria ya. Padahal mereka sudah terlanjur bahagia menanti kelahiran putra pertama mereka. Semoga banyak hikmah di balik semua cobaan dan peristiwa ini.”

~~~~~

Dokter mengeryitkan dahinya meneliti kertas dari laboratorium yang dibawa Puspita. Dibacanya berulang-ulang kertas itu sambil sesekali membuka lagi buku catatan riwayat kesehatan Puspita.
“Ada yang tidak beres Dokter?” tanya Boedhi tidak sabar.

Dokter itu memandangnya lama lalu menunujukkan kertas laboratirum pada Boedhi dan Puspita.
“Pada hasil test laboratorium ini menunjukkan bahwa Puspita hamil.”
“Kok bisa?” tanya Boedhi dan Puspita serentak.
“Itu dia. Aku sendiri juga sangat tidak habis pikir. Sudah berulang-ulang aku cocokkan lagi dengan cacatanku. Kalian ke sini minggu lalu kan?”

Boedhi dan Puspita serentak mengangguk. Dokter itu kebingungan membolak balik kalender dan riwayat kesehatan Puspita lalu berdiri.
“Untuk meyakinkan hasil tes laboratorium ini kita periksa dalam saja. Ayo Pita ke ruang periksa, kita test USG sekalian.”

Puspita memandang Boedhi ragu-ragu, lalu berdiri setelah dilihatnya suaminya mengangguk penuh keyakinan.
“Luar biasa. Kamu benar-benar mendapatkan hari yang luar biasa.”
Dokter yang masih kelihatan cantik di usia senjanya itu menatap Puspita sambil tersenyum penuh keheranan. Gembira berbaur dengan tanya yang tak terjawab.
“Maksud Dokter?”
“Kamu selesai haid kapan?”
“Tiga hari yang lalu Dok.”
“Makhluk mungil di kandunganmu ini sudah berusia tiga bulan menurut alat ini.”
“Makhluk mungil?”
“Janin maksudku. Jangan tegang begitu dong.”

Puspita masih duduk diam di tempat tidur pemeriksaan sambil terus memperhatikan dokter membersihkan peralatan dan tangannya. Pikirannya berkecamuk tidak mengerti apa yang baru saja didengarnya. Tapi hatinya tersenyum menyatukan bayangan indah dan keraguan pada mimpi yang setia menemaninya dalam gelap malam.

~~~~~

Enam bulan kemudian Boedhi tersenyum sambil menyimpan tanda tanya menatap bayi mungil dalam pangkuannya. Dibisikannya alunan indah ke telinga mungil itu. Mata mungilnya mengerjab mendengar nada Cinta yang dikumandangkan Boedhi. Bibir mungilnya mengukir senyum seperti ingin mencerna dan berenang di dalam nyanyian surgawi itu. Lalu diletakannya bayi mungilnya dengan hati-hati. Dengan hati-hati pula, Boedhi berjalan ke luar ruangan khusus untuk bayi itu, lalu menyusuri lorong Rumah Sakit, menyembunyikan air mata syukur dari kelopaknya.

Dilihatnya dari balik kaca Puspita terbaring lemah di ruangan yang penuh dengan peralatan yang membuat kuduknya berdiri. Matanya tertutup entah sedang berada di mana hatinya. Dokter dan para perawat begitu sibuk berlarian berusaha mengembalikan senyum Puspita yang tiba-tiba lenyap bersama nafasnya yang semakin tersengal. Boedhi menggigil memanggil istrinya dari balik dinding hatinya yang tiba-tiba sunyi.

“Ini kado terindah untukku sayang, tapi akan lebih indah jika kau menemaniku menikmati keindahan kado ini,” bisiknya dengan hati bergetar.
Hatinya meronta pasrah pada sang Kekasih, memohon belas kasihan tak terukir dalam kata. Serangkaian kejadian dalam kehidupan terakhirnya bersama istrinya berjalan di depan matanya bagai layar. Penyesalan ataukah pengakuan, Boedhi mengusap airmatanya yang tak berhenti mengalir. Dengan hati bergetar ditatapnya istrinya dari balik kaca.

“Untuk kesekian kalinya dia ingin pergi bersamaMu ya Kekasih, tapi Kau tahu aku masih membutuhkannya. Ijinkan aku bersamanya sebentar lagi saja. Bukakan pintu maafnya untukku.”

Perlahan air matanya menitik kembali. Dilihatnya dokter sudah berada di sampingnya. Tersenyum sambil menyeka keringat yang membasahi pakaiannya. Tangan dokter yang juga basah keringat itu terjulur.
“Selamat ya Beod. Jagalah keduanya dengan baik.”
“Puspita?” Boedhi tak berani malanjutkan pertanyaannya.

Dilihatnya istrinya dibawa ke dalam ruangan tertutup. Perawat saling berjabat tangan dan mengusap peluhnya masing-masing sambil menatap Boedhi.

“Bukan Puspita namanya kalau nggak bikin jantungku hampir lepas dari tempatnya. Satu jam lagi kamu boleh menemuinya di ruang pemulihan. Sekarang biarkan dia beristirahat dulu.”

Dokter cantik itu tersenyum menenangkan wajah Boedhi yang pucat. Dijabatnya tangan Boedhi sekali lagi sambil berbisik pelan, “Selamat ya, Puspita bilang bayi mungil ini kado ulang tahunmu.”

Kemudian berlalu meninggalkan Boedhi sendiri. Perlahan senyum indah terukir di wajahnya. Tak sabar dilihatnya jam tangannya sambil berjalan mengitari koridor demi koridor rumah sakit, berharap waktu berjalan dengan cepat.*****

by. Kit Rose
(Untuk yang tercinta Febrico Masqa Taqinda. Aku tahu Cintaku ada dalam hatimu)

10 responses to “Misteri Kado Cinta

  1. Dicabutnya “nyawa” oleh Allah adalah peristiwa gaib …
    Ditaruhnya “nyawa” dalam rahim adalah peristiwa gaib pula …
    Allah hanya memberikan sedikit saja pengetahuan tentang itu …
    Allah kadang memberikan indera keenam agar manusia mengetahuinya …
    Keduanya sama-sama menuntut kepasrahan manusia …

    Lagi-lagi … novel “misteri” yang sangat indah Mbak Rose.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s