Ampuni Aku Ibu

“Ampuni aku Ibu. Kini putrimu bagai kucing hilang semang, menatap ragu namun tak ingin sejenak pun berhenti melangkah. Aku tak dapat menjelaskan mengapa Dia membelokkan hatiku ke tempat berpijakku kini. Tempat yang sama sekali tidak Ibu inginkan. Tapi jika Ibu sudi singgah sebentar ke dalam hatiku, Ibu akan tahu kalau cintaku padamu tidak akan pernah berubah. Akankah kau mengunjugi hatiku?”
Melati duduk membisu merangkai kejadian demi kejadian yang baru saja dilewatinya. Matanya memandang sayu keluar jendela kaca di antara pepohonan berlari mengiringi perjalanannya yang kali ini tiba-tiba menjadi sepi. Ditinggalkannya kota kelahirannya, tempatnya meniti hari mencari kepastian dengan hati tak menentu.
Rasa bersalah dan berdosa pada sang Bunda menyelimuti hati yang mulai menitikkan airmata tak nampak. Dihitungnya kenangan demi kenangan berjalan menemani kepergiannya yang kali ini tanpa ucapan sampai bertemu lagi dan kata rindu, seiring dengan laju bis yang ditumpanginya.
Hati dan kalbunya berdesah, “Akankah aku bisa kembali ke sini? Seperti tahun-tahun lalu, bercengkerama dengan kota dan kenangan masa kecilku?”
Kata-kata ayahnya bagai palu hakim yang tak pernah bisa ditawar lagi, oleh siapapun, bahkan oleh putri kesayangan yang kini menjadi putri yang hilang. Setiap kalimat yang dikumandangkan ayahnya adalah sebuah keputusan. Siapa pun tak diperbolehkan menawar. Dan tak kan ada yang berani melakukannya.
Dan hari ini ayahnya sudah menunjukkan kemurkaannya dan mengeluarkan keputusan untuk Melati, ketika putri tercintanya itu pulang untuk mengabarkan bahwa sekarang dia sudah menganut agama lain. Kabar itu disampaikannya dengan suka cita tatkala kegembiraan Melati tersentak oleh sikap ayahnya yang tiba-tiba menjadi tidak lembut lagi.
“Kamu itu panutan kami Melati. Kami sudah rajin berdoa dan pergi ke gereja karena mengikuti nasehat-nasehatmu, mengikuti jejakmu. Hanya kamu yang selalu dapat menentramkan hati Ayah dan Ibu. Tapi kenapa sekarang kamu pergi dan berpaling meninggalkan kami?” kata Ibunya saat Melati mengabarkan bahwa dirinya sekarang adalah seorang mualaf.
“Ampuni Melati Ibu,” hanya itu kalimat yang dapat diucapkan Melati di depan kaki ibunya.
Tapi Ibunya segera menjauh menyembunyikan airmata yang mulai menggenang di balik ucapannya, “Ini untuk kesekian kalinya kamu menyakiti hati Ibu dengan keinginanmu itu Melati. Yang lalu sudah Ibu maafkan karena kamu menuruti permintaan Ibu. Sekarang kamu lebih memilih niatmu itu dari pada Ibu yang melahirkanmu.”
Hati Melati bagai terlempar ke jurang terjal. Dia tak ingin menjadi anak yang tak berbakti, namun pilihannya tak tergoyahkan.
“Ibu, mohon ampuni Melati.”
Matanya yang sudah dipenuhi dengan genangan rasa berdosa menghiba menatap pada sang ayah yang terbujur kaku dan garang di kursi singgasananya.
“Melati sudah menuruti semua keinginan Ayah dan Ibu. Semuanya. Tidak bisakah untuk yang satu ini Melati menentukan sendiri Ayah? Melati mohon.”
“Kalau begitu mulai sekarang kamu tidak usah pulang lagi. Anggap saja kamu sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Dan kamu akan dicoret dari daftar ahli waris. Rumah dan tanah yang sudah atas namamu akan Bapak jual.”
“Dengan segala hormat Ayah, Melati tidak menginginkan itu semua, Melati hanya memohon jangan hapus Melati dari hati Ayah dan Ibu.”
“Besok pagi Ayah tidak mau melihatmu lagi di rumah ini. Kamu bukan bagian dari kami lagi.”
Itulah kalimat ayahnya untuk mengakhiri pertemuannya dengan Melati. Lalu orang tua itu masuk kamar dan tidak mau lagi menemui Melati bahkan saat putrinya hendak berpamitan kembali ke Jakarta. Ibunya pun dilarang menemuinya. Wanita yang sudah mulai beruban itu hanya bisa menangis sambil mengintip putrinya melangkah keluar rumah dengan berurai air mata. Bahkan adik-adiknya pun tak ada yang berani menemuinya.
~~~~~

Berkali-kali kepala Melati menengok keluar kaca penuh harap, matanya mencari-cari, namun tak ditemukannya juga yang diharapkannya. Tak ada lagi pemandangan indah mengantar kepergiannya. Ayah, ibu dan adik-adiknya yang biasanya mengikuti bis sampai perbatasan kota. Ramai membuka semua kaca mobil sambil berebut melambaikan tangan padanya. Ayahnya melambaikan tangan sambil tersenyum bangga padanya. Ibunya yang hanya tersenyum sambil berurai air mata seolah tak mau melepas kepergiannya. Dan adik-adiknya yang ramai meneriakkan salam-salam perpisahan yang tak mungkin didengarnya karena terhalang ruang dan perjalanan yang semakin menjauh pergi dari kota kecilnya. Kini tak ada lagi.
Melati benar-benar tak dapat menemukan apa yang dicarinya bahkan sampai bisnya memasuki kota berikut, mengantarnya pada kesendirian. Disandarkannya kepalanya dengan putus asa. Pipi dan matanya memerah dan pedas karena berulang dihapusnya untuk membersihkan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Dipejamkannya matanya untuk mencari sedikit ketenangan. Dibiarkannya hatinya mengalunkan Nyanyian Surgawi walau dia belum mengerti betul maknanya. Dicarinya ketenangan di tengah galau di sana.
~~~~~

Melati memperlambat langkahnya. Diperhatikannya sekali lagi suasana kantor dengan hati-hati. Beberapa teman dekatnya tak seramah biasanya, bahkan ada yang sengaja memalingkan muka ketika dia menegurnya. Oleh-oleh yang dibelinya di tempat peristirahatan bis pun tak ada yang menyentuh.
“Hei, tak ada yang mau nih oleh-oleh dari Melati?”
Tiba-tiba Seno teman seruangannya muncul, dan setelah menunggu beberapa saat tak ada yang menjawab segera dijinjingnya keranjang penuh oleh-oleh itu kembali ke dalam ruangan. Melati mengikutinya dari belakang.
“Kamu tahu Mel kenapa mereka berubah jadi dingin padamu?” tanya Seno sambil membuka keranjang. Melati menggeleng heran.
“Karena mereka sudah mendengar kalau kamu sekarang sudah berganti agama. Kemarin seharian mereka membicarakanmu. Katanya kamu penghianat. Bla bla bla. Aku sih no coment saja.”
“Kok gitu? Bukankah memilih agama adalah kebebasan pribadi?”
“Semua tahu itu Mel. Tapi kamu kan selama ini menjadi panutan mereka di bintal Kristen.”
“Itu juga aku nggak ngerti. Aku hanya menjalankan apa yang kuyakini di saat hatiku sedang meyakininya. Seharusnya mereka juga melakukan hal yang sama untuk keyakinan mereka. Berpegang teguh pada ajaran Tuhan dan keyakinannya, kenapa aku dijadikan panutan?”
“Aku juga tahu itu, tapi mereka sangat tergantung padamu, setiap masalah yang mereka hadapi selalu ada solusinya saat dibawa padamu, itu yang dikatakan mereka. Yang jelas mereka kecewa sama kamu.”
Kring,,, Telepon di meja Melati berbunyi. Melati mengangkatnya, bicara sebentar sambil sesekali bertanya dan meletakkan gagang telepon sambil mengernyitkan dahi.
“Siapa?” tanya Seno sambil mengunyah keripik kentang.
“Daniel.”
“Ngajak ketemuan ya?”
“Iya. Dia ngajak makan siang di luar. Dia bilang ada hal penting yang akan dibicarakannya.”
“Pasti kamu mau diputusin.”
“Kenapa kamu bilang begitu. Kami nggak ada masalah kok.”
Melati menekuni pekerjaannya dengan pikiran berkecamuk. Tidak bisa dipungkirinya bahwa kata-kata Seno mempengaruhi konsentrasinya. Hari itu terasa panjang bagi Melati untuk sekedar menunggu waktu makan siang.
~~~~~

Melangkah gontai di sepanjang trotoar, Melati mencoba tak sedih dan menenangkan hatinya. Ditelusurinya jalanan menuju ke tempat kostnya dengan pikiran tak menentu. Kelesuan membayang di wajahnya yang ayu. Tegur sapa dari para tetangga di sepanjang perjalanan dijawabnya tanpa bersemangat.
“Tumben Mel masih sore sudah pulang?” tanya ibu kosnya.
“Iya Tante, hari ini rasanya capek banget, mau istirahat dulu.”
“Punya rasa capek juga kamu?”
“Ah Tante bisa saja. Saya permisi dulu Tante.”
“Iya, iya, selamat istirahat. Terima kasih ya oleh-olehnya.”
Melati menjawab dengan senyuman dan segera menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua, terpisah dengan rumah utama dan penghuni kost yang lain. Dihempaskannya tubuhnya di sofa sambil menghela nafas dalam. Pikirannya melayang pada pembicaraan dengan Daniel yang menemuinya hanya untuk mengucapkan kata perpisahan.
“Aku rasa hubungan kita ini tidak dapat diteruskan lagi.”
“Mengapa?”
“Kamu sudah mengerti sebabnya Mel.”
Lalu pergi begitu saja. Ya, Daniel yang biasanya lembut dan penuh kehangatan, kini berubah dingin padanya. Kejadian dan tusukan berturut-turut yang diterimanya membuat kondisi tubuh dan kesehatannya menurun drastis. Dalam kesendirian Melati menikmati segala rasa sakit yang membuat demamnya semakin tinggi.
~~~~~

“Wajahmu pucat sekali Mel?” tanya Seno keesokan harinya.
“Iya, semalam badanku demam. Tapi sekarang sudah mendingan.”
“Gimana pertemuan dengan Daniel?”
Melati tidak menjawab tetapi segera keluar ruangan dengan membawa tumpukan berkas untuk dibawa ke tempat foto copy. Seno mengejarnya dan mengambil tumpukan berkas dari tangan Melati.
“Mengapa tiba-tiba kamu jadi sibuk begini?”
“Berkas ini harus segera difoto copy Sen.”
“Kenapa nggak panggil anak-anak seperti biasanya saja?”
“Kelihatannya mereka sudah cukup sibuk Sen.”
“Aku saja yang foto copy, kamu istirahat saja di ruangan.”
“Makasih ya.”
Jawab Melani singkat dan hendak berbalik menuju ruangannya. Tapi Seno memburunya dengan pertanyaan lagi.
“Tebakanku kemaren benar ya?”
Melani diam.
“Tidak usah menghindar, kamu bisa membicarakannya denganku agar bebanmu ringan.”
Masih diam.
“Aku lihat sejak pulang dari Malang kamu tidak bersemangat seperti biasanya. Pasti ada masalah juga yang kamu bawa dari sana.”
Melati menghela nafas.
“Ayolah Mel, kita kan sudah biasa berbagi suka dan duka.”
“Nantilah Sen, aku belum ingin bicara. Nanti aku ceritakan semua.”
“Baiklah. Nanti jika kamu sudah siap, aku juga siap mendengarkan.”
~~~~~

Beberapa bulan kemudian Melati sedikit terhibur dengan datangnya surat dari Malang. Dengan sembunyi-sembunyi adiknya berkirim surat dan mengabarkan kedua orang tuanya telah bangkrut dan ibunya mulai sakit sakitan. Lalu diam-diam secara rutin dikirimkannya uang pada adiknya untuk membantu semua kebutuhan keluarga.
Hatinya tidak pernah berhenti berdoa, memohon petunjuk pada Tuhan atas segala kejadian yang ingin merenggut ketenangan hatinya. Diam adalah temannya dalam mengarungi kesendirian. Segala hal diurainya dalam diam dan doa.
~~~~~

“Gimana Mel?” tanya Seno di suatu sore ketika mereka sedang duduk di ruang rapat.
“Apanya yang gimana?”
“Ya, perasaanmu. Apa sekarang sudah lebih tenang?”
“Alhamdulillah.”
“Lalu apa pendapatmu dengan apa yang sudah kamu alami ini? Setelah pindah agama, justru kamu mendapatkan banyak kesulitan.”
“Kesulitan dan kemudahan, kadang kita tidak dapat mengukurnya dengan benar Sen. Aku tidak pernah merasa bahwa ini semua adalah kesulitan atau hambatan.”
“Maksudnya?”
“Aku menjadi mualaf baru seumur jagung. Perjuangan dan pengorbananku untuk mencapai manusia yang Islami masih jauh dan masih perlu banyak ujian. Aku pikir, apa yang aku alami ini adalah sebagian dari bentuk kasih sayang Tuhan padaku. Dan aku percaya, Tuhan akan selalu menjagaku dan memberiku petunjuk atas semua ujian yang diberikanNya.”
“Kamu nggak menyesal pindah agama? Dijauhi teman temanmu yang dulu sangat menyayangimu, diusir dari rumah dan tidak dianggap anak lagi, lalu diputus tali pertunangan pula.”
“Justru sebaliknya, aku bersyukur karena dapat melewati cobaan-cobaan ini dalam bimbinganNya. Aku merasa bahwa Tuhan memperhatikan dan menjaga hatiku. Kalau tidak melalui ujian ini, mana kita tahu aku bersungguh-sungguh atau tidak dalam memutuskan dan memilih jalanku ini. Aku hanya memohon diberikan hati yang lurus. Agar segala penyakit hatiku cepat selesai.”
“Kamu hebat ya, bisa menerima semua ini dengan tenang. Tadinya aku pikir pasti kamu akan balik lagi ke agamamu yang lama.”
“Tidak ada manusia yang hebat Sen, kamu jangan membuat aku kelak menjadi manusia yang sombong. Aku masih harus banyak belajar, karena ujian masih panjang menanti di depan sana.”
~~~~~

“Mel, telepon dari Malang,” Seno meletakkan gagang telepon lalu memberikan tempat agar Melati bisa duduk di kursinya.
Melati mengernyitkan dahi sambil berjalan mendekati meja telepon. Ada apa adiknya telepon pagi-pagi begini? Kemaren dia sudah mengirimkan uang untuk kebutuhan satu bulan. Tidak mungkin adiknya telepon pagi-pagi hanya untuk mengucapkan terima kasih.
“Halo,” sahut Melati ragu-ragu.
“Kak, Kakak disuruh pulang secepatnya.”
“Ada apa? Apa ada masalah di rumah? Ibu gimana, sudah sehat?”
“Alhamdulillah, semua baik-baik saja Kak. Ibu juga sudah mulai sehat.”
“Lalu, kenapa Kakak disuruh pulang?”
“Kemaren ada rapat keluarga. Bapak dan Ibu memutuskan untuk mulai menerima kenyataan dan merestui keputusan Kakak.”
“Yang benar? Kamu nggak bercanda kan?”
“Benar Kak, nanti jika Ibu sudah pulih dari sedihnya, aku juga akan mengikuti jejak Kakak. Makanya Kakak jangan bosan kalau aku sering telepon untuk belajar banyak hal.”
“Alhamdulillah, Kakak dengan senang hati akan menerima teleponmu. Kita sama-sama belajar. Sampaikan pada Bapak dan Ibu, Kakak akan pulang dalam waktu dekat.”
Melani meletakkan gagang telepon sambil memejamkan mata. Air matanya deras mengalir diiringi rasa syukur bersama alunan irama indah.     “Ampuni aku Ibu,” bisiknya dalam hati, “Semoga Ibu juga mendapat rahmat sepertiku.”
Lalu dilanjutkannya hari itu dengan kekuatan baru. Satu titian dan anak tangga dilewatinya menuju titian dan tangga berikut. Lalu dititipkannya bait rindu untuk Ibunda yang dicintainya pada sepoi angin yang menyapa kecerian hari yang masih muda itu.

I b u
Aku tak kan pernah dapat menghitung,
kesakitan yang sudah engkau berikan padaku,
dan aku tak kan mampu menebus tiap detik nadi kasihmu,
yang selalu mengiringi entah ke mana langkahku pergi.

Hari ini dalam birunya mimpi,
kutemui wajah asing menemani dan memelukku.
Kuharap doamu agar aku
bertemu dengan
wajah itu*****

by Kit Rose

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s