Dalam Genggaman Mimpi

Ketika hati tak dapat bicara,
dan langkah tak pasti entah mau kemana,
mimpi adalah ruang terindah untuk bicara dan menyapa,
mengatakan apa yang kita inginkan dan mengabarkan hati sepi.

Aku melangkah di antara dua sisi yang berbeda,
hatiku terentang dalam sepi namun sungguh indah di sana,
menggenang rindu meniti hari-hari sepi,
namun di sana kulihat bayangan ingin menyapa.

Lalu apakah masih perlu aku bertanya,
dan aku berjalan mendekat,
dalam pelukan,
mimpi.
~~~~~

“Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Bukankah Papa, Mama, saudara-saudaraku, bahkan teman-temanku banyak yang mengatakan aku ini cantik. Apa benar aku cantik? Lalu mengapa aku tidak punya banyak teman? Dan kenapa juga sampai saat ini aku belum mempunyai kekasih seperti teman-temanku itu? Apakah aku tidak pantas untuk dicintai? Apakah aku ini hanya si punguk yang merindukan bulan?”
Tiara tercenung di bangku taman kampusnya sambil memandangi satu persatu teman-temannya yang lalu lalang dengan berbagai kesibukan. Ada yang dikenalnya tapi lebih banyak yang tidak. Keberadaannya sebagai anak tunggal membuat dia tumbuh menjadi gadis cantik yang sangat pendiam dan tertutup. Hampir seluruh waktu dalam keseharian dihabiskannya seorang diri. Berdialog dengan dirinya sendiri. Kedua orang tuanya yang pemilik tunggal dari salah satu perusahaan jasa transportasi ternama di kota itu sesekali menemani di sela kesibukan mereka.
“Hai. Tiar!” teriak Rina, satu-satunya teman yang sering mengajak Tiara berbincang, “Nggak kuliah? Bengong aja sukanya. Ayo, sudah datang tuh dosennya.”
Seperti biasa, Tiara hanya mengangguk dan tersenyum lalu berjalan menuju ruang kuliah beriringan dengan Rina.
“Kamu dapat salam.”
“Dari siapa?” Tiara bertanya tak bersemangat.
Setiap hari Rina mengatakan hal yang sama. Kini Tiara tak mau lagi berharap Rina menyebutkan sebuah nama. Sedangkan untuk bertanya gadis itu terlalu malu. Bibir dan hatinya hanya bisa menunggu.
“Dari sepupuku. Dia suka sama kamu. Namanya,”
“Hai, Rin. Mana? Katanya mau dikenalin?”
Tiba-tiba seorang pemuda menepuk bahu Rina dari belakang dan berjalan di sampingnya. Matanya melirik Tiara sambil tersenyum. Tiara tertunduk malu. Wajahnya memerah dan langkahnya menjadi serabutan.
“Hush. Ini namanya Tiara, tapi sudah ada yang punya, jadi jangan diganggu. Kamu terlambat.”
Rina mengambil bangku kosong di sebelah Tiara tanpa memperdulikan wajah Tiara yang cemberut. Tiara ingin penjelasan dari Rina atas kalimat yang baru diucapkannya pada temannya dan ingin juga bertanya siapa yang mengirim salam, tapi dosen sudah memberi isyarat bahwa perkuliahan akan dimulai.
~~~~~

“Rin, siapa nama sepupumu yang tiap hari kirim salam itu?”
Suatu hari Tiara memberanikan diri bertanya. Rina menghentikan langkahnya, memandang Tiara sejenak lalu melangkah lagi. Wajahnya berubah jadi mendung dan setengah berlari meninggalkan Tiara.
“Rin, kamu kenapa?” Tiara mengejar.
“Sudahlah, lupakan saja.”
Beberapa hari kemudian Rina berpamitan, dia dan keluarganya akan pindah ke Bandung. Tiara mengubur harapannya. Harapan Rina benar-benar akan memperkenalkan dirinya dengan sepupunya lenyap. Sifatnya yang sangat pendiam membuatnya tidak ingin membahas kenapa Rina berubah sikap dan kenapa tiba-tiba pindah. Tidak ingin bertanya pula kenapa Rina mengatakan pada pemuda itu bahwa dirinya sudah ada yang punya. Keinginannya untuk dapat merasakan kegembiraan seperti teman-temannya kembali terserap dalam diam.
Sesampai di rumah, Tiara sedikit gembira melihat kedua orang tuanya berada di rumah.
“Hari ini aku tidak sendiri,” batinnya.
Tapi itu tak lama. Wajahnya kembali lesu ketika mengetahui kedua orang tuanya pulang hanya untuk bersiap dan pergi lagi. Tiara melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, mengunci semua pintu dan jendela lalu memasuki kamarnya dengan hati kosong. Kedua orang tuanya seperti biasa pulang larut karena harus menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh salah seorang relasi mereka.
“Kamu mau ikut Tiar?” tanya Mamanya sebelum berangkat.
“Enggak ah Ma, Tiar di rumah aja.”
“Ya sudah, jangan lupa makan sebelum tidur ya.” Papanya berpesan sambil mengelus rambut panjang Tiara, seolah dapat membaca kelesuan bergayut di wajah putrinya.
Tiara merasa hari ini begitu menyedihkan. Rina yang memberinya harapan lalu pergi tanpa memberi alasan. Papa Mamanya yang tak pernah punya waktu untuk dirinya. Ingin dia mencegah Mamanya pergi agar dia dapat menyandarkan kegelisahan hatinya dalam rengkuh kasih sayangnya. Menanyakan mengapa hatinya seperti ini, mengapa cuma dia yang sulit mendapatkan keakraban dari teman pria, dan masih banyak lagi mengapa. Tapi tak pernah terucap dan tinggallah keinginan berbalas sepi.
Diambilnya diktat kuliah tanpa bermaksud membaca, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rasa sepi semakin menjalar di tiap inci relung hatinya. Makin senyap dan membawanya ke alam mimpi. Dicarinya bayang yang barangkali bersedia menyapanya.
~~~~~
Tiara berjalan menyusuri lorong gelap itu dengan hati bertanya-tanya. Ditemuinya sungai kecil di ujung lorong gelap yang beberapa menit lalu ditelusurinya. Di sana terhampar taman yang tak begitu luas tapi indah dan penuh keasrian. Tiara berjalan menyusuri bebatuan kecil, menyentuh satu persatu bunga dengan aneka macam jenis dan warna sambil sesekali mencium salah satunya.
“Indah sekali,” bisik Tiara perlahan.
Senyumnya mengembang diselimuti ketenangan. Seorang pemuda memperhatikan Tiara dari jauh, lalu berjalan mendekati.
“Hai,” sapa pemuda itu sambil tersenyum manis pada Tiara.
“Namaku Fakih, kamu siapa?”
Mereka berjabat tangan, memperkenalkan diri satu sama lain, lalu berbincang akrab dan tertawa gembira bersama.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Fakih.
“Apa aku bisa sampai di sini lagi?”
Tanya Tiara tak tahu ditujukan pada siapa. Fakih tersenyum lembut dan berjanji akan selalu berada di taman itu untuk menanti kedatangan Tiara. Tak ingin peduli bahwa dirinya sedang bermimpi, Tiara begitu menikmati dan menghabiskan kebahagiaan bersama teman barunya. Dia hanya tahu bahwa sekarang dia sedang tidak sepi, dia hanya peduli bahwa dirinya juga bisa mempunyai teman yang menyukainya.
“Disini tenang, udaranya segar sekali. Hawanya juga sejuk,” ujar Tiara pelan.
Kepalanya menengadah sambil menghirup udara segar. Matanya dipejamkan untuk mempertegas irama keceriaan yang sedang direguknya. Lalu saat matanya terbuka didapati dirinya berada di tempat tidur. Ya, Tiara terbangun dari tidurnya karena suara nyaring jam beker di meja. Menggeliat, mengucek mata lalu duduk. Di sudut bibirnya masih tersisa senyuman.
“Mimpi? Tadi itu cuma mimpi?”
Tiara bangkit berdiri dan memandangi dirinya di cermin. Ada gurat kecewa di matanya, saat sedetik kemudian senyumnya kembali mengembang. Tak peduli bahwa yang dialaminya hanya mimpi, dengan semangat baru Tiara bergegas merapikan rambut, mengambil handuk dan menenggelamkan diri dalam segarnya guyuran air di kamar mandi.
Sejak saat itu, Tiara selalu menyisipkan doa sebelum tidur, agar kembali bertemu Fakih dalam mimpinya. Entah ada rahasia apa, Tiara tak ingin bertanya, tak juga menuntut penjelasan, doanya selalu terjawab. Hampir tiap malam Tiara bertemu dan bertemu lagi dengan Fakih. Mereka berbagi cerita, suka duka, dan menghias hubungan itu dengan aroma cinta. Tiara tak merasakan kekosongan lagi dalam hidupnya. Kehausan dan kesepiannya menepis segala tanda tanya.
“Aku mencintaimu Tiara, sejak pertama kali melihatmu,” ungkap Fakih pada suatu pertemuan.
Tiara tak hendak mencoba untuk menolaknya karena dirinya sendiri sedang kehausan. Haus kasih sayang, berbincang dan berbagi, dimanja dan diperhatikan, haus didengarkan dan dimengerti, sampai semua terlipat setebal kehausannya akan cinta.
Ya, kedua sejoli berbeda dunia itu menjalin cinta. Kenapa bisa terjadi, Tiara benar-benar tak ingin mempertanyakan. Yang dia tahu sekarang dirinya tak perlu lagi merangkai sepi, tak pernah lagi diam dan mengurung diri di kamar. Dia juga tak lagi membahas dalam hati mengapa kedua orang tuanya seolah tak menyadari keberadaan dirinya. Tiap hari temannya bertambah satu. Dia juga dapat berbagi cerita mengenai kisah percintaannya bersama temannya, tanpa menyebutkan bahwa dia berpacaran hanya dalam mimpi.
Semua tampak nyata buat Tiara. Semua terasa luar biasa. Dia menjadi manusia yang hidup, tak perlu disesali bahwa itu cuma dalam mimpi, Tiara hanya ingin menikmatinya. Dengan sederhana Tiara menerima begitu saja bahwa dirinya sekarang berbahagia. Dunia ditatapnya dengan penuh semangat dan keceriaan.
~~~~~

Beberapa tahun kemudian Tiara lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris pribadi dari salah satu Direktur Pemasaran bernama Lukman. Keceriaan dan keramahan yang semakin mengakrabi wajahnya membuatnya mudah bergaul di lingkungan baru. Di kantornya Tiara disukai oleh berbagai lapisan baik office boy, petugas keamanan, staff, bahkan sampai para atasan, khususnya Lukman. Semua dilaluinya dengan begitu mudah dan ringan.
Selain sebagai atasan dan sekretaris, Tiara dan Lukman juga berteman akrab. Tiara sangat mudah menerima keramahan dan perhatian Lukman karena antara Lukman dan Fakih mempunyai banyak persamaan. Seperti Fakih, Lukman juga sangat perhatian padanya dan tak pernah menganggapnya tidak ada. Keduanya romantis. Kalau Fakih suka menyematkan mawar merah di telinganya, Lukman sering membawakannya mawar putih hampir di setiap makan malam mereka.  Hanya satu perbedaan yang semakin hari semakin dirasakan Tiara. Dengan Lukman Tiara seperti hidup di dunia nyata. Jasmaninya juga dapat mereguk kebahagiaan duniawi.
“Mana lagi tempat yang belum pernah kamu datangi Tiara. Kita ke sana untuk mengisi akhir pekan besok yuk.” begitu selalu kata Lukman di setiap hari Jumat.
Atau sekedar menemaninya menunggu kedatangan kedua orang tuanya, “Kita ngobrol di teras rumahmu ya Minggu besok.”
Begitulah hari-hari mereka lalui berdua. Tiara semakin dibuai oleh kenyataan bahwa dirinya benar-benar bahagia. Seperti halnya dia tak ingin tidak bertemu Fakih, begitu juga dia selalu bergetar saat Lukman mengatakan dirinya cantik. Saat Lukman menatapnya dengan hangat. Tidak terlalu penting buat Tiara walaupun Lukman mengikrarkan bahwa mereka hanya bersahabat. Tapi Tiara hanya ingin mengatakan bahwa dirinya juga bahagia saat bersama Lukman.
“Aku mencintaimu Tiara, sejak pertama kali melihatmu,” begitu kata Lukman di suatu makan malam.
Persis sama dengan apa yang dikatakan Fakih pada saat mengutarakan cintanya pada Tiara. Tiara hanya bisa tertegun tanpa tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakannya. Tubuhnya mengejang. Darahnya membeku.
“Aku ingin kepastian Tiara. Aku tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi.”
Lukman menarik tangan Tiara dan menggenggamnya dengan erat. Tiara semakin tenggelam dalam kebekuan. Hatinya bimbang, pikirannya melayang, tapi ada rasa berbunga. Apakah sebenarnya ini yang diharapkannya dari Lukman?
“Seminggu yang lalu aku dapat tawaran kerja dari Omku di Malaysia.”
“Malaysia?”
“Ya.”
“Lalu?”
“Aku belum memutuskan. Kalau kamu menerimaku, aku akan menolaknya karena aku akan melamarmu dan segera merencanakan pernikahan kita. Tapi kalau kamu menolakku, aku akan berangkat bulan depan.”
“Keduanya sangat berarti bagiku, tak mungkin aku menyakiti salah satunya,” bisik Tiara dalam bimbang.
~~~~~

“Mau nunggu apalagi Tiar? Kalian sudah sama-sama dewasa, sudah cukup umur,” ucap    Laki-laki yang sudah mulai akrab dengan gurat ketuaan itu sambil memandang putrinya dengan penuh harap. Ada sedikit kekawatiran di matanya, “Papa juga sudah ingin momong cucu.”
“Lagi pula nggak bagus berduaan terus tanpa ada ikatan. Nggak enak juga dilihat tetangga, teman dan kerabat,” Mamanya menimpali. “Belum lagi umur kalian kan makin hari makin bertambah.”
“Papa lihat Lukman sangat menyayangimu, sabar dan sopan. Kalian juga kelihatan sangat cocok.”
Tiara tidak punya alasan yang bisa dijelaskan pada kedua orang tuanya untuk menolak Lukman. Tidak mungkin dia menceritakan bahwa dia tidak bisa menghianati Fakih. Orang tuanya tidak akan mengerti betapa Fakih juga sangat berarti baginya.
“Tapi bukankah aku dan Fakih berada dalam dunia yang berbeda? Mungkinkah apa yang kulakukan di sini tidak akan mempengaruhi apapun?”
Perlahan Tiara  sadar bahwa dirinya tidak mungkin selamanya hidup dalam mimpi. Kehidupannya yang nyata mengikat hatinya untuk tidak menginginkan kepergian Lukman. Dalam kebimbangan Tiara berjalan mengikuti kata hati, melibatkan diri dalam persiapan pernikahannya dengan Lukman. Dan mengalir begitu saja.
~~~~~

Tiara membuka pintu besi di depannya lalu memekik tertahan. Ditatapnya pintu besi yang tiba-tiba menjadi sedingin es itu dengan heran, lalu berjalan kaku menyusuri lorong. Pintu besi itu tak sedingin itu malam lalu.
“Seperti ada orang di sampingku,” bisik Tiara dalam hati.
Walaupun matanya tak dapat menangkap bayangan apapun dalam kegelapan di sana, namun nuraninya merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Lorong itu terasa sangat dingin dan mati malam ini. Tiara diam sejenak merasakan tubuhnya mendadak menjadi kaku.
Sementara Fakih sepanjang lorong mengawasi Tiara diam-diam. Gadis itu merasa lorong yang biasa dilaluinya ini sekarang lebih panjang, kelam, beku dan tidak ramah. Jemarinya bagai membeku, giginya gemeletuk menahan rasa yang mencekam. Tak sabar dan kedinginan Tiara melompati sungai kecil sesampai di ujung lorong. Berjalan ke tengah taman, matanya nanar mencari.
Di atas jurang di ujung taman Tiara menangkap kelebatan Fakih sedang tersenyum sambil melambaikan tangan memanggilnya. Tiara tersenyum lega dan berlari mengejar. Dia sama sekali tak menyadari bahwa Fakih melayang di udara di atas jurang. Gadis itu terus berlari sampai di bibir jurang. Saat kakinya terayun hendak melangkah ke kedalamannya, Tiara mendengar seseorang memanggil namanya. Ditariknya kakinya lagi dan menengok ke belakang.
“Tiara,” lamat-lamat terdengar Mamanya memanggil, disusul suara pintu digedor.
Tiara terbangun dan buru-buru membukakan pintu. Kepalanya terasa seperti dipalu. Tangan dan sekujur tubuhnya dingin, wajahnya pucat pasi. Kesadarannya baru pulih setelah membuka pintu dan berhadapan dengan Mamanya yang sudah rapi, kebaya dengan segala pernak perniknya.
“Kamu sakit?” tanya Mamanya kawatir, “Calon pengantin nggak boleh sakit,” dipegangnya kening Tiara lalu digandengnya ke ruang makan.
“Ini, minum dulu susunya, mandi lalu shalat subuh. Jam tujuh perias pengantin datang, jadi jangan lambat.”
Begitu sibuk dan hiruk pikuk di rumah Tiara pagi itu, hingga Tiara tidak sempat lagi mencerna mimpinya. Mobil pengangkut barang untuk dibawa ke gedung sudah keluar dari garasi. Tiara mematut sekali lagi dirinya di cermin dan berjalan keluar kamar diiringi Mamanya dan perias pengantin.
~~~~~

“Mutiara Surya Admadja!”    seru seorang perempuan cantik sambil menjabat tangan Tiara dengan erat, “Aku sungguh tidak percaya waktu membaca surat undangan darimu.”
“Rina? Benarkah ini kamu?” Tiara memeluk Rina dengan penuh rasa rindu.
“Tadinya aku ragu undangan itu bakal sampai ke tanganmu Rin,” sekali lagi Tiara memeluk dan mencium sahabat masa lalunya, “Kamu tidak pernah memberi kabar apakah masih di alamat yang sama sejak kepindahanmu dulu. Suratku pun tidak pernah kamu balas. Aku sangat merindukanmu Rina.”
Air mata Rina berlinang, “Kamu cantik sekali dengan baju pengantin ini Tiara. Semoga Fakih juga ikut berbahagia di sana.”
Bagai disengat ribuan benda tajam Tiara mendengarnya, “Fakih?”
“Ya, Fakih adalah sepupuku yang ingin berkenalan denganmu itu. Seminggu sebelum rencana kami untuk bertemu denganmu dia meninggal. Tabrak lari di depan kampus. Itulah sebabnya kenapa kami memutuskan untuk pindah dari kota ini. Kami tak ingin terus mengingat Fakih dalam kesedihan. Surat-surat cintanya padamu yang tak pernah terkirim masih kusimpan sampai sekarang.”
Tiara serasa tak mampu lagi berdiri. Tubuhnya bagai melayang. Dia tidak yakin dapat mencerna cerita sahabatnya, bahkan perasaannya sendiri pun tak dapat dicernanya. Wajah tamu yang bergantian memberinya ucapan selamat seolah satu persatu berganti dengan wajah Fakih. *****

by. Kit Rose
Ilustrasi Image Google

——————————-

(walau tak ada yang dapat kugapai dari pertemuan itu, telah kau berikan jalanku menemukan cinta ya Kekasih)

4 responses to “Dalam Genggaman Mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s