Perjanjian Hati Dan Iblis

Angin biru menerpa wajah halus pias hampir mati,
tak ada lagi hati mencari.
Rintihnya alunkan gelombang membara pada gelora membisu,
menggeliat di antara rindu dan lapar.

Menerjang batas mimpi berpagut asa di tepi maut,
dan terkapar mencari sisa nikmat tak berbekas.

Terseok di antara pohon plum dan belukar, Puniawati mengais asa dan berjuta tanya. Mengapa tiba-tiba dirinya ada di sini? Tempat asing, dingin, beku, dan sepi. Wajah-wajah di sekitarnya, dari para pemetik plum, tak satu pun yang mempedulikan kehadirannya. Semua dingin.
Lalu peluit panjang berbunyi, pertanda mereka sudah diperbolehkan beristirahat. Puniawati melangkah gontai. Kaki dan tangannya penuh luka. Tersayat ranting tajam dan hawa dingin. Melingkar meringkuk sepi dalam caravan berlumut. Sendiri dalam alunan gempita hati. Mencari batas mimpi dan malam. Namun dia sungguh merasakan kesakitan itu.
“Di manakah aku gerangan?” tanyanya kedinginan.

Matanya perih, nanar mengitari ruangan berlumut itu ingin menangis dan berteriak. Terseok oleh Gema Takbir yang bertalu dalam dadanya, menegakkan hati agar tetap berdiri kokoh dan nyaring, walau telah terburai penuh luka.

“Aku kedinginan Tuhan. Apakah ini hukuman yang harus kutempuh, ataukah ujian untuk ke tangga yang lain?”

Lalu merintih kedinginan di antara beringasnya perkebunan Cobar. Angin dingin menguliti kulit putihnya. Langkah hatinya berlari mencari pintu tak berdaun. Buah-buah plum penuh harapan ranum bergayut mengantar mimpi kelam. Ingin memetik satu untuk dahaga dan laparnya, namun badai penuh amarah melengking hempaskan kesadaran.

~~~~~

Puniawati terbangun dengan tangan penuh goresan dan luka. Wajahnya pucat kemerahan bagai tersengat bara dan bongkah es. Tubuhnya lemas bagai menempuh ribuan mil jalan tanpa ujung. Matanya terbuka, namun menatap jauh. Dan kosong. Hendra mengusap peluh dingin di kening dan leher istrinya. Diangsurkannya gelas penuh air ke tangan Puniawati. Tapi perempuan itu tak dapat menelan air yang tiba-tiba terasa menggigit kulit tipis lehernya. Perih.

“Kamu mimpi apa lagi Nini?”
“Aku nggak jadi berangkat Mas.”
“Maksudnya apa? Kenapa nggak jadi berangkat?”
“Aku nggak tahu, tapi aku sudah ke sana. Ke perkebunan itu.”
“Dalam mimpi?”
“Entahlah. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang aku alami. Tapi tiga hari berturut-turut aku berada di sana. Memanjat tangga kayu licin, memetik plum, kedinginan, kehausan, dan sendiri.”

Lalu menunjukkan luka-luka kecil di tangannya karena sayatan dan goresan dari ranting-ranting pohon plum. Diceritakannya betapa panas menyengat dan dingin membeku jika kedua musim itu tiba. Diceritakannya betapa keras dan berat perjuangannya di sana. Lalu kembali merebahkan diri. Dikatakannya betapa lelah dirinya.
Hendra memandangi istrinya tak ingin percaya, tapi apa yang dilihatnya membungkam keraguannya. Diambilnya obat untuk luka-luka kecil di tangan dan kaki istrinya. Lalu dicobanya untuk menenangkan istrinya yang terlihat sangat kelelahan. Dan putus asa.

~~~~~

“Tiga hari tiga malam Nini tidur seperti orang mati Guru. Badannya demam tinggi, berbicara, tetapi tidur. Tak satupun yang dapat membangunkannya dari tidur panjangnya itu.”
“Ini rangkaian dari mimpi-mimpi sebelumnya Mas Hendra.”
“Rangkaian dari mimpi?”
“Pada saat Nini berangkat ke perkebunan itu, saat itulah Nini memenuhi janjinya pada alam. Tapi takdir dan perjalan hidup tetap Allah yang menentukan. Nini sudah memenuhi janji hatinya, dan sekarang tinggal menunggu, apakah berikutnya yang akan terjadi nanti. Yang penting Mas Hendra terus dampingi Nini pada saat duduk malamnya.”
“Saya sudah menduga juga seperti itu Guru, makanya saya nggak berani bawa ke dokter.”
“Niatan Nini untuk berangkat ke Australia itu bukan main-main Mas, tapi diucapkannya dengan menggunakan kedalaman hati sehingga alam pun ikut mendengarnya.”
“Tapi kenapa Nini bilang tidak jadi berangkat Guru.”
“Biarkan alam pula yang menjawab. Nanti akan ada kabar dari badan intelijen apakah visanya Nini disetujui atau tidak. Sementara tidak usah terlalu dibahas dulu. Biarkan Nini istirahat,” jawab lelaki tua itu sambil memandang Puniawati dengan lembut.
“Pesan saya Nini, janganlah lagi memaksakan diri untuk melihat ke depan. Biarkan datang satu persatu seperti yang sudah dijadwalkan. Nini harus sabar, agar tidak membuang energi sia-sia.”

Puniawati mendekap bimbangnya, menjawab tatapan suaminya dengan pandangan kosong. Akankah suaminya percaya jika dikatakannya dirinya tak akan ke perkebunan itu lagi? Dia tak akan bisa menjawab jika suaminya bertanya, kenapa? Tak akan.
“Perlukah aku bertanya padaMu mengapa Kau beritahukan ini ya Cinta? Apa yang dapat kujelaskan pada suamiku ya Kekasih? Yang aku tahu hanya aku tak kan ke sana. Mengapa Kau berikan pengetahuanku dalam kebodohanku?” bisik Puniawati dengan lelah.

~~~~~

Satu minggu berlalu, kesehatan Puniawati semakin membaik. Kini duduk di teras apartemen sahabatnya sambil mengepulkan asap putih sigaretnya, Puniawati memandangi surat penolakan visa di tangannya. Dan tak tahu harus merasa apa. Hanya membisu.

Ada syukur dan senang bersatu karena masih bisa memeluk, menyentuh dan merawat ketiga putra putrinya. Tapi ada sempit menghimpit bersembunyi mengintai hatinya. Ke mana lagi harus berlari, mengakhiri sesak dan pengadilan untuknya?
“Tertutupkah semua jalan bagiku Ya Allah?” bisik hatinya sambil berlinang.
Semua mata memandang Puniawati dengan berbagai macam ekspresi. Menunggu. Puniawati membisu, menghisap dalam sahabat setianya, sekejap kemudian menghembuskannya dengan mata penuh bara. Hendra terpaku melihat sinar amarah di mata istrinya.
“Kalau Nini memutuskan untuk mengulang pengajuan visa, kata pak Ricky kemungkinan diterimanya besar sekali, karena melalui jalur keluarga. Pak Ricky sendiri yang akan mengurusnya nanti,” ulang Sonny ragu.
“Aku sudah melempar bola, dan inilah pantulannya.” jawab Puniawati pelan, bahkan hampir berbisik.

Matanya menerawang jauh tak terbaca. Gundahnya tertutup ketegaran memukau kelam di matanya. Airmatanya tersimpan rapat dalam dendam. Beribu tanya tertelan beku dan amarah. Ingin berlari mengejar tapi terikat pagar penuh onak.
“Ah, loe muter-muter deh ngomongnya,” Noni tak sabar, “Visanya mau diurus lagi nggak Mbah? Nggak pake diterawang lagi deh. Bos Ricky nunggu jawaban, karena anaknya juga nggak mau berangkat kalau eloe nggak berangkat. Understood?”
“Nggak usah,” jawab Puniawati tajam.
Semua terkesiap memandang Puniawati tak percaya. Hendra menarik nafas lega. Maya menyesalkan. Doddy mengepalkan tinjunya. Noni mengumpat dalam hati. Dan Sonny tersenyum mengerti.
“Loe gila ya Nin?” celetuk Doddy, “Kita sudah berjuang mati-matian untuk visa ini, kenapa loe mundur? Mumpung lewat jalur khusus Nin, ayolah.”
“Lagian aneh banget sih. Berlima yang ditolak cuma Nini, padahal data dan kelengkapan semua sama, klop, bersih. Kenapa cuma Nini yang ditolak ya, bingung gue jadinya,” Maya membolak balik copy dokumen.
“Ya? Nini mau ya visanya diajuin lagi?” Doddy membujuk.
“Kalian berangkat saja sendiri,” jawab Puniawati tak peduli.

Doddy menghempaskan badannya dengan putus asa di sofa. Segala cara sudah dilakukan tapi Puniawati tak bergeming. Suasana menjadi tegang tapi Puniawati tetap tak bergeming. Matanya lurus memandang kejauhan di antara beton-beton raksasa berlomba mencapai ketinggian.
“Oke deh. Untuk sementara semua nggak jadi berangkat,” Sonny sang ketua memutuskan. Dan semua mata menatap kecewa.
“Kalau Nini nggak berangkat gue juga enggak,” Noni.
“Gue juga,” Maya
“Inilah yang kusukai. Bola sudah dilempar, dan inilah pantulannya. Pasti Nini melihat sesuatu. Kita pikirkan langkah selanjutnya.”

Keputusan sang ketua disambut dengan perayaan kecil. Masing-masing mengangkat gelas dan dentingnya menghiasi ruangan apartemen itu bagai bara membungkus keraguan hati. Aroma menyengat dari minuman beralkhohol melenakan jiwa-jiwa hilang arah dalam kekelaman. Lembutnya asap tipis daun-daun surga menerpa hati menjerit pilu. Menggapai keinginan berbatas kelam.

Dan malam menjadi saksi puing-puing hati nan rapuh. Merintih kelu menghiba ampunan. Kala letupan nestapa menggaung memenuhi rongga-rongga lengah hati penuh galau. Di sana perjanjian dengan kegelapan dimulai. Perebutan kuasa antara terang dan gelap menyengsarakan. Puniawati terlempar jauh kembali ke belakang beribu langkah penuh onak. Menangis pilu memanggil sang Kekasih.

~~~~~

Perjanjian dibuat, perencanaan dimulai. Kembali Puniawati mencoba membaca lukisan dan segera melemparkan bola. Diterimanya tawaran sahabatnya untuk menjadi kurir. Yang ada di kepalanya hanya bagaimana caranya mendapatkan uang. Hutang semakin bertumpuk, kebutuhan tak ada yang dapat dipenuhi. Anaknya berwajah tirus, suaminya semakin terpuruk, dan kursi pengadilannya semakin membara.
“Baik Pak, akan saya pastikan semua pada posisi masing-masing. Siap. Nini Pak. Siap. ‘Nike’ Pak, ‘Peci’nya cancel. Siap.”
Sonny meletakkan gagang telepon dan memandang Puniawati sambil tersenyum lebar. Dipungutnya sebatang kretek lalu dilempar sisa bungkusnya pada Puniawati.
“Gue dah bilang Bos. Loe yang berangkat. Boil dah siap kan?”
Puniawati mengangguk.
“Jadinya berapa per ‘O’?” Hendra.
“Lima puluh jetty sampai Njajag. Gue tunggu kalian di Banyuwangi.”
“Bawa berapa?”
“Sayur dua ‘O’, kacang sepuluh ribu.”
“Berarti sepuluh kali antar hutangku lunas ya?” Puniawati.

Hendra melirik istrinya ragu-ragu. Kepalanya berkecamuk berbagai kemungkinan. Tapi kata sudah terucap. Janji meluncur tercatat kelam. Tak ada sisa menarik keraguan.
“Plan B?” tanya Hendra semakin ragu.
“Buang di jalan lalu arahkan mobil ke Semarang. Kalian diam di sana satu atau dua minggu. Tunggu kabar baru pulang. Matikan semua telepone. Jangan hubungi siapapun,” Sony mematikan rokoknya lalu menatap Hendra lekat, “Ingat, dua minggu baru buka komunikasi.”
“Siatuasi terakhir siapa masuk?” Noni nyeletuk sambil mengangkat kakinya.
Semua mata memandangnya. Mengukur arah pertanyaan perempuan cantik itu.
“Aku,” dengan mantap Puniawati menjawab.
“Kamu gila ya?” Hendra tak terkendali.
“Aku yang minta pekerjaan ini Mas, jadi biarkan aku yang bertanggung jawab. Sekali lagi, kita berbagi tugas.”
“Nini, berpikirlah dulu sebelum bertindak. Ingat anak-anak.”
“Aku sudah pikirkan ini, dan aku sendiri yang akan menjelaskan ke anak-anak kenapa mamanya sampai berada di penjara kelak.”
“Sudah, jangan membahas yang belum terjadi dulu. Bos pasti nggak akan tinggal diam. Jika kalian masuk rontoklah jabatan dan kebahagiaannya. Akan gue pastikan itu. Tenang saja. Besok jangan lupa ke Tangerang ya,” Sonny mengakhiri pertemuan.

~~~~~

Puniawati melangkah ragu memasuki pintu kayu berpalang sebatas lutut. Diam membiarkan petugas membubuhkan stempel di tangannya. Lalu mengeluarkan tanda pengenal dan menunggu pemeriksaan bingkisan. Sampai di dalam ruang tunggu Puniawati menyalakan rokoknya mencari ketenangan. Matanya nanar menyantap pemandangan asing di depannya. Pengunjung entah siapa dengan siapa berebut pojok mencari nyaman.

Tak lama seorang lelaki tinggi berbadan tegap dengan kulit bersih dan senyum sinis menghampiri mereka. Puniawati beringsut mendekati suaminya. Sonny berbincang agak menjauh lalu memperkenalkan.
“Ini Bang yang namanya Nini Puniawati. Dan ini suaminya Hendra. Mereka yang akan mengawal sampai Banyuwangi.”
Lelaki itu terpaksa berbagi sedikit senyuman lalu menanyakan beberapa hal pada Puniawati dan Hendra.
“Takut?” bertanya Garang.
Puniawati menggeleng tegar.
“Kalian sudah dengar?”
“Apa Bang?” Sonny.
“Cobar terbakar. Ratusan lenyap jadi abu. Kawan kita tak satupun yang selamat. Ludes bersama barang bukti. Kita aman,” melirik Puniawati.
Semua mata terbelalak. Menyesali kepunahan dan kepergian. Dan mensyukuri keputusan Puniawati. Kecuali Puniawati. Hatinya menangkap yang tak didengarnya. Matanya nyalang mengawasi sahabatnya Sonny. Dalam sekejap amarahnya membuncah. Tak disambutnya tatapan permintaan maaf Noni dan Sonny.
“Ya Allah, benarkah? Benarkah?” bisiknya.
Tiba-tiba Hendra menarik tangannya ke sudut ruangan yang semakin pengap penuh asap rokok dan berbagai macam aroma.
“Kamu melihat apa? Apa maksud mereka?”
“Aku takut ini salah,” menunduk.
“Katakan saja,” tajam mencengkeram lengan Puniawati.
“Aku takut salah Mas.”
“Mengapa Boy tahu kamu akan ke Cobar?” semakin kuat.
“Mereka menyelundupkan barang.”
“Dan kamu yang mereka rencanakan akan membawa barang-barang berikutnya?”

Puniawati mengangguk tak berdaya. Ditatapnya penuh luka Sonny yang sedang berjalan mendekat.
“Tenang Ndra, sekarang Nini benar-benar nggak akan memetik plum,” menghisap rokoknya dalam.
“Kita nggak akan ke sana sampai kapanpun. Sorry gue nggak ngasih tahu sebelumnya tentang barang itu.”

~~~~~

“Aku sama sekali nggak nyangka Sonny akan setega itu.”
“Sudahlah Mas, tenangkan hatimu. Kita sudah terlanjur mengucapkan janji. Simpan sesalmu dalam doa. Aku tahu ini salah, dan aku juga tak ingin melakukannya. Tuhan yang akan menunjukkan arahnya.”
“Tak bisa kuhapus wajah puas Noni saat mendengar kesanggupanmu menjadi korban jika rencana ini gagal.”

Puniawati tak mau menyambut kemurkaan suaminya. Segera dikemasnya keperluannya dan Hendra. Hatinya gemuruh antara murka dan putus asa. Tangannya bergetar meletakkan sajadah dalam satu koper paling bawah. Jiwanya menjerit tak ingin melawan. Tapi keyakinan atas jalan keselamatan menghiburnya. Tiba-tiba Hendra mencengkeram lengannya.
“Tolong Nini, demi anak-anak kita, ijinkan aku menghubungi mereka dan membatalkan perjanjian bodoh ini.”
“Jangan Mas. Inilah jalan satu-satunya agar aku bisa terlepas dari belenggu mereka. Apapun akhir dari rencana ini, aku akan dapat menyingkir dari kehidupan mereka tanpa harus menyakiti satu pun.”
“Beritahukan rencanamu atau aku melarangmu ikut. Aku akan berangkat sendiri.”

Kembali Hendra mencengkeram lengan istrinya. Puniawati meletakkan kopernya, mengulum lembut bibir Hendra bersama alunan surgawi yang mengalun merdu dalam hatinya, lalu menarik tangan Hendra memasuki mobil.
“Aku saja yang bawa mobil Mas. Nanti gantian, habis ambil barang Mas terusin sampai Banyuwangi.”
Hendra mengangguk. Keduanya memulai perjalanan dalam bisu. Hati dan kata bertikai menjemput lukisan baru. ***

by.Kit Rose

Ilustrasi Image Google

4 responses to “Perjanjian Hati Dan Iblis

  1. Banyak bermain metamorfosa kata sehingga beberapa bagian membiaskan makna sesungguhnya, bahkan salah satu pernyataan tokoh nampak benar yang bicara bukan karakter tapi inilah Kit Rose, kegemaran bergumul dengan pilihan kata. Ada semacam gambaran petualangan jiwa yang luka tentang sesuatu pencapaian. Harus dirapikan dari kata yang sia-sia agar lugas dan tegas sehingga cerpen ini semakin bernas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s