Misteri Dalam Kegelapan

Dengan ganas direnggutnya lembar demi lembar pakaian yang melekat pada tubuh Puniawati. Taringnya bagai bilah berkilau menyeringai pada tubuh putih bersinar sedang tergolek di atas ranjang. Liurnya menetes, menatap liar pada raga hangat memukau dalam kebekuan malam.

Tapi kesucian alam tak rela jiwa tak berdaya yang sedang terlelap itu menjadi mangsa kegelapan. Bersatu dalam ketulusan hati yang tak putus menyebut namaNya, alam berbicara. Pertikaian antara hitam dan putih pun terhentak oleh dentingan lonceng yang menempel di dinding mengabarkan kematian hendak mengintip jiwa.

Jam tiga hampir dini hari. Puniawati yang baru sejenak bergabung dengan alam mimpi terbangun kedinginan. Keheranan mendapati dirinya setengah telanjang. Matanya mengitari ruangan, tidak ada siapapun yang sedang terjaga selain dirinya. Ibunya yang tidur di ranjang atas bersama putri sulungnya terdengar mendengkur halus dalam buaian mimpi. Suaminya di kasur lipat bersama putra keduanya juga terlihat menyungging senyum entah sedang menikmati mimpi apa. Dan si bungsu yang masih balita meringkuk tenang di sampingnya. Malam pun masih nyenyak.

Puniawati mengusap kuduknya yang tiba-tiba berdiri, lalu melompat turun dari tempat tidur, berjalan kaku menuju pintu dan mencoba membukanya. Terkunci.

Dikitarinya ruangan dengan matanya yang sudah kehilangan kantuk, tapi tak ditemukannya juga bajunya. Berkeliling beberapa kali menyisir seluruh sudut kamar bajunya tetap tak ditemukan. Disambarnya selimut untuk menutupi tubuhnya yang semakin kedinginan. Lelah mencari, Puniawati mengambil baju di tasnya dan segera memakainya lalu kembali ke tempat tidur. Nuraninya membisikkan sesuatu sedang mengintip tenangnya.

“Nini,” suara parau membekukan tubuhnya yang kedinginan.

Bersamaan dengan angin yang seketika dibekap kelu, Puniawati kembali duduk dan hendak melompat dari tempat tidur membangunkan suaminya. Tapi tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku. Tangan dan bibirnya gemetar membeku, jantungnya berdegup tiada jeda, suaranya melengking dalam hati memanggil suaminya. Sesaat kemudian Puniawati mencoba menolong dirinya sendiri dengan memanggil Kesucian Surgawi. Dicarinya hatinya yang biasa menemaninya. Diusirnya rasa takut dengan mencengkeram kekuatan Illahi. Raut putihnya semakin pasi dalam alunan dzikir.

“Nini Puniawati,” kembali suara itu berdesir.

Malam beradu suram berpagut kebekuan. Seluruh penjuru ruangan menjadi semakin dingin dan mencekam. Binatang-binatang malam pun enggan bicara dan merapatkan dirinya ke pojok-pojok gelap. Puniawati seorang diri melawan pekatnya pemandangan tak bernyawa.

“Mana mungkin?” desahnya dalam hati, “Suara itu menyebut namaku,” bergetar ngilu.

“Ya Allah, jangan lagi membawaku pada sesuatu yang aku tak mengerti maknanya, aku mohon. Apa lagi yang ingin Engkau tunjukkan padaku? Aku tidak mau ya Allah, aku mohon.”

Bibir Puniawati terpaku bisu, tapi hatinya tak henti mengalunkan doa dan dzikir. Tubuhnya dingin menggigil, lalu dipejamkannya matanya dan berbisik hampir putus asa,    “Wahai apapun dan siapapun yang berada di sini selain dari golonganku, tolong jangan ganggu aku karena aku juga tak mengganggumu. Maafkan jika kehadiran kami tidak dikehendaki. Aku bersama keluargaku hanya ingin menyapa keindahan pulau Bali.”

Lalu meringkuk kaku memeluk erat si bungsu sambil tak henti mengalunkan Irama Suci. Dinantinya pagi dalam ketegangan yang tak juga pulih, berharap kekelaman segera berlalu. Diliriknya satu persatu penghuni kamar. Semua masih terlelap. Nalurinya merasakan sesuatu sedang mengawasinya dalam kegelapan.

~~~~~

“Nini sudah mandi?” tanya tantenya di meja makan.
“Belum Tan. Mau tidur sebentar, baru mandi.”
“Tidur? Masih kurang? Katanya mau ke Kuta?” protes suaminya.
“Aku belum tidur Mas. Ngantuk banget.”
“Sarapan dulu ya?”
“Nggak ah Tan, makasih.”
“Kebiasaan begadang sih. Kamu tidur jam segini mau jalan jam berapa?” suaminya tak dapat menyembunyikan kejengkelannya.
“Nih, diminum dulu kopinya biar nggak ngantuk. Setelah itu mandi. Kasihan anak-anak sudah nungguin dari tadi.” Tantenya berusaha melerai suasana, mengangsurkan secangkir kopi panas.

Tanpa sepatah kata pun Puniawati menghabiskannya sekali teguk, mencuci dan mengemas peralatan makan pada tempatnya, kemudian berlalu menaiki tangga menuju ke kamar yang menjadi tempatnya selama dia dan keluarganya berlibur di pulau Dewata.

Kembali kuduknya berdiri sesampai di ujung anak tangga. Dari belakang kepalanya terdengar helaan nafas berat, lalu dengan cepat Puniawati melihat kelebatan bayangan melesat mendahului langkahnya. Kembali ketakutan telah terhalangi alunan dzikir di setiap helaan nafas. Puniawati mencoba tak peduli dan terus melangkah. Diliriknya bayangan itu tapi tak ada apapun di ruangan luas itu.

Memasuki kamar, sesuatu menggerakkan hatinya untuk kembali menelusuri tiap sudut. Dengan penasaran ditariknya tempat tidur hingga tergeser. Seketika matanya tertumbuk pada kain berwarna hitam menyembul keluar dari antara celah dinding dan tempat tidur yang berhasil digesernya sedikit. Karena berat dipanggilnya suaminya untuk membantu menarik tempat tidur itu. Dijawabnya pertanyaan heran suaminya dengan tanpa sepatah kata pun.

Puniawati melongokkan kepalanya ke kolong dan benar, baju tidurnya terjepit di sana. Diambilnya baju itu dan ditunjukkannya pada suaminya, lalu menceritakan apa yang dialaminya semalaman. Suaminya tertegun memandangnya. Lalu ditutupnya pintu kamar perlahan.
“Kamu masih terus berdzikir?”

Puniawati hanya mengangguk, membersihkan baju yang penuh debu, ingin menghindar dari tatapan kesal suaminya.
“Kan guru sudah sering berpesan, kalau mau terlepas dari kejadian-kejadian yang selama ini kamu alami, hentikan dulu dzikirmu itu.”
“Aku sudah berusaha Mas, tapi nggak bisa,” menunduk.
“Untuk sementara saja Nini, sampai kamu mengerti betul makna dari masing-masing ayat itu.”
“Sudah aku bilang, aku nggak bisa Mas, nggak bisa. Alunan itu mengalir dengan sendirinya,” jawab Puniawati putus asa, “Kalau sekarang aku disuruh menuliskan apa yang aku lafalkan dalam hati itu juga aku nggak bakalan bisa.”
“Cobalah terus menghentikannya. Ini demi kebaikanmu juga.”
“Bagaimana lagi caranya? Aku benar-benar nggak ngerti. Aku juga nggak mau seperti ini,” jawab Puniawati hampir dengan tangis, “Mas pikir aku senang tiap saat dijejali kejadian-kejadian aneh seperti ini? Aku sendiri tersiksa Mas. Tolong beritahukan bagaimana caranya aku bisa menghentikan hatiku? Dia bicara sendiri, aku tidak pernah merencana atau meniatkannya.”

Hendra beranjak meninggalkan Puniawati. Kekesalannya tak lagi dapat ditutupi. Sebelum menghilang dari balik pintu, lelaki itu menengok dan memandang tajam pada istrinya seraya berkata dengan tajam, “Cobalah lagi. Demi kebaikanmu sendiri.”

~~~~~

“Ma, mampir  ke Sukowati dulu dong, please?” rengek putrinya dalam perjalanan pulang dari Kuta.
“Papa capek ah Wil, kita langsung pulang saja,” jawab Hendra.
“Mama, please, please, please?” Wila memandang mamanya dengan roman ampuhnya, memelas.
“Mau beli apa sih?”
“Pingin beli oleh-oleh buat teman-teman Ma, sebentar saja.”

Puniawati melirik suaminya memberi isyarat, “Kalau capek minggir dulu aja Mas, biar aku aja yang bawa mobilnya,” lalu menggantikan suaminya melanjutkan perjalanan.
“Yes! Thank you ya Ma.”
“Dedek juga boleh Ma?” Shafa, si adik mengekor kakaknya.
“Tapi belanja seperlunya saja ya, nggak boleh berlebihan.”
“Batasnya Ma?” tanya Wila.
“Jangan selalu tergantung pada Mama. Coba sekarang Wila belajar mengukur sendiri, seberapa wajarnya berbelanja keperluan. Yah, hitung-hitung sambil ngajarin dek Shafa. Oke?”
“Caranya? Kakak belum bisa. Ntar kalau kebanyakan gimana?”
“Ikutin aja yang biasa Mama lakukan. Kan Mama sudah sering kasih contoh. Barang yang sudah diambil tapi terasa tidak terlalu penting kembalikan lagi.”
“Biar nggak mubazir ya Ma?” sela Shafa ingin dipuji.

Puniawati tersenyum penanda pujian pada putranya, lalu membelokkan mobilnya dan memasuki pelataran parkir sebuah toko pusat oleh-oleh. Ibunya dan hampir seluruh penghuni mobil serentak dengan kompak protes.
“Kok ke sini?” tanya suaminya heran.
“Katanya ke Sukowati?” sahut Ibunya.
“Di sini saja yang deket rumah. Katanya Mas capek.”
“Disini juga lengkap kok Mas. Harganya juga masih di bawah toko lain.” jawab Saraswati, sepupu Puniawati yang menjadi pemandu wisata mereka selama di Bali menjelaskan.

Puniawati mengawasi kedua anak dan sepupunya dari teras toko, sementara Hendra lebih memilih merebahkan dirinya di dalam mobil. Untuk membunuh waktu dipesannya secangkir kopi, lalu dinyalakannya sebatang marlboro light sambil matanya mengitari pemandangan di sekitar toko. Tiba-tiba matanya terpaku pada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari jendela kaca di lantai dua. Mata yang sama dengan yang dilihatnya dalam tidur selama berada di rumah tantenya. Merah menyala, dan pekat.

Mata itu juga yang selalu mengawasinya dari tiap sudut kamar dan seluruh ruangan di lantai atas rumah tantenya. Segera alarm di hati Puniawati berbunyi. Dibuangnya rokoknya yang masih panjang lalu berlari memasuki toko. Perasaannya mengatakan dia harus berada di dekat anak-anaknya.

Sampai di lantai dua dicarinya jendela kaca yang dilihatnya dari luar, tapi semua tertutup oleh deretan baju dan kaos dengan aneka bentuk, warna dan model.

Puniawati menyibakkan salah satunya tapi di belakang baju-baju itu tidak ada kaca selain lembaran triplek yang disambung satu sama lain membentuk dinding. Dikitarinya ruangan itu sambil sesekali menyibakkan baju-baju yang menutupi dinding. Mata dan hatinya menatap diam-diam, ada yang sedang mengawasinya.

“Ada yang bisa saya bantu Bu?” seorang pelayang mendekat.
“Di balik triplek ini apa Mbak?”
“Itu jendela kaca yang menghadap ke jalan.”
“Kenapa nggak dibuka saja Mbak, biar terang ruangannya?”
“Nggak bisa Bu, tripleknya kan sudah dilem nempel di kaca, jadi jendelanya nggak bisa dibuka.”
“Oh, begitu ya?”

Puniawati tersenyum pada pelayan lalu merununi tangga dengan cepat. Dilihatnya anak-anaknya sedang menunggu antrian di depan kasir. Puniawati mendekati mereka, sambil matanya mengawasi sekitar ruangan yang tampak gelap itu.

“Wila, bawa sini belanjaannya, biar Mama yang antri. Dik shafa ajak ke Papa ya. Papa nunggu di mobil tuh. Jangan kemana-mana sampai Mama keluar toko ya.”
“Ma, boleh nambah kalung etnik nggak?” tawar Wila.
“Sudah cukup sayang, nanti kita beli lagi di tempat lain.”

Kedua kakak beradik itu berjalan keluar toko. Puniawati menggantikan kedua anaknya berdiri dalam antrian ditemani Saraswati. Matanya mengawasi kedua putra putrinya berjalan ke luar toko, ketika tiba-tiba alarm dalam hatinya berbunyi. Puniawati segera menatap sebuah meja dibungkus rapat dengan kain sarung kotak kotak ciri khas Bali di sebelahnya. Sedetik kemudian seorang ibu yang berdiri di sebelahnya menjerit sambil membelalak ke arah Puniawati, melempar barang belanjaannya begitu saja, lalu dengan wajah pias berlari ke luar toko.

Puniawati memandang heran, lalu menjerit tertahan. Kakinya terasa tertusuk beberapa benda tajam, seperti ditarik dengan kuat oleh sepasang tangan besar dan berkuku tajam. Badannya terpelanting ke belakang.
Dibantu beberapa pengunjung toko yang sudah ramai berkerumun di sekelilingnya, Puniawati mencoba duduk sambil mengerang kesakitan. Darah merembes pada celana jeans yang dikenakannya. Puniawati menarik celananya sampai ke lutut, dan terlihat luka memanjang dari lutut sampai pergelangan kakinya.

Seorang ibu mengeluarkan tissue dan mengusap luka di kaki Puniawati. Orang-orang yang sedang berkerumun itu ramai membicarakan apa yang terjadi. Pelayan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengunjung dengan bungkam dibalut wajah pucat. Puniawati tidak tega melihatnya, lalu menahan sepupunya yang hendak marah.

“Digigit apa ya ini tadi?” tanya seorang Bapak.
“Ini sih bukan digigit Pak. Kalau dilihat lukanya semacam cakaran atau goresan benda tajam. Ibu tidak apa-apa?” tanya Bapak yang lain.
“Nggak apa Pak, terima kasih. Luka kecil kok, tapi lumayan sakit sih.”

Puniawati membayar belanjaannya dan berjalan keluar toko sambil menahan sakit. Sampai di mobil Saraswati menceritakan apa yang terjadi. Hendra memandang tajam pada istrinya.

“Masih sakit?” tanyanya sambil melihat luka di kaki Puniawati.
“Lukanya sih nggak terlalu sakit, cuma perih sedikit. Tapi tulang kakiku kok jadi ngilu ya?”
“Ini biru memar di sekitar lukanya kenapa?” tanya Hendra sambil mengernyitkan dahinya.
“Udah, nggak apa-apa.”

Puniawati menangkap pandangan tajam suaminya, menarik kakinya dan mencoba bersikap sewajar mungkin. Dialihkannya pembicaraan pada topik lain agar ibunya tidak terus bertanya. Pikirannya melayang pada kejadian demi kejadian yang dialaminya dan bertanya-tanya tiada henti dalam hati.

“Apa benar ini semua karena hatiku yang terus dan selalu berdzikir tanpa kuminta? Apa hubungannya? Bukankah berdzikir itu baik? Lalu kenapa aku dipaksa untuk berhenti?”

Kepalanya mendadak terasa berat dan lelah. Disandarkannya sambil memejamkan matanya, berusaha mengembalikan ketenangan dalam hatinya. Namun sepasang mata yang menyala merah itu tak mau lepas dari pandangannya. Dicobanya untuk terus mengusir tatapan itu.

~~~~~

Untuk ketiga kalinya kembali Puniawati terbangun dalam keadaan setengah telanjang. Kali ini baju tidurnya ditemukan di atas lemari pakaian oleh pembantu yang membersihkan kamar keesokan harinya. Tanpa dapat dicegah seisi rumah menjadi gempar karenanya. Akhirnya dengan berat hati Hendra menceritakan pada Om dan Tantenya Puniawati bahwa apa yang dialami istrinya itu sudah yang ketiga kalinya.

“Kamu tahu siapa yang melakukannya?”
Tanya Omnya dengan tatapan tajam tak berkedip, lurus menatap pada mata Puniawati. Puniawati membalas dengan menundukkan kepalanya, lalu menggeleng ragu.

“Kamu tahu,” Omnya menjawab sendiri pertanyaannya dengan yakin, lalu beranjak menuju ke kamarnya.
“Bicaralah padanya agar tidak mengganggumu lagi.”

Lalu menghilang dan menutup pintu kamar. Tantenya memandang Puniawati penuh arti. Semua yang duduk di ruang tengah ditelan bisu, bergelut dengan pikirannya masing-masing. Puniawati mencoba mencairkan suasana dengan mengajak seluruh keluarga berkeliling kota. Hatinya tidak tahan melihat wajah-wajah penuh kekawatiran.

Menjelang malam cerita-cerita mengerikan sudah mulai terlupakan. Anak-anaknya juga sudah tenggelam dengan daftar oleh-oleh yang akan diberikan pada temannya masing-masing. Hendra memutuskan untuk pulang keesokan harinya walaupun anak-anaknya keberatan.

~~~~~

Puniawati meletakkan koper terakhir yang selesai dikemasnya di pojok ruangan. Dinyalakannya sebatang sigaret, temannya dalam kesendirian lalu berjalan ke balkon. Duduk terpekur di sudut gelap, bersama kepulan asap yang selalu menemaninya, memandang ke kejauhan malam. Dirangkainya kembali apa saja yang sudah terjadi, disusunnya satu persatu bersama hembusan angin yang ingin bergabung menikmati hitamnya malam.
Puniawati memutuskan untuk tidak tidur malam ini. Dia tidak ingin lagi esok terbangun dengan pakaian sudah tanggal. Ditatapnya pekat malam dengan keyakinan bahwa apa yang dialaminya adalah sebagian dari halaman yang harus dimengerti dan dipelajarinya. Dengan senyum penuh ketenangan didengarkannya hatinya yang masih saja mengalunkan ayat-ayat yang belum seluruhnya dipahaminya.

“Nini Puniawati.”

Tiba-tiba seiring dengan suara berat mendesah matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. Sepasang mata merah menyala dengan wajah beringas tak berbentuk menyeringai ke arahnya. Puntung yang masih panjang di tangannya terjatuh menimpa kakinya dengan bara menyengat. Tetapi Puniawati tidak dapat merasakan panas dari bara yang menempel di kakinya itu. Matanya melalap habis pemandangan di depannya diiringi alunan syahdu memilukan. Jeritannya yang melengking tercekat di tenggorokan tak ada yang mampu mendengarnya. Hanya suara parau yang keluar dari bibirnya, menahan cakaran dan terkaman makhluk di depannya.

Esoknya rumah itu kembali gempar dengan ditemukannya tubuh Puniawati tergeletak di balkon dengan berlumuran darah. Luka menganga terukir di sekujur tubuhnya, dengan terbalut kulit putihnya yang menjadi biru dan memar. Hendra segera melarikan Puniawati ke Rumah Sakit diikuti Om dan Tantenya. Senyumnya yang semakin pucat hanya sedikit terkembang tipis di sudut bibirnya, melihat isterinya akhirnya membuka matanya kembali setelah mendapatkan jahitan sepanjang hari.*****

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google

8 responses to “Misteri Dalam Kegelapan

  1. Ini bukan cerpen, tapi cerita panjang yang bakal melahirkan novel atau roman, mengingat multi konflik. Barong, Rangda, or Leak Bali? Dilematik, terror atau justru tisser, sah saja, bagus dan kuat. Gambaran pencabikan juga boleh lebih detail deskripsinya hingga membangun suasana kian horor. Menuju Pencapaian ketika kita mulai bertanya… tidak memiliki apa-apa, bukan siapa-siapa… apa? Saat kau mulai temukan sumber bayang-bayang kehidupan…hingga kau sadar… bahwa dirimu memiliki ‘saudara kembar’.

    • Tadinya niatnya memang untuk novel Mas, tapi saya pangkas2 dengan harapan bisa menjadi bacaan yang lebih ringan.
      Terima kasih untuk semuanya, salam hormat untuk mas Mur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s