Rasa Tanpa Nama

Ketika awan mengirimkan mendungnya,
aku masih dapat menikmati rintiknya yang belum menetes,
karena tetesannya hanya ada dalam bayanganku,
hingga senja menjemput bayangan mendung masih tenang.

Lalu panas mendera dan hausku tak tertahan,
aku sungguh menanti hujan membasahi keringku,
agar sedikit memuai lelahku karenanya.

Dan aku berlari menanggalkan segala resah,
menyongsong hujan di ujung batas senja,
tak kusangka ternyata badai menyambut di sana,
dan aku terpaku pada derasnya air mengguyur tubuhku,
hingga langkahku limbung tak tahu ke mana hendak berteduh.
~~~~~

“Aku sudah tidak bisa bertahan di sini Ras. Visi dan misi yang sekarang diterapkan sudah jauh menyimpang dari tujuan awal,” gerutu Damar sambil berjalan keluar dari gedung megah itu.
“Ya sudah, jangan dipaksakan.”
“Lalu bagaimana dengan kamu?”
“Namaku sudah kau cantumkan dalam surat pengunduran diri kan?”
“Tapi sekolah ini membutuhkanmu Ras.”
“Tidak ada gunanya juga Mar aku bertahan di sini. Aku tidak bisa mengajar dengan terpaksa.”
“Tapi bagaimana dengan murid-muridmu? Mereka membutuhkanmu.”
“Yang harus memutuskan aku keluar atau tidak adalah kamu, apapun keputusanmu, nanti aku ikuti.”
“Aku tidak tahu harus memutuskan apa.”
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan dulu tentang itu. Kita dipertemukan di sana hanya sebagai perantara saja. Aku merasa ada hal lain yang lebih penting dari sekolah ini.”
“Ya, aku tahu.”
“Kamu pusatkan dulu perhatian pada rencana pernikahanmu itu.”
“Ya.”
“Juga bengkel yang sedang kau rintis.”
“Iya. Makasih ya diingatkan.”
“Dua hal itu yang sekarang lebih penting buatmu, yang lain jangan dipikirkan dulu.”
“Bagaimana kalau kita buka sanggar untuk kita kelola sendiri? Kau bisa membagikan ilmumu di sana. Untuk murid-murid yang masih membutuhkanmu.”
Laras menatap Damar sejenak, lalu mengangguk dan tersenyum senang. Satu langkah menemani orang yang disayanginya telah dilalui. Ditatapnya pintu lain yang sudah terbuka di depan bayangan hitamnya. Dari pintu itu akan keluar langkah tertatih dari sepasang kaki mungil dengan wajah cantik. Di sebelahnya Damar berjalan dengan senyum bahagia, bersama perempuan yang dicintainya. Hatinya membisikkan Irama Merdu, menanti langkah sampai di penghujung pintu.
~~~~~

Laras menegakkan duduknya di belakang punggung Damar. Tangan dan wajahnya dia rasakan semakin dingin dan ngilu, mencengkeram perut dan pinggang Damar. Sampai pada dua belokan belum juga dapat disembunyikannya ketakutannya berada di atas boncengan motor. Lelah seakan tak dapat ditahannya lagi. Namun bayangan gelap mengintai sang kekasih membuatnya tetap bertahan.
“Aku harus kuat. Mohon bantu aku ya Cinta. Berikan aku sedikit lagi kekuatan agar aku masih bisa menemaninya,” bisiknya lembut pada angin malam.
“Kamu takut Ras?” tanya Damar samar sambil tertawa.
“Sedikit.”
“Pembalap masa takut naik motor?”
“Itu kan dulu Mar, masa lalu.”
“Aku kan sudah sering membawamu keliling dengan motor, masa belum hilang juga takutmu?”
“Sekarang sudah lebih baik.”
Laras membuka telepon genggamnya lalu membaca pesan singkat di sana, “Ibu masuk Rumah sakit Laras,” kemudian menyusul pesan berikutnya, “Demo di kantor semakin ramai, kamu segera ke kantor,” dan pesan berikut, “Banyak tamu menunggumu di rumah, segera pulang.”
Semua menuntut perhatian. Sesampai di rumah Damar Laras segera menaiki tangga rumah Damar dengan lesu. Mata dan tubuhnya sudah begitu lelah. Di luar dilihatnya beberapa pasang mata mengawasi dengan ganas. Penuh kebencian mata-mata itu memandang pada rumah Damar, seolah tak rela pemuda itu meniti keberhasilan di lingkungan mereka. Dibiarkannya hatinya mengalunkan Irama Cinta. Memohon kekuatan untuk rumah yang telah rapuh itu. Duduk bersila di pojok ruangan, Laras mengerahkan seluruh sisa tenaganya, memohon kehadiran Kekasih Hati, menitipkan jejak dirinya untuk rumah yang mulai redup itu.
Dialunkannya doa tiada henti untuk memintakan kekuatan bagi Damar. Kemudian dibersihkannya ruangan itu dengan tergesa. Damar berdiri di pintu menatap Laras penuh tanda tanya. Di tangannya dua cangkir kopi mengepulkan asapnya membuat Laras segera menyudahi pekerjaannnya.
“Kamu ngapain Ras?”
“Aku bebenah sedikit, besok aku lanjutin, sekalian bebenah bengkel.”
Mereka menikmati kopi pahit dini hari, memenuhi asbak dengan puntung yang kembali berserak. Laras meninggalkan rumah itu dengan lelah semakin menghunjam, namun senyum masih dijaganya agar tak lenyap dari bibirnya. Dilihatnya lebam di dadanya sedikit memudar, meringankan nyeri yang selalu menyerang. Hatinya merebak hangat, tersenyum bahagia bersama doa tiada henti.
~~~~~

Laras membawa tumpukan tugas dan pekerjaannya ke warung sederhana di sudut jalan. Dari sana dia akan dapat menyelesaikan pekerjaannya sambil mengawasi Damar dengan tenang. Pemilik warung yang sekaligus Gurunya dalam beberapa pekerjaan itu tersenyum cemas menyaksikan Laras yang semakin hari semakin pucat dan kering.
“Istirahatlah dulu Laras, kesehatanmu semakin memprihatinkan. Pekerjaan itu bisa dilanjutkan besok kan?”
“Tidak bisa Guru, besok pagi laporan ini sudah harus ditanda tangani.”
“Mau sampai kapan kamu seperti ini? Bergelut dengan pekerjaan tiada henti, melupakan kesehatan.”
Laras mencoba mencegah pembicaraan berlanjut dengan diam dan menyibukkan diri pada pekerjaannya. Ditahannya nyeri di dadanya agar sang Guru tidak melanjutkan kalimatnya. Namun sia-sia.
“Energimu terkuras habis belakangan ini Laras, apa kamu tak pernah menyadari itu?”
“Sudahlah Guru.”
“Sudah bagaimana? Tugasmu masih panjang Ras.”
“Pernikahannya semakin dekat Guru, dan aku tak akan membiarkan apapun dan siapa pun mengganggunya.”
“Dengan mengorbankan dirimu?”
“Apa bedanya? Ini juga kan yang akan dilakukan Sukma dan Atma padaku? Aku akan terus di sini, agar Atma dan Sukma tidak mengganggu Damar.”
“Mereka hanya ingin mendapatkan haknya Laras. Mereka ingin bersatu dalam cinta.”
“Sukma dan Atma hanya masa lalu Guru. Aku juga masa lalu buat Damar. Damar berhak mendapatkan kebahagiaannya. Aku tak akan membiarkan mereka merusak kebahagiaan Damar.”
“Kamu terjebak dalam cinta anakku.”
“Dan aku akan memperbaikinya, dengan ijinNya.”
Lelaki tua itu menarik nafas berat, menatap muridnya dengan gelisah. Diambilnya sebatang kretek dan menyalakannya perlahan, mencoba mengikuti arah pandangan Laras. Di seberang jalan Damar sibuk dengan bengkelnya. Terlihat letih, namun masih ada semangat terpancar dari senyumnya. Laras menatapnya diam-diam, tak ingin mengganggu. Matanya awas pada sekeliling bengkel, pada mata menyeringai kejam.
“Dia lelaki yang tegar Laras,” desah lelaki tua itu perlahan.
“Dan lihatlah Guru, dia berjuang sendiri. Aku akan menemaninya walau dari jauh, karena bengkel itu adalah masa depannya.”
“Dia memiliki banyak teman yang mencintainya, sebanyak yang juga membencinya.”
“Dan ingin menghancurkannya.”
Laras mematikan sigaretnya dengan tangan bergetar. Matanya tak mau lepas dari bengkjel di sudut jalan. Diselesaikannya pekerjaannya dengan keletihan hampir tak tertahan. Kemudian mengemas barang-barangnya saat gelap mulai datang. Diputuskannya untuk beristirahat sejenak dan segera pamit meninggalkan warung itu.
Pada persimpangan jalan, Damar berdiri dan menghampiri Laras. Gadis itu ingin menghindar namun tak kuasa. Kembali hatinya berbunga mendapati senyum Damar dari kejauhan. Walau tak ingin menikmatinya senyum itu segera melenyapkan letihnya.
“Aku tahu kamu tadi ada di sana, tapi maaf aku tak menyapamu. Aku baik-baik saja, jangan kawatir,” sambut Damar pelan.
Laras tak menjawab, menatap diam-diam Damar berdiri tegap di depannya. Sesaat bimbang menerpa, tak tahu apa yang harus diucapkannya selain senyum yang sudah terlanjur terkembang. Ada rasa malu, keberadaannya di warung sudut jalan diketahui lelaki itu. Juga rasa kawatir, keberadaannya akan mengganggu ketenangannya.
Setelah beberapa saat diputuskannya untuk memberikan penjelasan, “Aku sudah katakan cinta ini untuk kebahagiaanmu dan aku di sana agar kau tahu aku selalu ada jika kau butuhkan. Tapi jika itu mengganggumu, aku tak akan di sana lagi.”
Sedetik kemudian Laras menggigil mendapati hatinya bertanya, “Apa Damar mengerti maksudnya? Atau kalimat ini akan membuatnya marah?”
Namun kata sudah terucap dan Laras tak dapat menariknya lagi. Jemarinya bergetar menanti luapan yang bahkan sudah dirasakannya pedih dan tajamnya. Ditatapnya Damar dengan senyum lembut, berharap dapat memberikan ketenangan pada hati galau di balik ketegarannya. Namun senyum itu segera lenyap dari bibir pucatnya saat mendengar apa yang dikatakan Damar.
“Terserah apa katamu Ras, sekarang kamu malah mengganggu dengan ucapanmu itu. Sudah habis hormatku padamu!”
Laras terpaku menatap wajah Damar yang dingin. Bibirnya tercekat, hampir tak ada satu kata pun yang dapat dikeluarkannya dari sana. Sebelum lelaki itu beranjak meninggalkannya, dicobanya untuk menjelaskan apa maksudnya. Namun tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya yang semakin pucat. Ketakutannya melihat kemarahan di wajah Damar membuat tubuhnya menggigil dan beku.
“Terima kasih, maafkan aku,” ucapnya pelan.
“Sama-sama,” jawab Damar semakin dingin.
Sedingin hati Laras yang kemudian berlalu dari sana. Tubuhnya menggigil bersama airmata deras mengalir membasahi wajahnya. Kepalanya berputar menahan sakit yang mendadak menyerang. Dibiarkannya langkah limbungnya terus menapak. Ditatapnya sekali lagi punggung Damar semakin menjauh. Ingin dikejarnya untuk memperbaiki kalimatnya namun ketakutan telah menguasainya.
“Bukan kehormatan darimu yang kuinginkan Damar. Aku juga tak ingin apapun yang lain,” jeritnya dalam hati sambil menguatkan langkah hatinya untuk tetap tenang, “Aku hanya ingin kau mengerti aku menyayangimu dan ingin berbuat sesuatu untuk bahagia dan tenangmu. Maafkan jika ini salah,” bisiknya sambil meneruskan langkahnya.
Malam menyaksikan ratapnya dalam balutan hitam. Tak ada yang dapat menjelaskan padanya bagaimana harus memperbaiki kerusakan itu. Semua berbaur menjadi satu dalam pandangannya yang semakin kabur.
“Inikah hukuman buatku karena mencintainya Tuhan? Aku lelah mengejarnya tapi aku melihat sepasang mata mengintai untuk melukainya,” bisiknya lagi sambil berlari menembus malam.
Matanya menatap malam ingin berhenti, namun jalanan yang harus dilaluinya terlihat masih panjang. Kuolema Tekee Taiteilijan-Nightwish mengalun sayup-sayup dari rumah kecil di ujung jalan, menemaninya merangkai kata yang tepat untuk memperbaiki kerusakan yang tak sengaja telah dibuatnya. Bertahun-tahun pencarian dan penantian melelahkan dia lalui, dan kini telah dirusaknya ketika sampai di penghujung.
Dari kejauhan dilihatnya bayangan hitam mengikuti langkah Damar. Ingin dia berlari memberitahukannya namun tubuhnya telah terjerembab jatuh ke jalanan. Dicengkeramnya sebuah dahan yang menjulur ke jalan. Langkahnya terhenti. Darah segar mengalir dari bibirnya yang pucat. Dirabanya tas hitamnya mencari apapun yang dapat digunakannya untuk membersihkan kemeja hitamnya. Sedikit disibaknya ujung kemeja dengan ragu, namun harapannya tinggal harapan. Dadanya semakin nyeri. Biru lebam di sana kembali membiru. Dan menghitam.
“Penyakit apa ini Ya Kekasih? Sakit sekali, aku hampir tak tahan.”
“Kamu kenapa Laras? Sini, rebahlah di dadaku sejenak, aku akan memelukmu. Setelah itu aku antar kamu pulang.”
Seorang lelaki tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Lelaki yang sama, yang selalu datang di saat Laras terkulai lemah, mengulurkan tangannya dengan berjuta senyum hangat.
“Tidak apa-apa Guruh, hanya kelelahan.”
“Ayo sini, aku papah pulang.”
Laras menatap tubuh Damar yang telah lenyap ditelan malam. Tangannya hendak meraih uluran tangan Guruh yang masih berdiri di depannya sekedar untuk penopang tubuhnya agar dapat berdiri, namun kembali tubuhnya yang telah membeku terjerembab. Guruh dibantu beberapa pejalan kaki yang masih terjaga mengangkat tubuhnya dan merebahkannya di pembaringan sebuah rumah kecil di sudut jalan. Laras kembali tercenung ketika dini hari masih membangunkannya untuk kembali menatap wajah dengan senyum hangat itu.
Guruh tersenyum, masih duduk di tepi pembaringan menjaga Laras sepanjang sisa malam. Diraihnya untaian kalimat indah pada secarik kertas yang diulurkan Guruh padanya. Dibacanya berulang untuk meyakinkan dirinya bahwa dia ada di dalam untaian kalimat indah dan menyejukkan itu. Berharap masih ada yang benar-benar menginginkan dirinya.
“Indah sekali tulisan ini. Apa ini untukku?” gumam Laras sambil menahan nyeri di dadanya.
“Hanya untukmu.”
“Makasih ya Guruh, kamu baik sekali.”
“Sekarang istirahatlah.”
“Aku masih ingin membacanya, sampai aku dapat meyakinkan diriku.”
“Meyakinkan apa?”
“Bahwa aku ada di dalam sini.”
“Hanya kamu.”
Laras menatap Guruh tak berkedip. Sepanjang jalan yang dilaluinya tak pernah dirangkainya sedikit pun keinginan untuk bersandar. Dan kini lelah benar-benar telah menguasai dirinya. Ingin sejenak bersandar meletakkan lelahnya di dada bidang di hadapannya.*****

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google
———————————————————————————————————
“Di ujung perjalanan ini, ketika lelahku hampir sampai pada batasnya, kau datang tawarkan senyum hangat. Akan bahagiakah hatimu jika benar aku berjalan bersamamu? Dan apakah benar hal itu yang kini kau inginkan?”

15 responses to “Rasa Tanpa Nama

  1. Belum satu pun tulisan Kit Rose yang tidak meninggalkan jejak untuk pembacanya.
    Meskipun ada sedikit dialog yang agak dipaksakan, mungkin karena ingin pembacanya mengerti suasana hati penulisnya saat menulis cerpen ini, selebihnya LUAR BIASA.

  2. Iya Mas, badai dan petir mengagetkan, jadi ga konsen, tapi inilah hasil belajar, semoga bisa menulis lebih baik.

    Komen yang LUAR BIASA, makasih Mas. Semoga ini hari yang indah.

  3. hmmm .. cinta laras begitu dalam, dan cinta damar lain lagi, dia tidak lagi mau laras menderita karena cintanya. laras mempunyai rasa mencintai dan damar mempunyai rasa dicintai. damar ingin dicintai dengan indah tanpa rasa sakit, dengan itu damar juga menatap hidup tanpa tindihan hati. gitu kali ya mbak? bikinin sekuel buat damar dong .. keren!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s