Cintaku Membiru

“CINTA itu tak akan pernah mengenalmu sampai kapan pun, jika kau tak pernah memperjuangkannya Ningsih. Dia berkembang lebih cepat dari hembusan nafas, dan pergi tiba-tiba tanpa bertanya dulu padamu apakah kau mengijinkannya pergi atau tidak. Kalau kau ijinkan dia pergi, maka dia tak akan meninggalkan bekas, tapi jika kau masih mencarinya, dia akan meninggalkan noda hitam yang kelak akan membuatmu terlelap dalam pencarian.”
Itulah kalimat yang pernah diucapkan Ristiandi pada pertemuan mereka yang terakhir. Dan sampai sekarang dibawa Ningsih dalam hatinya. Duduk menekuni kepulan asap putih bercampur lebur dengan secangkir kopi, hatinya masih membisikkan rindu dan cinta yang tak mungkin diraihnya.
“Dulu aku pernah mempertanyakan kalimatmu itu Andi, benarkah demikian?” gumamnya sambil menatap angin.
“Tapi sekarang aku menikmati apa yang pernah kau sampaikan itu,” meneguk kopi sekaligus aromanya.
“Walau dalam kegetiran, karena tak bisa berjuang untuk cintaku,” memeluk bayangan.
“Karena aku mencintaimu,” menghisap kreteknya.
“Benarkah kau mencintaiku?”
Tiba-tiba Putra sudah berada di depannya dan berlutut dengan wajah berbinar. Matanya tak lepas dari Ningsih yang pucat pasi bagai bulan merintih. Kesadarannya bagai tombak menancap rindu yang terputus seketika. Ditatapnya suaminya dengan wajah ketakutan.
“Apa?” tanyanya perlahan.
“Tadi kau bilang, kau mencintaiku. Benarkah itu?”
“Oh, ya, benarlah, kan aku istrimu,” semakin pucat.
“Bukan terpaksa dan karena perjodohan kita?”
Ningsih menggeleng penuh penyesalan, dan Putra tersenyum penuh haru menggenggam erat jemari Ningsih yang semakin menggigil menahan beribu rasa.
“Tidak usah takut sayang, aku senang kau akhirnya bisa mencintaiku apa adanya. Aku janji tak akan berbuat kasar lagi padamu.”
“Janji?”
“Sumpah. Aku menyesal. Maafkan segala kesalahanku selama ini.”
Telepon genggam Putra berbunyi, menyingkirlah lelaki itu dari dekat istrinya untuk berbicara dengan mesra di telepon. Ningsih hanya memandangnya. Kosong.
Dan perempuan itu sudah dapat menduga, seperti yang sudah-sudah. Suaminya akan menemui mantan kekasihnya. Seperti yang pasti akan dilakukannya jika suatu saat Ristiandi kembali menghubunginya. Lingkaran cinta yang menyimpan kemelut dan bara, menenggelamkan begitu saja sepi dan rindu membara.
“Maafkan aku sayang, aku harus pergi.” Putra.
“Kemana?”
“Apa aku harus menjelaskan setiap yang kulakukan?”
“Hari Minggu seharusnya hari kita berdua.”
“Aku menyesal sekali.”
“Belum sedetik kamu bilang mau berubah.”
“Sekali lagi aku menyesal.”
“Nggak Isya dulu?”
“Nantilah menyusul.”
Putra berlalu tanpa menunggu jawaban dari istrinya yang menatap punggungnya dengan beku. Dan tak peduli. Dikepulkannya asap cinta meliuk dan menari di depan matanya ingin memanggil kembali bayangan hampir memudar. Bayangan wajah cinta yang tak pernah diperjuangkannya.
“Nikmati saja penyesalan sebagai hiasan basimu Putra, dan aku akan terus di sini bercinta dengan bayangan malamku.”
Ningsih tersenyum menatap penjaga malam yang semakin mendekat dalam pekatnya malam. Dihirupnya lembut hembusan angin yang menghantar biru dan indahnya rindu. Tak dipedulikannya sepi merayap di sekitarnya. Dicarinya lagi bayangan Ristiandi dalam genggaman hatinya. Dihirupnya kopi yang terasa pedih mengalir di lehernya, namun tetap ingin dinikmatinya, sambil menanti malam berlalu.
~~~~~

“Hasrat kan terpendar hangat dalam gelora dan menjauh bersama peluh tanpa putus. Nikmatilah peluh cintamu yang terukir tanpa batas.”
“Kau pun pernah mengatakan demikian Andi, dan waktu itu aku hanya bisa bertanya, bisakah? Karena aku tak memilikinya. Tak ada setetes peluh pun terukir dalam hasratku. Karena aku mencintaimu.”
Ningsih kembali bergumam dalam rebahnya menikmati dengkuran suaminya mengalun memenuhi ruangan hati yang terus terjaga. Diambilnya air dan dibasuhnya seluruh bagian tubuhnya yang sering menggiringnya pada jalan nista dan kelam. Duduk bersila di atas permadani kecil, halus dan menenangkan. Terpekur mengalunkan irama syahdu memohon ampunan dan permakluman untuk sang penjaga malam.
“Terlalu banyak permakluman yang kuminta dariMu ya Kekasih. Cinta telah Kau limpahkan pada lahan keringku. Malam ini aku memohon pula ampunanMu untuk penjaga malamku, kumohon biarkan dia hadir dalam hari dan gelapku agar cintaku membiru.”
Ningsih terus terpekur di atas permadani kecilnya, sahabat setianya dalam mengarungi pencarian dan penantian. Sampai hari menawarkan sinarnya dan ayam tetangga meneriakkan sapanya, Ningsih terbangun mendapati dirinya tertidur di atas permadani kecilnya. Dan keributan di luar kamar menyita kantuknya untuk segera melipat sajadahnya dan berlari keluar.
“Ada apa ini?” tanyanya pada dua manusia di sana.
“Tuh, anakmu nggak bisa dikasih tahu.”
“Kenapa dengannya?” Ningsih menghampiri anaknya yang meringkuk ketakutan di pojok ruangan.
“Tanya saja sama dia.”
“Aku tanya padamu Mas, kenapa?”
Ningsih tak dapat menahan diri melihat wajah putranya begitu pucat dan ketakutan di pojok. Suaranya meninggi tak terkontrol, matanya memerah hendak berair. Hatinya yang pedih semakin meradang menyaksikan untuk kesekian kalinya suaminya bersikap kasar pada putra mereka.
“Aku sudah bilang berkali-kali, kalau Papa sedang baca koran, jangan diganggu! Tapi masih bandel saja.”
“Ya Tuhan Mas, nyebut! Ini anakmu.”
“Shafa kenapa mengganggu Papa lagi?”
“Shafa kepingin peluk Papa,” jawab bocah itu dengan ketakutan.
Ningsih mengusap perlahan pipi anaknya yang memerah dan terukir jemari Putra. Sudut bibirnya memar dan keluar tetesan merah.
“Ya Allah, buatlah agar tak ada sedikit pun rasa sakit yang membekas baik di hati maupun di tubuh putraku ini. Ampunilah suamiku yang sedang lupa dan sesak hatinya. Berilah aku kalimat yang merdu agar pagi ini menjadi cerah dan indah,” desahnya dalam kesegaran hati.
“Mas, Shafa cuma kepingin dipeluk, mungkin caranya yang salah.”
Menatap tajam suaminya dengan memohon sang Kekasih mengirimkan kelembutan pada hati yang semakin mengeras itu. Mata Ristiandi yang menyala perlahan melembut dan menatap putranya dengan rasa sesal yang masih ditutupi. Ningsih menatap putranya lembut.
“Shafa minta maaf ya sama Papa.”
Si kecil dengan tubuh gemetar menghampiri sang Ayah. Putra langsung memeluknya dengan lembut. Ningsih tersenyum penuh kehangatan pada kedua orang yang sedang berpelukan itu, dan segera menyeburkan diri dalam kesibukan pagi. Ditariknya nafas dalam-dalam, membuang lelah hati.
“Apa kabar wahai penjaga malamku, pagi ini akan kuselesaikan hari dengan gembira dan cinta yang semakin biru, tapi kutunggu dirimu dalam perbatasan malam kelamku, agar juga dapat membuatnya membiru,” desisnya dalam hati, tak ingin terpukau pada kesibukan suaminya memperindah penampilan, entah untuk siapa lagi.
Tanpa banyak bicara dimasukkannya kembali baju dan perlengkapan yang sudah disiapkannya tergeletak lesu di atas meja kecil.
“Tumben kamu menyukai warna terang Mas?” tanyanya sambil menyaksikan Putra bersolek di depan cermin.
Tak akan dikunyahnya pedas tatapan suaminya begitu saja. Senyumnya masih dan akan terus mengembang.
“Ganti suasana,” jawab Putra singkat dan berlalu memasuki mobilnya tanpa menyentuh sajian pagi yang telah tersedia di meja makan beku.
~~~~~

“Marah akan menelanmu seketika dalam rongga bisu penuh kelu, kecewa dan duka, akankah kunikmati dalam setiap desahan kata dan gerakku? Lalu pada siapa ku harus marah?”
Ningsih menyerap gelap malam di teras rumahnya, sendiri sambil berdesah pada gelap, berharap angin mengirimnya untuk penjaga malamnya.
“Dan kini aku hampir marah karena kau tak pernah datang menemani secangkir kopiku di teras ini, wahai penjaga malamku. Telah kuputuskan untuk tidak marah dan menerima semua dengan apa adanya. Tapi bisakah kau hilangkan marahku ini dan menemaniku di sini? Aku ingin memelukmu tidak hanya di dalam mimpi,” desahnya hampir putus asa.
Kemudian dilihatnya mobil suaminya berhenti di depan rumah. Segera dibukanya pintu gerbang sebelum Putra membunyikan suara tajam dan melengking dari mobilnya.
“Belum tidur sayang?” Putra membuat dirinya seramah mungkin.
“Apa kau pernah benar-benar peduli kapan aku tidur? Padahal kau tak tahu bahkan aku tak pernah sekejap pun menikmati tidur bersamamu.” jawabnya dalam hati sambil menggeleng diiringi senyum.
“Haduh, capek banget,” Putra merebahkan dirinya di kursi goyang.
“Kenapa dalam keluhmu itu tak kau sertakan ucapan syukur padahal di luar sana berderet antrian manusia ingin merasakan lelah dan nikmatnya bekerja dalam wadah yang pasti?” tanya Ningsih dalam hati.
Diletakkannya secangkir kopi panas di meja dengan mulut terkunci rapat. Diliriknya telepon genggam yang segera dimatikan dan masuk ke dalam tas kerja Putra.
“Aku bahkan tak akan marah jika kau memberitahuku nama-nama siapa dan pesan-pesan apa yang tersimpan di sana. Karena aku telah membirukan cintaku bersama penjaga malamku,” desisnya dalam hati.
Lalu malam itu mereka lalui bersama kesunyian dan kebisuan yang membosankan. Ningsih mencoba bertanya banyak hal dan memutuskan untuk kembali diam karena Putra menjawabnya hanya sepotong-sepotong saja. Seolah tak ada perlu dibagikan pada isterinya.
“Aku tidur dulu ya,” berdiri.
Ningsih mengangguk sambil tersenyum manis pada suaminya.
“Kamu nggak tidur?”
Ningsih menggeleng masih dengan tersenyum manis. Tapi hatinya bercerita perlahan penuh gairah.
“Aku menunggu penjaga malamku,” bisiknya dalam hati.
~~~~~

“Penjaga malamku pernah mengatakan. Benci kan membius hati dan sesal saat keputus asaan mengintip bersihnya cinta, bolehkah aku membenci suamiku?” tanya Ningsih pada kegelapan malam.
Senyumnya mengembang menghibur dirinya bahwa kelak senyum itu akan abadi.
“Aku tak ingat lagi kapan terakhir kali aku membenci suamiku. Dan aku juga tidak tahu lagi apakah aku masih bisa membencinya karena aku pun tak pernah merasakan cintanya. Perlukah aku membencinya wahai malam?”
Lalu dikumpulkannya nota-nota berserakan di meja kerja suaminya dan memisahkannya dengan foto wanita-wanita cantik dengan berbagai macam gaya dan warna. Dipandangnya dirinya di cermin dan mendesah perlahan. “Wahai cermin, tolong sampaikan pada suamiku bahwa aku tak pernah menginginkan mahligai ini, lalu mengapa dia memenjarakan dan menyiksa diriku di sangkar emas ini? Aku tak dapat menikmati keindahan bahkan nikmatnya.”
“Permisi Bu,” sapa Surti pembantunya di pintu, “Ada telepon untuk Ibu.”
“Dari mana?”
“Pak Andi katanya.”
Ningsih pun melesat ke ruang tengah menyambar gagang telepon tanpa mempedulikan tatapan kebingungan pembantunya. Berbicara dengan riang gembira lalu meletakkan gagang telepon dengan senyum bagai remaja sedang jatuh cinta.
“Surti, tolong malam ini kamu tidur sama dik Shafa karena Ibu mau keluar sebentar.”
“Malam-malam begini Bu?”
“Hanya sebentar. Penting.”
~~~~~

“Sekarang aku ingin dengar saranmu, bagaimana caranya agar dia tahu kalau aku mencintainya.” tanya Ristiandi sambil menatap lekat Ningsih, menunggu jawaban.
Senyuman masih mengembang di bibir Ningsih diiringi desiran halus dalam hatinya. Menatap wajah yang dirindukan di depannya, sekaligus mendengar kata cintanya untuk perempuan lain.
“Aku sudah pernah kehilangan dirimu, sekarang aku tak ingin lagi kehilangan untuk kedua kalinya.”    Ristiandi berkata perlahan tapi bagai ledakan meriam menghunjam dada Ningsih.
Seandainya waktu dapat diputar kembali ke masa lalu, ingin perempuan itu memutarnya kembali, agar dapat memperjuangkan cintanya.
“Tahukah kamu, aku menginginkan dirimu Andi? Sampai sekarang,” jawab Ningsih dalam hati.
“Kejarlah cintamu agar tak hilang lagi,” suara Ningsih mengalun merdu semerdu irama cinta dalam hatinya.
“Tak apa aku menikmati cinta ini sendiri selama aku masih bisa menatap matamu,” lanjutnya dalam hati.
Lalu digenggamnya tangan lelaki itu penuh kehangatan tersembunyi, sambil berkata perlahan, “Kau tak akan pernah berkenalan dan berbincang dengan akrab dengan cinta jika kau tak pernah memperjuangkannya Andi. Aku selalu ada untuk mendukungmu. Kapan pun kamu memerlukanku.”
“Makasih ya sayang, sampaikan salamku pada mimpimu malam ini. Minggu depan kita bertemu lagi.”
Mereka saling melambaikan tangan untuk mengakhiri malam itu. Ningsih mengarungi jalanan kelam sambil mempertahankan senyumnya agar selalu mengembang.
“Jangan bersedih wahai hatiku. Karena sedih akan memangsa hatimu saat dia terkatup dalam resah dan pilu,” desahnya di antara air yang mengalir deras dari mata sayunya. “Aku tak akan membiarkan ini terjadi. Akan kujadikan kau sebagai penjaga malamku sampai aku menemukan dirimu kembali. Sampai aku mendengar kita berdua mengatakan cinta ini tak hitam lagi. Sampai aku juga menemukan mimpiku tak sendiri lagi. Berjuanglah untuk cintamu penjaga malamku, aku akan mengirimmu sejuta cinta biruku. Dan mimpiku.”*****

Aku tak dapat memperjuangkan cintaku dari birunya hati penuh rindu ini,
aku tak kuasa membuatnya bersemi dalam hati yang kering ini
aku tak kuasa membuatnya terkembang dalam kata ketika menatap matamu, aku juga tak kuasa membuatnya terpancar menerangi jiwaku yang hampa.

Jangan kau tanya mengapa,
sebab aku ingin memiliki perasaan yang indah,
tetapi jika kutemukan hati yang bersih di dalam cinta ini,
itulah anugrah yang lebih besar untukku, yang sangat kurindukan.

Lalu mengapa kau tak mencintaiku ketika kupandang matamu dengan birunya cintaku?
Dan aku akan membirukan cinta ini dalam setiap tapak mimpiku.
Agar kau tak pernah melupakan untuk datang dan menyapaku.

by. Kit Rose
(ditemani Don Omar Feat. dlm “Bandaleros”)

Ilustrasi Image Google

6 responses to “Cintaku Membiru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s