Aku Bukan Lembayung

BULAN menghisap rokoknya dengan kuat, sekuat jemarinya yang halus, meremas ponsel dalam genggamannya. Menghembuskan asapnya dengan sekali hentakan, seolah ingin meyakinkan diri bahwa dadanya benar-benar telah longgar. Ditekannya topi yang dikenakannya agar lebih menutupi wajahnya yang sedang menahan tangis dan marah.
Matanya sedetikpun tak mau lepas dari suaminya yang sedang bernyanyi dengan ceria di salah satu ruangan karaoke dengan ditemani seorang gadis. Sesekali gadis itu bergayut manja di lengan suaminya lalu mereka tertawa gembira. Bulan menatap lekat dalam kepedihan pemandangan di depannya.
Pikirannya sibuk menimbang-nimbang tindakan mana yang paling bijaksana. Apakah dia harus diam saja menyaksikan tingkah suaminya, menemuinya dan melabrak gadis yang bersama suaminya itu, atau memaki-maki suaminya dan mengajaknya pulang? Lama menimbang, akhirnya Bulan membayar minumannya lalu berjalan keluar ruangan. Dilemparnya puntung rokok ke tong sampah dengan kesal dan menyeberangi jalan raya yang mulai akrab dengan sepi.
Ditekannya nomor ponsel suaminya dengan tangan gemetar, menunggu jawaban sambil matanya terus mengawasi ke seberang jalan. Hatinya ingin tidak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya, namun rumah tangga yang sudah terlanjur dikukuhkan membuatnya merasa bertanggung jawab untuk berusaha mempertahankannya.
“Hallo.”
Fajar mengangkat telepon genggamnya setelah sampai di luar ruangan. Tangannya memberi isyarat pada gadis yang tadi menemaninya untuk tetap menunggunya di dalam ruangan, lalu berjalan menuju pintu keluar gedung karaoke itu.
Bulan mendengarkan telepon genggamnya sambil mengawasi suaminya dari seberang jalan. Mobilnya masih terparkir di halaman gedung karaoke, tak jauh dari mobil suaminya diparkir.
“Ya Lan, ada apa?” lanjut Fajar santai.
“Mas Fajar di mana? Kok belum pulang?” menahan tangis.
“Masih rapat, kenapa?” merasa terganggu.
“Rapat? Ini hampir subuh lho Mas.”
“Iya ini masih rapat. Belum selesai. Sudah dulu ya?”
“Rapat di mana sih? Kok kedengeran mobil lewat seperti di pinggir jalan gitu?” hampir tak dapat menahan diri.
Kali ini Fajar menjawab dengan gugup, “Ehm, di rumah Pak Baktiar. Aku tadi keluar rumah dulu, habis nggak enak menerima telepon di tengah rapat yang sedang serius.”
Mata Fajar jelalatan mencari ke kanan dan ke kiri, bergaya seperti seorang pencuri sedang waspada.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Cepat pulang ya Mas.”
Gigi Bulan gemeletuk dingin dan ngilu menahan amarah dan kesedihan. Perjuangannya mempertahankan agar suaranya tetap terdengar lembut membuat badannya menggigil dan tangannya sedingin es.
Ditunggunya agak lama sampai suaminya memasuki gedung. Bulan menyebrangi jalan dan memasuki gedung. Tak lama kemudian keluar, berjalan menuju ke dalam mobilnya. Dibacanya sekali lagi kertas yang diberikan pelayan saat dia menanyakan siapa gadis yang menemani suaminya.
Lembayung. Hanya satu nama saja informasi yang dia dapatkan. Tapi Bulan merasa itu sudah lebih dari cukup. Dibawanya mobilnya menyatu dengan kesunyian malam. Menyelami hatinya apakah masih perlu dirinya memperjuangkan kehidupan rumah tangganya.
~~~~~

Matahari masih enggan menampakkan dirinya. Bulan tergeletak di sofa panjang, empuk dan harum di sudut ruang tengah rumahnya. Puntung rokok berserakan di meja, berebut tempat dengan botol-botol kosong Chivas Regal Gold Signature dan Blue Flagon import. Beberapa kaleng kecil soft drink ikut bertengger di sana. Bulan tak peduli lagi. Hanya itu cara yang dia tahu untuk membuang kesakitannya.
Dua hari suaminya tidak pulang, dan selama dua hari pula Bulan menetap di pojok ruangan itu, menanti kabar ke mana gerangan sang suami yang tak kunjung pulang. Pembantunya Surti, tak berani lagi menawarkan makanan atau minuman atau apapun setelah yang terakhir tawarannya mendapat hadiah hardikan keras dari Bulan.
“Nyonya kok jadi galak gitu ya?” tanyanya pada pak Sur, tukang kebun yang sedang menyirami mawar kesukaan majikannya.
“Elu juga sih.”
“Kenapa?”
“Udah tahu Bos kagak pulang dua hari. Harusnya lu ngarti gimana perasaan majikan kita itu.”
“Emangnya kemana sih Tuan kita dua hari ndak pulang?”
“Lhah, mana gue tahu,” jawab pak Sur sambil membenahi selang-selang airnya lalu berjalan memasuki pintu samping rumah.
Surti mengikuti di belakangnya menyimpan gosip dan pertanyaan-pertanyaan yang ingin disampaikan. Pak Sur mengetahui hal itu dan berusaha menghindar dengan kesibukannya yang lain.
Setengah sadar Bulan terbangun mendengar suara klakson mobil suaminya. Sedikit terbuka matanya melihat jam dinding. Jam enam pagi. Suaminya baru pulang setelah dua hari seolah lenyap ditelan bumi, tanpa kabar dan berita.
Terhuyung-huyung Bulan menyeret kakinya ke kamar dan melemparkan tubuhnya yang masih terasa berat di tempat tidur. Tak lama kemudian suaminya masuk, mengganti baju dan langsung merebahkan dirinya di samping Bulan. Tak ada pernyataan atau pertanyaan, tak ada juga penjelasan dan permintaan maaf. Seolah segalanya sewajar kenyataan yang sebenarnya terjadi. Panas dan kebisuan bertandang ke dalam kamar itu menjadi saksi kepedihan.
~~~~~

Sudah dua jam Bulan membersihkan dirinya di kamar mandi. Berulang kali tubuhnya yang putih disabun dan digosoknya seolah kotoran terlampau banyak menempel di sana. Shower yang terus menyala membuat tubuhnya menggigil. Tapi Bulan tak hendak mematikannya, menikmati getaran sakit dan marah, berusaha menyatukannya dengan beningnya sang tirta.
“Dia hanya tahu aku sudah menjalankan tugasku dengan baik, dia hanya tahu aku selalu dapat memuaskannya di tempat tidur. Dia tak pernah bertanya apakah aku bahagia, tak pernah bertanya apakah aku suka dengan caranya memperlakukanku, tak pernah menjelaskan apa yang dilakukannya di luar sana. Aku benci dia,” rutuk Bulan sambil terus menggosok tubuhnya.
“Nyah, ada tamu,” suara Surti di balik pintu.
“Siapa?”
“Bu Ade Nyah.”
“Suruh tunggu sebentar,” jawab Bulan sewajar mungkin agar isak dan suara pedihnya tak dikenali sang pembantu.
Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk hitam sambil menjerit di kedalaman hati, “Apakah sama rasanya saat kau memeluk perempuan itu? Atau lebih nikmat? Aku benci membayangkan kau meraba tubuhnya, aku benci!”
~~~~~

Bulan melangkah keluar dari kamarnya. Pakaian dan dandanan sederhana tapi anggun dan rapi membuat tamunya tak ingin melepaskan pandangan mata darinya. Sorot kagum berbaur cemburu jelas tercipta dari pandangan itu.
“Siang Jeng Bulan, maaf mengganggu,” sapa tamunya.
“Siang juga Bu Ade. Tidak mengganggu kok, santai saja.”
“Wah wah, yang habis sunah Rasul bangun siang nih,” Bu Ade menggoda untuk mencairkan suasana yang sebenarnya sudah cair oleh senyum indah dan ramah dari Nyonya rumah.
“Ibu bisa saja,” Bulan menjawab malu-malu.
“Sebenarnya saya sudah bangun dari tadi, tapi masker dan luluran cukup menyita waktu, jadi baru selesai mandi.”
“Ini lho Jeng, saya bawa emping manis kesukaan Jeng Bulan, sekalian mau memberi kabar, suami saya sudah sembuh.”
Perempuan itu mengangsurkan bungkusan ke tangan Bulan dengan wajah berseri.
“Harusnya tidak usah bawa-bawa begini Bu, alhamdulillah kalau Pak Ade sudah kembali pulang. Allah sungguh menyayangi keluarga Ibu.”
“Eh,” potong bu Ade, “Jangan ditolak, itu oleh-oleh dari Semarang asli lho, saya sendiri yang memilihnya untuk Jeng Bulan.”
“Oh, Ibu dari Semarang? Dalam rangka apa nih?”
“Nah itu dia, sekarang suami saya sudah benar-benar berubah. Minggu lalu itu dia ada rapat di kantor cabang Semarang, saya diajak.”
“Alhamdulillah, syukurlah. Mudah-mudahan terus rukun ya Bu.”
“Ini semua kan berkat Jeng Bulan, yang sudah membuka mata saya bagaimana seharusnya menjadi istri yang akan selalu disayangi suami.”
“Itu semua berkat Allah Bu, bukan karena saya.”
“Tapi saya menjalankan semua resep dari Jeng Bulan lho, termasuk meminta maaf biarpun dia yang bersalah. Awalnya sulit sekali. Tapi saya terus berjuang seperti nasehat Jeng Bulan. Ternyata resep Jeng Bulan manjur. Akhirnya suami saya jadi malu sendiri dan menyudahi hobinya berpetualang cinta. Terima kasih ya Jeng.”
“Jangan berterima kasih pada saya Bu. Semua itu karena pertolongan Allah, hanya saja melalui saya. Saya yang seharusnya berterima kasih pada Ibu. Karena ikut memikirkan masalah Ibu, saya sendiri juga banyak belajar, saya seperti sedang menasehati diri sendiri. Semua itu dari Allah.”
“Maafkan saya ya, yang sempat menuduh jeng Bulan juga ada main dengan suami saya. Saya malu dan menyesal sekali.”
“Jangan dibahas lagi soal itu Bu. Yang penting kan sekarang Ibu tahu saya tidak seperti itu. Kalau waktu itu saya mencoba banyak bicara dengan suami Ibu, itu karena saya ingin tahu, apa sebenarnya yang diharapkan Pak Ade dari Ibu. Tanpa itu, saya tidak akan dapat membantu mencari solusi.”
Lalu kedua Ibu muda itu saling bercengkerama memahat kembali pertemanan yang sempat ternoda. Bulan menjamu tamunya dengan ramah. Disimpannya dengan rapi dilema yang sedang berkecamuk dalam hatinya. Begitu mudahnya Allah memberikan lisan padanya, hingga dirinya dapat dengan mudah membantu teman-temannya menemukan jalan keluar atas permasalahan mereka.
“Jalan apa yang hendak Kau berikan padaku ya Allah?” bisiknya sambil mengantar tamunya ke depan pintu gerbang.
~~~~~

“Mas, aku mau bicara,” sergah Bulan saat dilihatnya suaminya hendak menyudahi makan malamnya dan bersiap meninggalkan meja makan. Fajar memandang istrinya sebentar lalu kembali duduk.
“Apakah penting?”
“Mungkin buatmu tidak, tapi penting buatku.”
“Ok, silahkan,” Fajar mengambil koran di ujung meja.
“Aku akan bekerja lagi.”
“Oh, begitu? Bagus deh. Kamu sudah mulai bosan di rumah ya?”
“Awal bulan ini aku sudah mulai bekerja.”
“Hm.”
“Semua sudah aku persiapkan, tinggal ijin darimu.”
“Ok, tidak apa-apa, aku mengijinkan. Yang penting kamu menyenangi pekerjaan itu. Jangan melakukannya karena terpaksa.”
“Aku akan bekerja di Karaoke Dua Ribu.”
Lanjut Bulan lalu meletakkan bungkusan plastik di meja makan, berusaha setenang mungkin.
“Dan ini seragam serta atribut yang akan aku kenakan nanti, bagus Nggak?”
Fajar melempar surat kabar yang dibacanya. Matanya nanar menatap istrinya. Bulan tak dapat mengartikan tatapan suaminya, tapi tak bergeming dengan senyum manisnya menantang lembut tatapan mata sang suami.
“Maksud kamu apa sih?” bentak Fajar dengan gusar, “Apa kurang uang yang aku berikan selama ini?”
Fajar meraih gelas air putihnya untuk membasahi lehernya yang tiba-tiba menjadi kering dan tandus.
“Oh, enggak Mas, sama sekali enggak. Uang yang Mas berikan sudah cukup. Lebih dari cukup, banyak sisanya malah,” menyalakan rokok.
“Lalu, maksudmu apa?” semakin garang.
“Aku bosan di rumah, seperti katamu tadi.”
“Kalau cuma untuk mengisi waktu atau mengasah otak, kerjalah di tempat yang benar.”
“Memangnya karaoke tempat nggak benar Mas?” memancing.
“Yang pantas maksudku,” terpancing.
“Emang kerja di tempat karaoke itu nggak pantas?” menuju sasaran.
“Untukmu tempat itu sangat tidak pantas.”
“Alasannya?”
“Disana banyak om-om dan laki-laki iseng. Kamu bisa menjadi korban keisengan mereka. Aku nggak mau itu.”
“Lalu, kalau kamu tahu tempat itu nggak bener, kenapa kamu bisa secara rutin menyambangi tempat itu?” sedih dan kesakitan.
“Maksudmu sebenarnya apa sih?” Fajar mulai geram.
“Nggak usah pura-pura lagi Mas. Sekarang jelaskan padaku, kenapa aku nggak boleh bekerja di sana sementara kamu hobi ke sana? Posisi kita sama kan? Kamu mengencani pegawai perempuan di sana, bahkan sampai sering nggak pulang. Aku juga tidak akan menolak jika ada lelaki yang ingin mengencaniku.”
“Tidak perlu seperti ini Bulan. Jelaskan apa maksudmu!”
“Maksudku, siapa Lembayung? Kalau kamu menyukai dia, aku akan menjadi Lembayung walaupun di tempat lain dan bukan di pangkuanmu” mengepulkan asap rokoknya dengan tenang.
“Sudah lama aku memikirkan hal ini Mas. Mungkin aku sudah tidak dapat membuatmu bahagia lagi, sampai kamu harus mencarinya di luar sana. Untuk itu kita berjalan sendiri saja mencari kebahagiaan. Kalau memang itu yang Mas inginkan.” Bunga mengakhiri kalimatnya sambil beranjak meninggalkan meja makan.
Dibiarkannya suaminya termangu sendiri. Dia sengaja menghindar agar tidak perlu menyaksikan wajah malu suaminya. Agar tidak perlu juga menjelaskan bagaimana saat dia terpaksa harus berperan sebagai detektif untuk suaminya sendiri. Bukan saja dirinya tidak akan sanggup menyaksikan penyesalan yang mungkin akan dilihatnya di wajah suaminya, tetapi dia sendiri tidak yakin bahwa dirinya masih dapat menyimpan amarah dan air matanya.
Fajar merasa kehabisan perbendaharaan kata, saat menatap istrinya berlalu. Lelaki itu sangat mengenal Bulan. Jika dalam pembicaraan istrinya sampai meninggalkan arena diskusi, itu artinya sang istri sudah tidak dapat lagi menahan amarah dan kesedihan.
Sikap ini yang sangat disukai Fajar. Menyerang ke pokok permasalahan tanpa membuat satu sama lain terhina, dan mengalah untuk sementara hingga mereka tak perlu terlibat perdebatan dan pertikaian. Fajar memandang penuh penyesalan punggung istrinya yang bergetar perlahan. Penyesalan itu mengintip dengan lembut ke dalam hatinya.
Dibiarkannya air mata mengalir dari matanya yang garang dan berkuasa selama ini. Diraihnya seragam berwarna merah menyala yang sudah akrab di matanya itu. Tiba-tiba matanya menatap seragam itu dengan penuh kebencian dan penyesalan. Seragam ini hampir membuatnya kehilangan istri yang sangat dicintai sekaligus dikaguminya.
Tiba-tiba matanya melihat secarik kertas terselip dalam lipatan baju seragam di dalam bungkusan. Serta merta dibukanya plastik pembungkus seragam itu, dan diambilnya secarik kertas yang terselip di antaranya.
Maafkan aku Mas, aku melakukan ini karena aku mencintaimu, lebih dari cintaku pada diriku sendiri. Tapi aku bukan Lembayungmu itu, dan tak hendak menjadi dirinya. Kalau kamu lebih memilih dia, berikan seragam ini padanya, dan biarkan aku sendiri untuk sementara waktu, sampai aku dapat menghadapimu lagi dengan tanpa amarah dan kekecewaan. Sampai aku dapat menerima dirimu apa adanya. Sekali lagi maafkan aku, aku tidak tahu lagi sikap yang lebih sopan untuk mengungkap ini semua.
Bulan,
Fajar melemparkan bungkusan seragam itu ke keranjang sampah di pojok ruangan. Air matanya semakin deras mengalir. Penyesalan tak terhingga membuat langkahnya limbung mengejar istrinya. Dan semakin tak kuasa lelaki itu menegakkan kakinya tatkala dilihatnya istrinya sedang bersimpuh diatas sajadah di pojok gelap kamar mereka.*****

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google

8 responses to “Aku Bukan Lembayung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s