“Kidung Cinta Sang Pendusta”

Tap.

Terpotong menjadi tiga,

apa nama yang hendak kau sematkan.

Aku tidak bertanya hanya berkata tubuhku kau pangkas menjadi tiga.

Kau ramu satu halaman tubuh untuk sajian malammu,

kau rendam satu batang lain dalam poci dustamu.

Pendusta bisu tuli sedang menyanyikan kidung cinta.

Merdu. Syahdu. Mengaduk magma dalam perut.

 

Dab.

Kusisakan bongkahan yang kau buang di bawah tudung saji.

Menggeliat mati merayap mengintai langkahmu.

Bulan diam tersenyum padaku.

Kirimkan bidadari kecilnya bisikkan kabar.

Tentang kisah sang pendusta pelantun kidung cinta.

Teruslah bernyanyi sudah kupenggal pusar cinta untukmu.

Merayap perlahan menelusuri nyanyian malam.

Di balik bisu dan luka dukaku.

|- M H -|

 

“Kisah Perempuan Penebang Rindu”

————————– <Novel Puisi Babak kesekian>

 

| Di Tepi Danau |

Bulan : “Kau…?”

(Bulan tak dapat melanjutkan pertanyaannya menghisap kreteknya dalam-dalam)

Gerhana : “Iya Bulan. Kau tahu kan Matahari. Aku hampir saja meraung patah hati saat dia tiba-tiba pergi setelah beberapa bulan melamarku.”

Bulan : “Lalu apa yang terjadi?”

(Tersenyum berjuang mencoba tenang. Dinyalakannya lagi sebatang kretek lain)

Gerhana : “Aku segera menyudahi kesedihanku saat aku mendengarkan Luna merintih sedih di dalam pelukanku.”

Bulan : “Apa yang terjadi dengan Luna?”

Gerhana : “Matahari meninggalkan dia begitu saja setelah menidurinya.”

-CUT-

 

| Di Depan Jendela Kamar | Gelap |

Bulan duduk mengangkat kaki menghadap ke luar jendela. Dagunya tak dapat lagi dia satukan dengan lututnya terhalang perutnya semakin membuncit. Kretek di tangannya menyala menerangi kamar gelap hampir murka.

Ting…!

Bulan : “Ya… Hallo?”

Matahari : “Hei, ada apa ini? Aku tak suka suara dingin itu.”

Bulan : “Ada apa Kak?”

Matahari : “Ada apa?!!! Pertanyaan macam apa itu? Tak pantas kau bicara begitu pada suamimu.”

Bulan : “Kita belum pernah menikah.”

Matahari : “Ah. Sudahlah sayang, aku sangat merindukanmu malam ini, buka pintu ya, sebentar lagi aku sampai rumahmu.”

Klik…!

Bulan melempar ponselnya ke atas pembaringan, berjalan gemetar lalu membuka laci meja kerjanya dengan jemari tak kalah bergetar. Diraihnya benda berkilat yang sudah dia siapkan dengan bekal nyeri di sekujur tubuhnya. Diusapnya perutnya sambil menatap kilat belati di tangannya. Matanya buram terhalang air bening menggenang, menyelami skenario hitam bahwa janin di dalam rahimnya adalah benih seorang pendusta pelantun kidung cinta yang ingin dia sumbat nafasnya.

Matahari,,, akankah nyawamu melayang di tangan Bulan? Gadis mana lagi yang dapat kau terkam saat bilah terhunus siap membungkam… Kidung cinta sang pendusta.

| To be continued |

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s