Suara itu bersahutan memenggal hitamnya malam
Ranting berbisik merdu jemari mimpi membelai lembut
Menyilang kekar di antara belahan
Bukan belahan dada atau paha
Tapi belahan luka.
Luka yang kau sematkan dengan indah merdu dan bersahaja.
|
Katamu pada tiap desah liarmu
Aku jiwamu, aku perempuanmu, aku segalanya bagimu
Aku tiada boleh ingkar dan segera kau bersinggasana di atas kepalaku.
|
Sudah.
Semua sudah sedemikian rapi dan aku hanya bermimpi
Kau berkata pada burung-burung di sekelilingku
Aku adalah belahan jiwamu.
Kepada burung burung pemangsa itu sayang,,,
bukan hanya kepada kebodohanku.
Yang hanya dapat berdiam menatap bulan.
Saat di halaman jantungku ada tapak kakimu
sedang mengejar perempuan-perempuan pujaanmu.
|
Lalu esok kau akan bisikkan di telinga mereka
dongeng malammu tentang pengkhianatanku padamu
seperti yang selalu kau bisikkan padaku pada tiap dini hari kita
Menerkam kebodohanku hingga aku terperosok pada lubang cinta ini.
| Pain |
Ketika angin tak berhasil menghapus jejak suaramu
kau sudah pergi jauh dan semua tentangmu masih tertinggal di sini.
Dongeng tentang deritamu yang membuatku masih menangis untukmu.
Juga dongeng tentang rindumu dan aku masih bersenggama dengan malam.
-MH-
|Ilustrasi by Janet Forsythe|
Aku masih mencari jejakmu di antara ribuan pijar lampu di kejauhan
Dan kau segera berlari bersembuyi dalam belahan lain,
saat aku berkata tentang kesungguhan

Kok tambahannya bikin aku emosi ya mbak? Ckckckck…
Heh, jangan emosilah,,,
Sabar,,, sabar,,, sabar,,,
Baca juga di blog yg yahut punya
http://thedarknessofsatire.blogspot.com/2011/12/belahan-lukanya-jiwa.html
http://thedarknessofsatire.blogspot.com/2011/12/belahan-lukanya-jiwa.html