Wanita Jalang

Akulah wanita jalang,
menerjang kerikil berduri di sela langkahmu.
Akulah mata penggoda,
kala kau hirup angin surga pembunuh dahaga.
Dan akulah cermin berdusta,
di saat kau lupa bertanya siapa diriku dalam tatap liarmu.

Akulah Mawar Hitam,
sehitam yang ingin kau puaskan dalam pandangan.
Bermainlah dengan telanjang kelopakku, puaskan ragamu,
dan bercumbulah dengan pandangan akan hitam dan legam diriku.
Kemudian bercerminlah pada darah kepuasan yang melumuri kulit birahimu,
lalu bacalah diktat cinta di dalam hitamku,
‘kan ku hantar segenggam rasa untuk kau baca, di sana ada belahan makna, yang dapat menghentikan nafasmu.
~~~~~

Amora menatap suaminya tak percaya. Kemarahan tak dapat lagi disembunyikan dari wajah yang masih sangat dicintainya itu. Tak ada lagi kelembutan di sana, seperti ketika mereka mengikrarkan janji untuk saling mengerti dan menjaga perasaan masing-masing. Yang ada di wajah itu hanya kemarahan dan mungkin kebencian. Atau bahkan penyesalan. Rumah yang dibangunnya bersama suaminya tercinta kini terlalu penuh dengan pertengkaran. Semakin hari semakin memanas. Tak ada lagi kalimat lembut dan menyejukkan.
“Sabarlah Mas,” kata Amora berusaha lembut.
“Sabar kamu bilang? Sudah dua tahun lebih kita menikah dan sampai sekarang kamu belum melahirkan seorang anak pun untukku. Masih kurang sabar? Bahkan hari ini menjelang tahun ke tiga.”
“Aku tidak merencanakan dan menginginkan seperti ini Mas, kau tahu itu. Tapi semua sudah diatur olehNya.”
“Basi! Pembelaan diri yang basi.”

Lalu meninggalkan Amora begitu saja. Yang masih memandangnya dengan lembut. Hatinya berbisik lembut, menuangkan kepedihan pada yang Agung, mohon pengampunan untuk dirinya dan suami tercinta. Angin malam menemaninya dalam naungan takbir indah dalam hati. Nyanyian surgawi mengalunkan nada kepasrahan tiada henti. Hitamnya malam mendengarkan, semakin pekat, lalu diam dan dingin, menghantar sunyi.
~~~~~

Hari itu panas dan sangat menyengat, namun mendadak menjadi mendung, semakin gelap, kemudian hujan. Amora menatap sejenak ke kantin yang penuh, lalu meneruskan langkahnya ke luar gedung perkantoran. Dengan berlari kecil diseberanginya jalan yang agak sepi. Berjalan cepat memasuki sebuah rumah makan kecil di seberang jalan.

Dipesannya menu makan siang ringan dengan juice jambu, lalu duduk menunggu. Tak lama pelayan datang dan menyajikan makanan dengan sopan. Amora terlihat tidak bernafsu menyuapkan makanan ke mulutnya. Matanya menerawang pada kejadian demi kejadian yang menerpanya. Di rumah serasa di neraka. Masalah selalu kembali pada topik yang sama. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari pernikahan yang tadinya diharapkannya akan membawa warna indah.

“Radik,” tiba-tiba seorang lelaki sudah berdiri di depannya dan menyodorkan tangannya.

Terkejut, Amora meletakkan sendoknya perlahan di piring, mengelap mulutnya lalu menyambut tangan kekar itu dengan ragu.
“Amora.”

Matanya meneliti lelaki kekar yang berdiri di hadapannya. Mendekati sempurna adalah penilaian yang dipilihnya. Lalu mempersilahkan lelaki itu duduk di depannya.
“Sendiri?” tanya Radik ringan.
“Ya, kebetulan kantin di kantor penuh, jadi makan di sini saja.”
“Boleh kutemani?”
“Oh, silahkan. Ini tempat umum Mas, jadi bebas saja.”
“Bebas?”
“Ya, kenapa? Siapa saja boleh makan di sini kan?”
“Apa ini bukan kalimat mengundang?”
“Maksudnya?”
“Aku bisa bebas bersamamu.”
“Saya tidak mengerti.”
“Jangan pura-pura.”
“Pura-pura?”
“Ya. Kau pura-pura tidak mengerti,” mengedipkan matanya.
“Nah, saya semakin tidak mengerti,” tertawa.
“Ayolah. Dengan penampilanmu seperti ini, makan sendirian, lalu menawarkan kebebasan.”
“Kenapa dengan penampilan saya?”

Amora menatap tajam pada lelaki yang sedang tersenyum menggoda di depannya. Lelaki itu menelusuri tubuhnya dengan pandangan seolah ingin menerkam. Seketika rasa kagumnya pada lelaki itu sirna terganti oleh amarahnya yang meluap.
“Aku suka gayamu.”
“Terima kasih.”
“Aku juga suka bibirmu.”
“Terima kasih juga.”
“Dan tubuhmu.”

Leher Amora tercekat. Dadanya bergemuruh oleh luapan api murka, namun bibirnya tetap tersenyum. Hatinya berbisik pada sang Pecinta, kata apa yang hendak diucapkannya, di mana amarah hendak disimpannya. Apa yang telah dilakukannya hingga bertemu dengan orang seperti ini. Itulah yang ada di dalam pikiran Amora. Marah, bingung, tidak mengerti.
“Kenapa diam?”
“Jadi untuk ini kita berkenalan?”
“Kau pikir untuk apa Amora?”

Amora menundukkan kepalanya. Hatinya bergemuruh seramai ‘About A Girl’ yang dilantunkan Nirvana dari dapur restoran tempat mereka duduk. Dihiburnya hatinya agar tak menyemburkan kata amarah. Ditatapnya lagi lelaki di depannya dengan lembut.
“Maaf, saya sudah selesai makan dan mau kembali ke kantor.”
“Nantilah, kan masih hujan.”

Radik memegang tangan Amora, menggenggam dan mengusapnya perlahan. Menelusuri tubuh wanita itu dengan mata memerah, memuaskan pandangan dan keinginan matanya.
“Temani aku menikmati udara dingin ini sayang.”
“Kau sudah punya istri tentunya.”
“Ya, tapi aku ingin bersamamu, menikmati keindahan tubuhmu.”
Amora menelan rasa jijik dan amarahnya, memegang jemari lelaki itu, lalu menatapnya dengan lembut.
“Aku hanya seonggok daging sayang, kenikmatan yang akan kau dapatkan dari tubuhku ini hanyalah sesaat.”
“Aku ingin bertukar kehangatan denganmu.”

Radik membasahi mulutnya, menelan ludah, melahap Amora dengan tatapan nanar. Tangannya semakin erat meremas jemari Amora.
“Pulanglah, peluk istrimu dan berikan kehangatan itu padanya. Karena dia juga kedinginan tentunya.”
“Kulitmu yang halus, bibirmu menggairahkan.”
“Dan pandanglah keseluruhan istrimu dengan cinta, akan kau temukan yang kau cari.”
“Kenapa kau menolakku?”

Amora tidak menjawab, mengemasi barangnya, meninggalkan uang pada pelayan yang datang membawa tagihan, lalu melangkah keluar dari rumah makan. Tak dihiraukannya Radik yang masih menatapnya dengan senyum menggoda. Berlari kecil menyeberangi jalan, membuang amarah pada rintik hujan yang semakin rapat.
~~~~~

Amora memarkir mobilnya sembarangan di garasi. Senyum bahagia tak dapat disembunyikannya dari wajahnya. Ingin segera dijumpainya suami tercinta dan ingin dinikmatinya raut wajah suaminya saat mendengar berita yang akan disampaikannya. Dengan terburu-buru Amora setengah berlari memasuki rumahnya.
“Mas. Aku datang.”

Amora melihat suaminya tidak ada di ruang tamu, lalu dicarinya ke ruangan lain tak juga ditemukannya suaminya. Lelah mencari Amora segera meletakkan tas kerjanya di ruang tengah dan melangkah ke kamar tidurnya. Di depan jendela suaminya sedang duduk memandang ke luar. Bintang di langit memang sedang indah berkerlip dan Amora segera tersenyum ingin memanfaatkan suasana remang.

Diletakkannya sampul surat keterangan dari rumah sakit di meja sudut lalu dihampirinya suaminya. Dengan lembut dipeluknya lelaki itu dari belakang, ingin mengabarkan berita gembira yang telah lama mereka tunggu. Betapa terkejut Amora ketika tiba-tiba suaminya dengan kasar berbalik dan menyentakkan tubuhnya. Belum selesai Amora meraba suasana yang sedang dihadapinya, tiba-tiba suaminya mendekat dengan wajah murka, dan Plak…!

Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Amora. Seketika perempuan itu terjerembab ke belakang. Dengan berlinang airmata, perlahan Amora bangun berdiri, lalu mengusap darah yang merembes keluar dari hidungnya. Hati dan cintanya menangis. Namun ditatapnya suaminya dengan lembut.
“Berikan alasan mengapa Mas menghukumku dengan pukulan ini?”
“Wanita jalang!”
“Begitukah kau memandangku Mas?”
“Sebutan apa yang lebih pantas untuk seorang istri yang berbuat mesum dengan lelaki lain?”
“Berbuat mesum?”
“Ya. Siapa lelaki itu?”
“Oh, Mas melihat kami berdua ya tadi siang.”
“Ya. Dan sekarang kamu pulang larut malam.”
“Aku bekerja Mas.”
“Menjajakan tubuhmu?”

Amora menatap suaminya tanpa dapat berkata apa-apa. Jeritan hatinya semakin menutup jendela cinta, namun bisikan halus di bilik hatinya yang lain menenangkan amarah dan kecewanya.
“Aku baru mengenalnya Mas.”
“Ya. Dan kamu langsung menawarkan tubuhmu untuk dinikmatinya.”

Amora menatap punggung suaminya berlalu meninggalkannya sendiri di kamar yang tiba-tiba menjadi semakin panas itu. Tak ada kesempatan untuknya menjelaskan, tak ada lembaran untuknya membela diri. Dan tak ada keinginan di hatinya untuk meraihnya. Diam-diam dilihatnya dari jendela yang masih terbuka menatap langit, suaminya melaju dengan kencang ke luar garasi dan menghambur semakin jauh pada gelap malam.
~~~~~

Tengah malam Amora terbangun oleh suara isakan tertahan. Perlahan dibukanya matanya, mencari arah suara. Dilihatnya suaminya duduk dengan mendekap wajahnya menghadap jendela. Amora menatapnya keheranan, lalu dihampirinya suaminya. Ragu-ragu, Amora hanya menatap suaminya dari belakang. Sakit di hidungnya sudah tak terasa, tertutup sakit di dalam dadanya. Perlahan Amora kembali menenggelamkan diri di bawah selimut.

Matanya kembali terpejam, namun hatinya terjaga.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis seperti itu?” bisik Amora dalam hatinya yang masih terasa memar, “Ya Tuhan, sedemikian kecewa suamiku dengan tak adanya anak di dalam kehidupan kami. Jika aku tak pernah dapat melahirkan seorang anak pun untuknya, apa kira-kira yang akan dia lakukan padaku Tuhan?”

Amora semakin tenggelam dalam pekatnya selimut yang semakin menutupi wajahnya. Tak didengarnya lagi isakan suaminya setelah pedihnya terbawa arus mimpi. Lalu terbangun esok harinya, menemukan pagi yang seharusnya cerah, Amora mendapati suaminya tak ada lagi di kamarnya, juga di ruangan lain di rumah sepi itu. Dengan lesu dilaluinya pagi itu sendiri dan diam.

Kemudian melaju perlahan di antara pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor di tengah arus lalu lintas yang masih belum begitu padat. Mobil suaminya sudah tak ada lagi di garasi. Lamunannya berakhir di pelataran parkir.

Belum sampai Amora memarkir mobilnya, dilihatnya suaminya sudah berdiri bersandar di mobilnya tak jauh dari tempatnya memarkir mobil. Matanya sembab, penampilannya pun semrawut, tampak sekali suaminya belum menjamah air kamar mandi. Amora memarkir mobilnya, mengunci pintunya lalu melangkah mendekati suaminya. Ditatapnya lelaki itu sejenak, lalu dialihkannya pandangan pada mobil yang disandarinya.
“Berapa hari nih mobil nggak dicuci Mas?”

Suaminya tak menjawab, menarik tangannya ke dalam pelukannya. Amora kebingungan tak tahu harus berkata apa. Sejenak angannya kembali pada bekas pukulan yang masih terasa nyeri di wajahnya. Ditatapnya lelaki itu setelah melepaskan pelukannya.
“Maafkan aku,” kata suaminya dengan wajah murung.
Matanya memelas memohon maaf pada Amora yang masih bimbang.
“Mengenai apa ini Mas?”
“Aku benar-benar minta maaf Amora. Aku memang laki-laki tak punya perasaan. Egois.”
“Sebentar. Kalau mengenai pukulan itu, aku sudah memaafkanmu Mas. Tak perlu sampai tak pulang begini.”
“Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku Amora? Kenapa?”

Kembali suaminya menangis dan memeluknya. Amora semakin haru dibalut kebingungan, entah apa belum dapat dirabanya ke mana arah topik pembicaraan suaminya.
“Apa yang harus kuceritakan Mas?”
“Malam itu, sepulang dari kantor, kamu ke mana hingga sampai rumah larut malam?”

Amora menundukkan kepalanya. Kesedihannya adalah suaminya masih belum dapat mempercayainya mengenai Radik yang tak sengaja dia temui di rumah makan itu. Tapi kelelahan membuatnya harus berkata jujur.
“Aku ke dokter Mas.”
“Lalu?”
“Aku mengambil hasil test laboratorium dan langsung periksa ke dokter kandungan.”
“Lalu?”
“Aku hamil.”

Lelaki itu semakin berurai airmata. Dipeluknya istrinya dengan penuh penyesalan. Dibelainya rambut dan wajah istrinya dengan lembut. Sorot matanya masih menyimpan penyesalan.
“Kenapa kamu tak mengatakannya malam itu? Kenapa Amora? kenapa kau biarkan aku dibalut emosi?”
“Malam itu aku pulang mencari Mas, untuk melaporkan hal ini. Tapi Mas sudah keburu membahas yang lain.”
“Maafkan aku Amora, maafkan aku. Kini aku bahagia sekaligus sedih. Semalaman aku berada di sini menunggumu.”
“Mas sudah tahu ini dari semalam?”
“Ya. Aku tak sengaja membaca hasil laboratorium itu di meja, tapi kulihat kamu sudah tidur, jadi tak kubangunkan.”

Dengan penuh airmata pula Amora mencium tangan suaminya, lalu memeluknya erat. Angin menghantarkan hangatnya dalam sinar mentari pagi. Tak ada satu pun makhluk pagi yang tega mengganggu mereka.*****

by Kit Rose

Ilustrasi Image Google
————————————————————————————————————–
Biarkan waktu berjalan meniti kebenaran, dan jangan memanaskan api dengan bara. Jika kau ingin aku menangis, akan kuberikan air mata cinta untukmu, agar kau dapat menyatukan hati yang terburai oleh duka yang kau buat.

21 responses to “Wanita Jalang

  1. lagi…lagi… mawar…
    ko bisa sih bikin tulisan kaya gini..???
    enak anx bacanya…!!
    muzti gmn ya… senang apa sedih..?? *bingung*
    yg jelas kl anx jd suaminya… hmmmmp..
    sangat-sangat menyesaL…!! emosi yg diduluin..
    but…… over all nice story..!!
    enak happy ending … hehehe…
    jd tiga yg anx suka cerita ini, batu cinta sama yg winona..

    • Waduh Anx, pertanyaanmu byk bgt, hahahaha
      Tapi tks berat ya, dah lama ga OL nih.

      Tidak suka Radik? Jelas krn sdh punya suami, yg utama, krn Radik ternyata memandang Amora hanya karena nafsu, bukan dg niat yg tulus untuk berteman.
      Wanita Jalang? Hanya untuk mengingatkan saja, jangan sembarangan mengucapkan kata itu. Karena blm tentu maknanya sesuai dg yg ada dlm kalimat saat mengucapkannya.

      Kira2 begitu Anx, sudah cukupkah,,,?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s